Duh, Sulitnya Lepas dari Ponsel

Duh, Sulitnya Lepas dari Ponsel

- detikInet
Jumat, 23 Mei 2014 09:29 WIB
Ilustrasi (gettyimages)
Jakarta -

"Lebih baik ketinggalan dompet, ketimbang ketinggalan ponsel". Zaman sekarang seringkali kita mendengar celotehan seperti itu. Dan ini benar adanya, bukan pepesan kosong.

Ketergantungan pengguna terhadap ponsel memang semakin tinggi. Jangankan di negara maju, di negara berkembang seperti Indonesia, fenomena ini benar-benar telah terjadi.

Dalam sebuah survei yang digelar lembaga riset Sharing Vision menyebut, dari sebanyak 72 responden yang diteliti, ada 27% yang mengaku menghabiskan waktu 1-3 jam bermain dengan ponsel per hari.

Lebih gilanya lagi, 11% responden mengaku sampai lebih dari 10 jam tenggelam di layar ponsel dalam sehari, sedangkan 25% lainnya menghabiskan 3-5 jam per hari.



"Ini kan sudah edan. Ponsel jadinya menempel terus. Sedikit-sedikit cek status," kata Chairman Lembaga Riset Telematika Sharing Vision Dimitri Mahayana.

Seperti kata pepatah, apa-apa yang berlebihan tentu tak bagus juga. Nah, begitu juga dengan perilaku kecanduan ponsel ini.

Dalam riset tersebut lebih lanjut disebutkan, di antara berbagai manfaat positif yang diterima, sebagian besar pengguna ponsel juga menyatakan bahwa mereka merasakan dampak negatif, di antaranya:
–. Terganggunya waktu berkumpul dengan keluarga dan teman.
–. Terganggunya waktu istirahat.
–. Menggunakan smartphone pada saat mengemudi.
–. Menerima konten porno, konten berbau SARA.
–. Terganggunya kesehatan.



"Jadi kalau dulu harapannya ponsel untuk mendekatkan yang jauh malah ini terbalik, menjauhkan yang dekat," lanjut Dimitri.

Meski demikian, Dimitri yang juga dosen di ITB ini tak menampik jika ponsel memiliki banyak manfaat, di antaranya:
–. Membuat bertelekomunikasi menjadi lebih murah.
–. Membuat kehidupan semakin kaya , dengan adanya berbagai aplikasi.
–. Membuat penyebaran informasi menjadi lebih cepat.
–. Membuat konvergensi layanan telekomunikasi dan informasi menjadi lebih cepat.
–. Mempererat silaturahmi keluarga maupun berbagai komunitas.

Namun yang harus diingat adalah, penggunaan perangkat komunikasi ini tak perlu sampai berlebihan, semua ada batasnya.



(ash/ash)