Alkisah Negeri Media Sosial

Kolom Telematika

Alkisah Negeri Media Sosial

- detikInet
Kamis, 27 Mar 2014 11:26 WIB
Dimitri Mahayana (dok. pribadi)
Jakarta - Sejak pertama populer di Indonesia terutama oleh Friendster dan Facebook tahun 2005-2008, hingga sekarang bertambah dengan Instagram, Twitter, dan Path, Indonesia memang sangat layak menyandang status sebagai negeri media sosial. Negara yang sangat suka dan aktif di medium tersebut.
 
Berbagai data tak terbantahkan, bahwa pengguna media sosial di negara kita yang notabene negara berkembang, jauh lebih aktif dan masif dibandingkan para pengguna di negara maju. Bahkan, anak bangsa kita pun sudah tercatat menjadi salah satu elemen pemilik media sosial populer (baca: Path).

Ini memang fenomena, yang di mata penulis, tidak sebegitu mengejutkan. Dengan karakter masyarakat kita yang sosial, senang berbagi, hobi eksis condong ke narsis, dan tidak begitu concern dengan isu privasi, maka media sosial menjadi medium komunikasi yang sangat representatif.

Karena itulah, mengacu pada survei yang kami lakukan tahun lalu kepada 151 responden, didapatkan data bahwa tingkat penggunaanya demikian tinggi --untuk tidak menyebut adiksi. Hampir 40% responden sudah tak bisa lepas dari media sosial tiap harinya, dengan intensitas penggunaan lebih dari 2 kali per hari.

Hanya 20,1% yang mengaku mengakses media sosial hanya 1 kali dalam satu hari. Kita bisa melihat betapa masyarakat sudah sulit lepas, terutama dari media sosial terpopuler yakni Facebook dan Twitter (90% lebih), serta selanjutnya diikuti Google+, Instagram, dan Path (lihat tabel 1).


Tabel 1: Penggunaan Jejaring Sosial di Indonesia Tahun 2013.

Pertanyaannya kemudian, apakah habit masyarakat Indonesia ini, jika ditilik dari perspektif keamanan teknologi informasi, sudahkah memadai? Ataukah seperti diperlihatkan banyak peristiwa di Indonesia, masih banyak celah, yang sebenarnya bisa membahayakan kita semua?

Sekurang-kurangnya jika menggunakan riset serupa yang kami miliki, 49,7% responden mengaku pernah mengalami masalah saat menggunakan media sosial. Hal ini dirasakan cukup mengganggu kenyamanan dan tergolong tinggi untuk sebuah tingkat komplain aplikasi (simak tabel 2).

Di sisi lain, Indonesia dalam beberapa tahun terakhir memang menjadi sasaran utama serangan cyber dunia. Hal ini wajar jika kita mengingat potensi pengguna internet kita masih sangat luas, yang eksisting pun masih banyak yang belum memiliki literasi teknologi informasi tinggi.

Mereka yang sudah terbiasa pun kadang seperti terkena euforia, akibatnya jadi kurang tertib saat menggunakan media sosial, serangan siber pun terjadi. Sekaliber pejabat publik di negeri ini (yang memiliki tingkat pendidikan memadai) sudah banyak yang nyata terkena serangan tersebut.

Simak data Kementerian Kominfo tahun 2013 yang menyebutkan dalam kurun 3 tahun terakhir periode 2011-2013, telah terjadi serangan 36,6 juta kali atau serangan nyaris 42.000 kali setiap harinya. Ini juga yang membuat kita berada dalam posisi kedua sebagai negara beresiko di internet (simak tabel 3).


Tabel 2: Negara Paling Beresiko dan Aman di Internet
 

Tabel 3: Negara Paling Beresiko dan Aman di Internet
 
Maka, dengan melihat hasil riset kami yang dipadupadankan perilaku faktual mayoritas pengguna serta data statistik lokal dan global terbaru, jelaslah terdapat minimal celah serta maksimal potensi laten ancaman bagi masyarakat Indonesia sebagai pengguna heavy media sosial.

Bagaimana Supaya Aman?

Kini, menjadi perhatian kita bersama bahwa media sosial tetap bisa kita nyaman gunakan tanpa terpapar celah, apalagi potensi laten tersebut. Apa yang harus dilakukan? Bagaimana memastikan bahwa kita hanya menerima sisi positif sebuah media sosial dibandingkan efek negatifnya?

Ada sejumlah langkah utama menurut hemat penulis. Yang utama adalah jangan pernah terlalu umbar data pribadi. Betul memang kita perlu eksis, bahkan sesekali narsis -- ingat foto selfie Barrack Obama? Namun ingatlah peretas banyak bergerak dari data pribadi yang terlalu diekspos, misal tanggal lahir, nomor telepon, alamat, dst.
 
Akan lebih bijak dan aman jika kita selektif membagikan data personal. Sepengetahuan penulis, masing-masing media sosial menawarkan fitur proteksi semacam itu, misalnya di Facebook, kita bisa masuk fitur “Profile Settings” dan kustomisasi semua rincian pribadi di status kita.

Beberapa kejadian peretas bisa merebut akun untuk kemudian misalnya --sebagai modus tersering-- yakni menjual gadget murah dari Batam/ barang menarik lain harga miring, sebab mereka menebak-nebak password dengan mengacu tanggal lahir, nama anak, nama istri, dst, yang kita pajang.

Secara paralel, buatlah kata sandi tersulit yang pernah ada namun tidak juga merepotkan kita. Paling bagus adalah memadukan huruf dan angka atau huruf, angka, dan simbol. Sebaiknya pula jangan pajang alamat email kita di Facebook. Bagi peretas, alamat ini malah bisa menjadi pembuka jalan.

Kita pun harap berhati-hati dengan menginformasikan aktivitas pribadi kita ke dalam status. Sudah ada beberapa kasus nyata, tindak kriminal seperti pencurian, yang terjadi akibat seseorang memperbarui time line-nya dengan menuliskan sedang sendirian di rumah, contohnya.

Selanjutnya adalah jangan mudah terprovokasi dengan berbagai tautan yang tidak jelas. Kita kerap penasaran dengan link berita/aplikasi/game yang nampak sangat heboh (eye catching) namun setelah diklik, ternyata proses phising atau scamming tengah dilakukan sindikat serangan cyber.
 
Untuk itulah, pastikan menahan dan menjaga diri. Sekiranya memang tertarik pada konten semacam itu, misalnya game, pastikanlah hanya memainkan aplikasi resmi yang sudah bekerjasama dengan pemilik media sosial dan penggunanya banyak seperti Candy Crush Saga, dst.

Terakhir, jangan pernah teledor pada hal kecil. Kadang karena kita terburu-buru, lupa log out akun media sosial dan akhirnya kerugian langsung menyergap, terutama jika prilaku ceroboh ini kita lakukan pada sarana internet publik seperti di bandara atau warnet.

Padahal jika Anda sering lupa log out, ada tips yang bisa dilakukan, misalnya mengaktifkan menu “Active Sessions”, sehingga kita bisa mengendalikan dari manapun untuk keluar dari akun tersebut. Sesungguhnya, pengelola media sosial sudah mengantisipasinya, tinggal kita utilisasikan.

Akhir kata, sekali lagi, mari pastikan kita hanya menerima sisi positif sebuah media sosial dibandingkan efek negatifnya dengan menjaga prilaku kita saat berselancar di media sosial. Marilah selalu waspada dan jangan mudah terprovokasi. Selamat mencoba.

* Penulis, Dr. Dimitri Mahayana merupakan Chairman Lembaga Riset Telematika Sharing Vision/www.sharingvision.com.

(ash/ash)