Jumat, 29 Agu 2014 11:17 WIB

Mengenal Jurus 'Hunger Marketing' ala Xiaomi

- detikInet
Jakarta - Di balik kesuksesan Xiaomi menjual ribuan unit ponsel dalam waktu singkat, ada cibiran terkait strategi hunger marketing yang dituding diadopsinya. Hmm... Jurus apa itu?

Menurut situs Wallrich yang detikINET kutip, hunger marketing adalah cara suatu pengelola/perusahaan membawa produknya ke pasaran dengan harga menarik untuk memikat pelanggan potensial, kemudian membatasi pasokannya.

Pembatasan pasokan ini membuat rasa penasaran di pasar, sehingga permintaan naik. Ketika permintaan semakin naik, pengelola produk itu dapat menaikan harga dan tentu saja menghasilkan keuntungan yang lebih tinggi.




Hunger Marketing ini memberikan dua efek utama bagi pemegang merek, bukan hanya dapat menaikkan harga, tetapi juga menciptakan nilai tinggi untuk merek dalam rangka menaikkan citra si merek tersebut.

Bagi Xiaomi, hunger marketing yang mereka terapkan bisa menimbulkan pro dan kontra. Maksudnya, merek Xiaomi memang ditoleh namun kemudian ada kontroversi juga mengiringinya.

Buktinya, Taiwan Fair Trade bakal menghukum Xiaomi lantaran kampanye 'hunger marketing' yang dilakukannya. Vendor asal China ini dituding melebih-lebihkan penjualan produknya sehingga tampak berharga dan sulit ditemukan.

Taktik dagang yang dilakukan oleh Xiaomi ini tidak dibenarkan, dan pihak komisi perdagangan Taiwan memberi ancaman denda USD 20 ribu.

Setidaknya ada dua vendor ponsel yang mengadopsi ini, Xiaomi dan Apple. Dan keduanya berkaitan erat.

Namun demikian, tidak semua vendor ponsel setuju mengadopsi hunger marketing. Kompatriot Xiaomi, Lenovo malah mengkritik cara penggunaan strategi tersebut.

Menurut Wei Jianglei, Vice President Lenovo Group, cara hunger marketing tidak bisa membantu perusahaan untuk mendapatkan hasil yang kompetitif. Apalagi, ketika pasar sedang jenuh, startegi ini sejatinya tidak bisa diterapkan.

Karena semakin banyak produk yang diluncurkan di pasar China, strategi hunger marketing tidak akan lagi bekerja dengan baik. Merek ponsel akan bergantung pada kekuatan keseluruhan ponsel mereka sebagai produk-produk berkualitas dan itu yang akan selalu memenangkan konsumen.

(tyo/ash)