Minggu, 18 Jul 2010 11:05 WIB

Steve Jobs: Wajar iPhone 4 Alami Masalah Sinyal

- detikInet
Jakarta - Bos Apple Steve Jobs dalam konferensi persnya menolak pendapat yang menyatakan keseluruhan desain iPhone 4 cacat. Menurutnya, masalah penerimaan sinyal umum dialami semua industri smartphone. 

"Produk Apple memang tidak sempurna dan semua smartphone memiliki kekurangan," kata Jobs pada konferensi pers yang berlangsung selama 90 menit di kantor pusat Apple.

Jobs juga menyertakan beberapa nama industri smartphone yang menjadi rivalnya seperti Research in Motion (RIM), Samsung Electronics dan HTC juga mengalami masalah ini. Demikian keterangan yang dikutip detikINET, Minggu (18/7/2010).

Menurutnya, antena pada iPhone 4 yang diributkan saat ini bukanlah masalah yang harus diperbaiki Apple. "Kami cukup senang dengan desain antena dan tidak merasa bahwa antena menjadi masalah yang harus diperbaiki," tegasnya.

(rns/rns)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed
  • Xiaomi Siapkan Tiga Ponsel Anyar?

    Xiaomi Siapkan Tiga Ponsel Anyar?

    Minggu, 16 Des 2018 17:26 WIB
    Tiga ponsel anyar Xiaomi dilaporkan telah mendapat sertifikasi dari China Compulsoru Certificate. Diperkirakan, trio tersebut tergabung kendalam lini Redmi 7.
  • Twitter Hapus Ratusan Ribu Akun Terorisme

    Twitter Hapus Ratusan Ribu Akun Terorisme

    Minggu, 16 Des 2018 16:05 WIB
    Twitter baru saja meluncurkan laporan transparansinya untuk enam bulan pertama tahun 2018 salah satunya mereka telah menghapus akun terkait terorisme.
  • Fitur Connect Apple Music Dimatikan

    Fitur Connect Apple Music Dimatikan

    Minggu, 16 Des 2018 08:09 WIB
    Di layanan Apple Music ada fitur media sosial layaknya Twitter, Facebook atapun Instagram yang dinamai Connect. Sayangnya umurmnya akan tamat di tahun 2019.
  • SoftBank Tak Lagi Pakai Huawei

    SoftBank Tak Lagi Pakai Huawei

    Minggu, 16 Des 2018 06:52 WIB
    Bisnis perlengkapan jaringan Huawei diterpa badai, di tengah kecurigaan Amerika Serikat (AS) dan sejumlah negara lain menduganya melakukan praktik mata-mata.