Disney membuat gebrakan besar di industri perfilman global. Tanpa membangun bioskop baru atau menghadirkan teknologi proyeksi anyar, raksasa hiburan ini resmi memperkenalkan Infinity Vision, sebuah sertifikasi layar premium yang langsung disebut-sebut sebagai penantang serius IMAX.
Pengumuman ini disampaikan di ajang CinemaCon 2026 pada 16 April 2026. Alih-alih menciptakan teknologi baru, Disney justru mengambil pendekatan berbeda, memberi "label" premium pada layar bioskop yang sudah ada di berbagai jaringan besar dunia.
Infinity Vision akan hadir di sekitar 75 layar premium di Amerika Serikat dan lebih dari 300 layar global. Layar-layar ini bukan barang baru-mereka adalah auditorium premium milik jaringan besar yang sebelumnya sudah menggunakan proyeksi laser dan audio imersif.
Dipicu 'Dominasi' Dune di IMAX
Di balik pengumuman ini, ada dinamika menarik di industri. Film ketiga dari waralaba Dune dikabarkan sudah lebih dulu mengamankan slot layar IMAX untuk akhir tahun 2026, bahkan sejak tahap preorder.
Langkah ini membuat layar IMAX-yang jumlahnya terbatas di seluruh AS-praktis "dikunci" untuk penayangan Dune. Dampaknya, film besar Disney seperti Avengers: Doomsday terancam tidak mendapatkan slot IMAX yang cukup saat rilis.
Situasi ini menjadi pukulan bagi Disney, mengingat film Marvel sangat bergantung pada layar premium untuk memaksimalkan pendapatan. Dari sinilah Infinity Vision muncul-sebagai solusi sekaligus strategi balasan.
Bukan Teknologi Baru, Tapi Standar Baru
Dilansir laman Deadline, secara teknis Infinity Vision tidak menawarkan inovasi perangkat keras baru. Standarnya mencakup layar besar, proyeksi laser untuk kecerahan tinggi, serta sistem audio premium yang sudah umum di bioskop modern.
Namun dengan menambahkan branding Infinity Vision, Disney berhasil menciptakan alternatif pengalaman menonton sekelas IMAX-tanpa harus membangun atau membeli teknologi baru. Bagi penonton, pengalaman tetap terasa premium: layar luas, gambar tajam, dan suara imersif. Bedanya, kini label yang muncul bukan lagi IMAX, melainkan Infinity Vision.
Langkah ini dinilai langsung menyasar kekuatan utama IMAX: brand. Selama ini, IMAX menjadi pilihan utama untuk film epik seperti Dune, yang memang dirancang untuk layar raksasa.
Model bisnis IMAX sendiri mengandalkan sistem bagi hasil dari setiap tiket yang terjual. Dengan Infinity Vision, Disney mencoba menggeser model tersebut-memberikan alternatif bagi bioskop untuk tetap menjual tiket premium tanpa harus berbagi pendapatan.
Bagi jaringan bioskop global, strategi ini sangat menggiurkan. Mereka sudah berinvestasi besar untuk membangun auditorium premium. Dengan Infinity Vision, mereka bisa memaksimalkan pendapatan tanpa perlu membayar fee ke IMAX.
Artinya, margin keuntungan meningkat-terutama saat memutar film blockbuster Disney yang selalu menarik penonton dalam jumlah besar.
Momentum Avengers Jadi Senjata
Disney akan mulai menggunakan Infinity Vision pada rilis ulang Avengers: Endgame pada September 2026, lalu dilanjutkan dengan Avengers: Doomsday pada Desember 2026.
Dengan tidak mendapat slot IMAX akibat dominasi Dune, Infinity Vision menjadi "jalan keluar" agar film Marvel tetap bisa tampil dalam format premium di banyak layar sekaligus.
Langkah Disney ini berpotensi mengubah peta industri bioskop global. Jika berhasil, Infinity Vision bisa menjadi standar baru yang tidak bergantung pada teknologi eksklusif, melainkan kekuatan brand dan konten.
Bagi penonton Indonesia, ini membuka peluang pengalaman menonton ala IMAX menjadi lebih luas. Artinya, menikmati film epik seperti Dune atau Avengers ke depan tidak harus selalu bergantung pada IMAX.
Simak Video "Video Kala Thor Bersimpuh dan Berdoa di Cuplikan 'Avengers: Doomsday'"
(afr/afr)