Intel Rugi Rp 6,7 Triliun Gara-gara Kondisi Ekonomi Global

Intel Rugi Rp 6,7 Triliun Gara-gara Kondisi Ekonomi Global

ADVERTISEMENT

Intel Rugi Rp 6,7 Triliun Gara-gara Kondisi Ekonomi Global

Anggoro Suryo - detikInet
Selasa, 02 Agu 2022 10:15 WIB
The logo of Intel is seen during the annual Computex computer exhibition in Taipei, Taiwan June 1, 2016. REUTERS/Tyrone Siu
Foto: Reuters/Tyrone Siu
Jakarta -

Dalam laporan keuangannya yang terbaru, Intel mencatatkan penurunan pemasukan sebesar 22%, yang berakibat pada kerugian sebesar USD 454 juta atau sekitar Rp 6,7 triliun.

Dalam laporan keuangan Q2 tahun fiskal 2022 tersebut, pemasukan Intel merosot 22% menjadi USD 15,3 miliar. Sementara angka kerugian USD 454 juta itu merupakan penurunan yang sangat besar dibanding periode yang sama pada 2021 lalu, di mana Intel mencatatkan keuntungan USD 5 miliar.

Penurunan ini menurut Intel disebabkan oleh melemahnya permintaan PC dan komponennya yang terjadi karena penurunan aktivitas ekonomi. Penurunan ini terasa sangat drastis karena dalam beberapa tahun terakhir, bisnis komputer mengalami peningkatan yang drastis, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Selasa (2/8/2022).

Peningkatan tersebut terjadi karena pandemi, di mana banyak orang membeli komputer untuk bekerja di rumah. Hal tersebut membuat banyak perusahaan teknologi mencatatkan rekor keuntungan. Namun kini masa emas itu sudah berakhir, dan Intel memprediksi pasar PC akan menyusut 10% pada tahun 2022 ini.

Bagi Intel, kondisi ini mungkin akan lebih berat karena mereka harus menanggung biaya produksi yang terus meningkat. Alhasil mereka pun sudah mengumumkan rencananya untuk menaikkan harga banyak chip buatannya, dari mulai prosesor, chip WiFi, dan berbagai chip lainnya.

Kenaikan harga chip Intel ini mungkin baru akan terlihat dampaknya pada Q4, di mana CFO Intel David Zinsner menyebut mereka saat ini mengalami kerugian akibat biaya produksi yang melesat, sehingga biaya tersebut harus dibebankan ke konsumen.

Jika laporan keuangan Intel ini dipecah, pemasukan dari Client Computing Group -- prosesor kelas consumer ada di dalamnya -- mengalami penurunan pemasukan sebesar 25% year over year, namun masih mencatatkan keuntungan sebesar USD 1,1 miliar.

CEO Intel Pat Gelsinger mengklaim kalau salah satu konsumen terbesarnya tengah mengurangi stoknya dengan jumlah yang sangat besar, bahkan terbesar dalam satu dekade ke belakang. Penurunan pasar terbesar terjadi di sektor PC kelas consumer dan edukasi, sehingga penurunan permintaan prosesornya pun besar.

Sementara itu di divisi Accelerated Computing Systems and Graphics Group mengalami kerugian USD 507 juta pada Q2 ini. Gelsinger meyakini kalau Intel tak akan bisa memenuhi target untuk menjual 4 juta GPU Arc pada tahun ini, dan mengeluhkan masalah internal yang mereka alami saat mengembangkan driver untuk GPU tersebut.

"Kami pikir kami mampu mengatasi tumpukan integrated graphics software, dan ini ternyata tidak punya level performa, kompatibilitas game yang tak mencukupi, yang sangat kami perlukan," jelasnya.

Intel pun memastikan akan menutup bisnis memori Optane-nya, dan menyetop pengembangan teknologi 3D Xpoint. Sebelumnya Intel memang sudah menjual divisi SSD-nya ke SK Hynix, namun mereka tetap menyimpan bisnis Optane.

Terakhir, Intel juga menjual bisnis drone-nya, termasuk 9000 drone untuk pertunjukan besar seperti Olimpiade dan Super Bowl. Divisi ini kabarnya dibeli oleh Kimbal, saudara dari Elon Musk.



Simak Video "Komisi I DPR RI Sayangkan WNI Jadi Agen Intel Asing di Kaltara"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/afr)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT