Pendapatan Telin Selama 2020 Tembus Rp 9,62 Triliun

Pendapatan Telin Selama 2020 Tembus Rp 9,62 Triliun

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Selasa, 25 Mei 2021 10:00 WIB
Logo Telin, anak perusahaan Telkom
Foto: Dok. Telin
Jakarta -

PT Telekomunikasi Indonesia Internasional (Telin), yang merupakan anak perusahaan Telkom mencatatkan pemasukan Rp 9,62 triliun selama 2020.

Dalam keterangan yang diterima detikINET, Telin menyebut pendapatannya itu tumbuh 28% dibanding tahun sebelumnya, yaitu dari Rp 7,51 triliun menjadi Rp 9,62 triliun

Peningkatan ini didorong oleh pertumbuhan pendapatan bisnis mereka di sektor digital, jasa, voice, serta jaringan data. Selain itu, Telin pun mencatatkan pertumbuhan laba tahun berjalan sebesar 346%, naik dari Rp 187,03 miliar pada tahun 2019 menjadi Rp 834,44 miliar pada tahun 2020.

"Pertumbuhan ini Telin peroleh dari pertumbuhan Net Income yang signifikan dari bisnis digital retail, data center, enterprise, data digital connectivity, dan wholesale international digital business. Pencapaian kinerja Telin dari bisnis internasional diantaranya meliputi layanan Data Center di Singapura dan Hong Kong, digital retail di HK, Taiwan, Malaysia, dan Timor Leste, serta data dari international digital connectivity yang berkembang pesat saat ini," ujar CEO Telin Sukardi Silalahi, dalam keterangan yang diterima detikINET.

Telin adalah anak perusahaan Telkom yang menjalankan bisnis telekomunikasi di luar negeri. Telin melihat performa perusahaan yang baik akan memberikan pengaruh langsung terhadap Indonesia, yaitu lewat devisa negara.

Di tengah pandemi COVID-19, teknologi digital telah memasuki seluruh aspek kehidupan masyarakat yang semakin dimudahkan dan akselerasi teknologi digital berlangsung cepat.

Menyikapi hal tersebut, Telin memanfaatkan momentum ini untuk mengakselarasi kemajuan ekosistem digital melalui keragaman inovasi yang ditawarkan tidak hanya kepada end user namun juga digital enterprise.

Hal tersebut telah membuka peluang sinergi dan akselarasi digital untuk memberikan nilai tambah kepada seluruh pemangku kepentingan.

"Di tengah kondisi pandemi COVID-19, kami menangkap peluang tingginya demand penggunaan bandwidth dari US, Eropa, Asia ke Indonesia dan sebaiknya yg di sebabkan oleh meningkatnya pemanfaatan teknologi digital terkait dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang menjadikan aktivitas bekerja dan sekolah beralih ke rumah (Work From Home dan School From Home) serta penggunaan e-commerce yang tinggi," tambahnya.

"Kondisi tersebut membangun digital ekosistem yang secara langsung atau tidak langsung sudah dan akan menjadi kebiasaan digital lifestyle yang akan memengaruhi pola kehidupan interaksi antar manusia," tutup Sukardi.



Simak Video "Rekam Jejak Abdee 'Slank': Musisi hingga Komisaris Telkom"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/asj)