Pandemi Genjot Pertumbuhan Pembayaran Digital

Pandemi Genjot Pertumbuhan Pembayaran Digital

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Senin, 12 Apr 2021 14:15 WIB
Ilustrasi pembayaran digital
Ilustrasi pembayaran digital. Foto: Dok. ACI Worldwide
Jakarta -

Selama 2020 transaksi pembayaran digital terakselerasi, dengan lebih dari 70,3 miliar transaksi pembayaran real-time yang diproses secara global, meningkat 41% dibanding 2019.

Akselerasi itu terjadi karena pandemi COVID-19 yang terjadi dari 2020 lalu, dan terbukti menngakselerasi tren pembayaran digital dari transaksi tunai. Hal ini dituangkan ACI Worldwide dan GlobalData dalam laporan terbarunya.

Laporan bertajuk 'Prime-Time for Real-Time' tersebut menganalisa dan memperkirakan volume pembayaran real-time, akun-per-akun, di dunia, khususnya di 48 pasar global. Laporan ini memproyeksikan Laju Pertumbuhan Rata-Rata Tahunan atau Compound Annual Growth Rate (CAGR) untuk pembayaran real-time akan mencapai 23,6% dari 2020 hingga 2025.

Indonesia berada pada tahap pengembangan dalam peluncuran sistem-sistem pembayaran real-time. Negeri ini memiliki semua keunggulan untuk menjadi negara yang mengadopsi pembayaran real-time yang sangat besar.

Bank Indonesia (BI) berencana merilis sistem IP (Pembayaran Real Time) yang disebut BI-FAST, sebagai bagian dari Visi Sistem Pembayaran Indonesia (SPI) 2025. BI-FAST akan menjadi infrastruktur transfer antarbank yang lebih cepat dan segala pembayaran menggunakan kartu.

Ketika pandemi terus mendorong perubahan perilaku konsumen dan dunia bisnis, merchant dan para perantaranya di seluruh ekosistem pembayaran merespons dengan cepat. Mereka memprioritaskan peralihan ke digital untuk melindungi kelancaran aliran pendapatan (revenue) saat ini dan mencari sumber pendapatan baru melalui pengalaman pengguna yang sepenuhnya digital.

"Pandemi telah menegaskan pentingnya pembayaran digital dan infrastruktur pembayaran yang kuat, sehingga memadatkan inovasi satu dekade menjadi hanya satu tahun saja dan menciptakan perubahan perilaku manusia yang tidak akan kembali lagi seperti dulu, saat nanti kita lepas dari krisis ini," ujar Jeremy Wilmot, chief product officer di ACI Worldwide dalam keterangan yang diterima detikINET, Senin (12/4/2021).

"Negara-negara yang mempunyai infrastruktur pembayaran digital yang kuat telah mengatasi dampak ekonomi dari pandemi ini dengan lebih baik dibanding mereka yang tidak. Pembayaran real-time telah memungkinkan pemerintah, bekerjasama dengan institusi-institusi keuangan, untuk mengakselerasi pencairan dan pembayaran stimulus ekonomi yang dibutuhkan oleh warganya. Mereka juga memberikan likuiditas real-time ke perusahaan-perusahaan yang harus beradaptasi dengan disrupsi pada rantai pasokan," tambahnya.

Sementara itu menurut Samuel Murrant, Lead Analyst Payments dari GlobalData, saat ini pembayaran real-time masih berada pada fase awal di seluruh dunia. Sebagian besar pun masih digunakan untuk pembayaran P2P, yang terjadi di banyak negara.

"Walau begitu, pandemi ini telah memberikan peluang untuk mengakselerasi pertumbuhan instrumen-instrumen tersebut. Ketika konsumen terbiasa dengan kecepatan penyelesaian pembayaran P2P secara real-time, mereka secara alami akan beralih menggunakannya untuk e-commerce, oleh karena pembayaran online menggunakan kartu masih terbilang lebih lambat dan kurang nyaman," tambahnya.



Simak Video "Prabowo: Kepemimpinan Jokowi Efektif, Saya Akui-Hormat!"
[Gambas:Video 20detik]
(asj/fay)