Akhir COVID-19, Haruskah Memilih Antara Kesehatan dan Ekonomi?

Akhir COVID-19, Haruskah Memilih Antara Kesehatan dan Ekonomi?

Aisyah Kamaliah - detikInet
Selasa, 08 Des 2020 17:43 WIB
Ilustrasi keuangan keluarga karena Corona
Ekonomi dan kesehatan, apakah harus pilih salah satu? Foto: Getty Images/iStockphoto/CentralITAlliance
Jakarta -

Dunia berubah dengan begitu cepat. Bermula dari Wuhan, China, virus SARS-CoV-2 menggemparkan dunia. Merujuk pada laporan WHO ke-37 tentang situasi COVID-19, 26 Februari 2020, kasus corona pertama yang dikonfirmasi di China adalah pada tanggal 8 Desember 2019.

Semua panik, semua orang kebingungan. Belum lagi merebak video yang menunjukkan warga China yang tergeletak dan kejang-kejang -- yang akhirnya diketahui sebagai hoaks -- tapi cukup membuat semua lupa rasa kemanusiaan. Tisu, bahan makanan, apapun yang ada, semua diborong tanpa sisa. Yang beruntung mulai membeli harga masker yang melonjak menjadi Rp 500 ribu per boks. Keadilan sosial bagi mereka yang bercuan, katanya.

Dampaknya pada perekonomian sangat luar biasa, terlebih saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan. Putus Hubungan Kerja (PHK) jadi momok yang menyeramkan selain musuh tak kasat mata, SARS-CoV-2. Banyak orang yang kini bergantung pada bantuan dari pemerintah untuk menyambung nasib.

Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) per 7 April 2020, tercatat sebanyak 39.977 perusahaan di sektor formal yang memilih merumahkan, dan melakukan PHK terhadap pekerjanya karena situasi pandemi. Total ada 1.010.579 orang pekerja yang terkena dampak dengan rincian 873.090 pekerja dari 17.224 perusahaan dirumahkan, sedangkan 137.489 pekerja di-PHK dari 22.753 perusahaan. Angka ini mungkin semakin bertambah.

Sementara itu, jumlah perusahaan dan tenaga kerja terdampak di sektor informal adalah sebanyak 34.453 perusahaan dan 189.452 orang pekerja. Dahsyat, bukan?

Di sisi lain, mungkin sudah jengah terhadap cengkaraman pandemi, banyak orang yang mengalami 'Caution Fatigue' di mana mereka mulai abai pada protokol kesehatan. Badan Pusat Statistik (BPS) memaparkan tingkat kepatuhan masyarakat akan protokol kesehatan aman COVID-19. Hasilnya, 55 persen responden yang tidak patuh beralasan karena tidak adanya sanksi.

"55 persen responden berpendapat tidak ada sanksi. Jadi pemerintah sekarang sudah menerapkan sanksi, nampaknya ke depan sanksi perlu lebih dipertegas," ujar Kepala BPS, Kecuk Suhariyanto saat merilis hasil survei secara virtual, Senin (28/9/2020).

Alasan yang membuat masyarakat abai mengenakan masker pun dirilis oleh BPS:

- Harga masker, face shield, hand sanitizer, APD, cenderung mahal: 23 persen
- Pekerjaan menjadi sulit jika harus menerapkan protokol kesehatan: 33 persen
- Aparat atau pimpinan tidak memberi contoh: 19 persen
- Mengikuti orang lain: 21 persen
- Tidak ada sanksi jika tidak menerapkan protokol kesehatan: 55 persen
- Tidak ada kejadian penderita COVID-19 di lingkungan sekitar: 39 persen
- Lainnya: 15 persen

Waktu berjalan, Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 memaparkan tingkat kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan di Indonesia hingga November ini. Satgas menyebut, selama 8 bulan pandemi Corona, masih ada 20 persen warga yang belum disiplin menggunakan masker.

"Kita sudah 8 bulan dan kegiatan masyarakat juga sebagian sudah mulai kembali dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Kami di Satgas memiliki alat monitor tentang perilaku yang ada di masyarakat dan sudah kita operasikan sebulan lebih," kata juru bicara Satgas COVID-19, Wiku Adisasmito, dalam siaran YouTube BNPB, Senin (9/11/2020).

Seakan belum cukup, ujian makin bertambah keras dengan keputusan untuk menutup tempat hiburan mulai dari bioskop, taman hiburan, karaoke, restoran, dan sebagainya. Bisa dibayangkan betapa suramnya tahun 2020. Suara pun terpecah dua, antara mereka yang #diRumahAja dengan mereka yang berteriak tidak bisa hidup berdiam diri di rumah karena pekerjaan yang tidak pasti.

"Ya gampang kalau duitnya banyak, tinggal di rumah doang uang juga sudah datang. Kalau saya?" kata kubu 1.

"Kamu pikir enak di rumah doang? Jangan egois dong! Pakai masker, di rumah aja, tunggu bantuan pemerintah!" sahut kubu lainnya. Sampai akhirnya konflik semakin bergejolak dan menelurkan tagar #IndonesiaTerserah.