Menyoal Harga Bitcoin yang Tengah Melesat

Menyoal Harga Bitcoin yang Tengah Melesat

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Rabu, 02 Des 2020 18:30 WIB
Ribuan Warga Australia Adukan Kasus Penipuan Bitcoin
Foto: Australia Plus ABC
Jakarta -

Akhir 2020 ini ditutup dengan melesatnya harga bitcoin, yang menembus USD 19.319, tepatnya pada 25 November lalu. Artinya, harga Bitcoin hampir menyentuh titik tertinggi yang pernah dicapai pada 17 Desember 2017 lalu, di mana 1 Bitcoin bernilai USD 20.089.

Fenomena ini memang tidak pernah disangka-sangka. Pasalnya, pada Maret 2020 lalu, harga Bitcoin sempat drop hingga ke level yang di luar dugaan berbagai pengamat, hingga USD 3.600 per Bitcoin. Meski sebulan kemudian melonjak dua kali lipat hingga mencapai angka USD 7.000 per Bitcoin.

Karena itu, jika dibandingkan dengan harga pada April 2020 lalu, maka harga Bitcoin pada 25 November kemarin sudah meningkat hingga 250%.

"Bisa dibayangkan tentunya profit yang dipetik investor jika membeli Bitcoin pada April awal tahun ini, maka investasinya kini telah berlipat 2,5 kali hanya dalam tempo setengah tahun saja," ujar Pang Xue Kai, co-founder & CEO Tokocrypto, platform pedagang aset kripto, dalam keterangan yang diterima detikINET, Rabu (2/12/2020).

Kai, sapaan akrabnya, melanjutkan, rally harga Bitcoin ini pun diyakini berbagai pihak di dalam dan luar negeri akan terus berlanjut ke depannya. Sejumlah faktor yang menjadi bahan bakar melesatnya harga Bitcoin pun diungkapkan pria muda tersebut. Di antaranya, peristiwa halving Bitcoin memasuki fase ketiga pada 12 Mei 2020 lalu.

Sekadar informasi, halving atau halvening Bitcoin adalah proses pengurangan pasokan Bitcoin. Hal ini terkait dengan keterbatasan jumlah Bitcoin yang hanya sebanyak 21 juta Bitcoin.

Karena itu, pencipta Bitcoin, Satoshi Nakamoto membuat protokol untuk memangkas imbalan bagi para penambang sebesar 50% setiap 210 ribu blok, atau kurang lebih setiap 4 tahun. Adapun halving pertama terjadi 2012, yang kedua pada 2016, dan terakhir pada Mei 2020 lalu.

Sejarah mencatat, beberapa waktu setelah proses halving, harga Bitcoin selalu meroket. Pada fase halving pertama pada November 2012, harga Bitcoin melejit 9.600 persen lebih, dari USD 12 menjadi USD 1.160 per November 2013, atau setahun setelah halving. Pun demikian pada halving kedua pada Juli 2016. Harga 1 BTC saat itu sekitar USD 600.

Setelah halving, harga Bitcoin kembali meroket, bahkan memecahkan rekor sepanjang masa hingga mencapai USD 20.000 pada Desember 2017, atau naik 3 ribu persen lebih.

"Karena itu tak mengherankan, kita melihat sejarah kembali berulang saat ini. Pada saat halving ketiga pada Mei 2020 lalu, harga Bitcoin ada di angka USD 8.500 per BTC. Namun kini, 6 bulan setelah halving, harganya tembus USD 19.000 pada Rabu 25 November kemarin, atau meningkat 220% lebih," Kai menjelaskan.

Melihat kenaikan harga Bitcoin yang 'hanya' di angka ratusan persen usai halving ketiga ini, tak mengherankan banyak analis memperkirakan harga per Bitcoin akan terus naik, bahkan dapat menembus USD 318.000 pada akhir 2021, atau naik 3.700%, seperti halnya fenomena kenaikan harga ribuan persen pada peristiwa halving kedua.

Terlepas dari faktor halving, peristiwa lain yang dianggap turut melejitkan harga Bitcoin saat in terjadi di Negeri Paman Sam. Pada Juli lalu, The Office of The Comptroller of the Currency (OCC) alias Kantor Pengawas Mata Uang Amerika Serikat mengizinkan perbankan di AS untuk memegang asset kripto. Hal ini lantas memicu kenaikan permintaan terhadap berbagai aset kripto, seperti Bitcoin, khususnya di Amerika Serikat.

Lantas, angin segar terakhir yang memungkinkan perluasan penggunaan aset kripto secara masif datang dari PayPal, penguasa perantara pembayaran digital lintas negara. Pada 23 Oktober 2020 lalu, PayPal mendeklarasikan bahwa 346 juta penggunanya bisa membeli, menjual dan menyimpan aset kripto pada platformnya. Tak pelak hal ini memicu kenaikan permintaan BTC yang mendorong kenaikan harganya melewati USD 12.950 per BTC pada akhir Oktober 2020 lalu.