Senin, 13 Mei 2019 15:52 WIB

Ide Taksi Online yang Berbuah Rp 1.000 Triliun

Fino Yurio Kristo - detikInet
Travis Kalanick menjelang Uber IPO. Foto: Reuters Travis Kalanick menjelang Uber IPO. Foto: Reuters
New York - Apa hasil dari ide mendirikan taksi online, yang bisa dipanggil kapan saja dan di mana saja via aplikasi? Kekayaan yang tiada tara.

Uber, pionir transportasi online, baru saja melantai di bursa saham New York. Walau turun dari perkiraan, valuasi Uber tetap saja luar biasa tinggi, di kisaran USD 75 miliar atau sekitar Rp 1.000 triliun.

Perusahaan Uber dilahirkan duet Travis Kalanick dan Garett Camp. Untuk Kalanick, 8,6% kepemilikan sahamnya di Uber kini bernilai sekitar USD 5,3 miliar setelah perusahaan tersebut melantai di bursa. Angka tersebut setara dengan Rp 76 triliun.



Lalu, 6% porsi saham milik Camp kini bernilai sekitar USD 3,7 miliar (Rp 53 triliun). Sedangkan untuk pegawai pertama Uber, Ryan Graves, sekitar 1% sahamnya di Uber berharga di kisaran USD 1,5 miliar, (Rp 21 triliun).

Pada tahun 2008, Kalanick dan Camp menghadiri konferensi teknologi LeWeb di Paris untuk mencari ide. Salah satunya adalah aplikasi penyewaan mobil. Tapi ide aplikasi itu dianggap kurang menarik dibanding ide yang lain

Sekembalinya ke San Francisco, Kalanick sudah agak melupakan ide penyewaan mobil itu, tapi tidak dengan Camp. Ia terobsesi dengan ide itu, kemudian membeli nama domain UberCab.com. Camp berhasil meyakinkan Kalanick kalau mereka akan berhasil.

Layanan UberCab pun lahir di San Francisco pada tahun 2010 dengan dana terbatas dan sedikit karyawan. Kemudahan yang ditawarkan aplikasi ini, di mana pengguna tinggal memanggil taksi dan membayar dengan kartu kredit, membuatnya mulai dilirik hingga sukses besar.

Dalam perjalanannya, Uber memang tak lepas dari beragam kontroversi. Protes pada mereka tak juga berhenti, terutama dari para sopir dan perusahaan taksi yang menganggap Uber ilegal dan mencuri nafkah mereka.

Kemudian Kalanick sendiri sosok kontroversial hingga harus mundur dari jabatan CEO Uber di tahun 2017. Penyebabnya adalah pergolakan internal seperti pelecehan seks sampai teknologi Uber yang ditujukan untuk menghindari kejaran aparat.



Tapi bagaimanapun, Kalanick dan Camp sudah sukses besar menggoyang industri transportasi. Travis pernah menilai industri taksi terlalu proteksionis. Protes yang menimpa Uber menurutnya bukan disebabkan sopir taksi melainkan perusahaannya.

"Perusahaan taksi memilih tidak berkompetisi sama sekali dan suka begitu begitu saja," kata dia. (fyk/rns)