Selasa, 05 Mar 2019 12:05 WIB

GoPay & Ovo Gencar 'Bakar Duit', LinkAja Berani Ikutan?

Ardhi Suryadhi - detikInet
Foto: dok. LinkAja Foto: dok. LinkAja
Jakarta - Penetrasi transaksi digital kian gencar di Indonesia. Hal ini tentu membuat edukasi kepada masyarakat untuk mencicipi layanan ini jadi lebih mudah.

Coba lihat di berbagai merchant. Baik itu online ataupun offline, toko/restoran bintang lima hingga kaki lima sudah memajang QR code untuk bisa di-scan masyarakat untuk kemudian bertransaksi.

Ya, memang masyarakat tergiur program promosi yang ditawarkan. Ada yang memberi diskon, cashback, hingga buy 1 get 1. Toh, itu sah-sah saja. Lantaran program 'bakar duit' merupakan bagian dari strategi marketing brand tersebut.

Cuma pertanyaan yang kemudian muncul adalah, mau sampai kapan mereka bakar duit? Termasuk bagi pemain pendatang baru, apakah harus bakar duit juga agar bisa eksis dan jadi produk kesayangan masyarakat?




Nah, pertanyaan kedua inilah yang rasanya juga bakal menggelayut kepada LinkAja, layanan uang elektronik yang dioperasikan PT Fintek Karya Nusantara (Finarya).

Kepemilikan LinkAja saat ini masih dikuasai Telkom melalui Telkomsel. Namun nantinya, kepemilikan saham perusahaan ini akan dibagi-bagi kepada Telkom melalui Telkomsel, serta Bank Mandiri, BNI, BRI, Pertamina, dan beberapa perusahaan BUMN lainnya.

Direktur Utama Telkom Alex J. Sinaga menyebut bahwa masyarakat Indonesia masih perlu dipancing strategi promo. Alhasil, LinkAja pun pasti bakal menyiapkan sejumlah tawaran untuk menarik minat pengguna.

"Mungkin kombinasi pemasaran dengan periode tertentu. Tapi saya nggak mau bilang bakar duit, melainkan investasi," kata Alex yang juga merupakan Komisaris Utama Telkomsel dalam perbincangan santai dengan detikcom di Mobile World Congress (MWC) 2019 Barcelona, Spanyol.

"Kira-kira kalau dikumpulkan program yang dijalankan Tcash selama ini bakar duit nggak? Himbara (Himpunan Bank Milik Negara) bakar duit nggak? Jadi dominan yang kita lakukan adalah mengedukasi, dan kita sebagai BUMN pun juga kadang memberi sedikit keuntungan kepada masyarakat, dan kalau itu dikumpulkan Telkomsel, Himbara ada 4 bank, Pertamina dan lainnya juga (dalam produk LinkAja) itu kira-kira bakal gede nggak? Dan bagi kita itu bakar duit nggak? Tidak, itu investasi," jelasnya panjang lebar.

Namun sayang, berapa investasi yang akan dikucurkan LinkAja untuk proses 'edukasi' kepada masyarakat selama tahun 2019 ini.

GoPay & Ovo Gencar 'Bakar Duit', LinkAja Berani Ikutan?Foto: LinkAja


Inovasi atau Mati

Meski begitu, dukungan 'kebijakan tegas' dari Kementerian BUMN juga diharapkan sehingga proses edukasi LinkAja jadi lebih cepat.

"Misalkan jalan tol, sudah berapa lama kita menggunakan kartu tanpa cash di tol, sejak tahun 2009. Jalan nggak? Enggak, zaman itu tertatih-tatih. Karena saat itu masih dibuka opsi untuk bayar cash. Tapi ketika Pak Jokowi ngomong, 'mulai bulan depan saya nggak mau ada lagi cash di jalan tol', bisa kan jalan," Alex mencontohkan.



Pasalnya, dalam level tertentu terkadang pemerintah dinilai butuh memainkan perannya secara tegas. Seperti di contoh penerapan cashless di jalan tol tadi. Seberapa berapa besar efisiensi yang didapat 'hanya' dengan Presiden Jokowi ngomong satu kalimat itu.

"Nah, kehadiran negara (bisa) yang seperti itu. Lalu soal posisi GoPay atau Ovo setelah ada LinkAja mulai diributkan orang tentang porsinya di market. Kalau saya ngomongnya sih begini, 'lu makan aja semua di market sampai muntah' karena marketnya sangat besar. Jadi kalau misalkan disebut nanti bakal mendominasi SPBU, memangnya yang butuh e-money hanya SPBU aja? UKM di Indonesia puluhan juta itu masih banyak," kelakarnya dengan logat batak kental.

Nah, yang patut dicatat di sini adalah dengan hadirnya banyak pemain maka yang diuntungkan pada akhirnya adalah masyarakat karena menjadi banyak pilihan.

Sebaliknya, jangan malah langsung ribut dan menjadi 'mental block' buat pemain eksisting. Sebab ciri inovasi itu adalah relaksasi bukan pengetatan. Jadi nanti LinkAja, Ovo, Gopay ataupun brand lain secara otomatis akan terpacu inovasinya dengan kondisi kompetisi yang sehat.



"Soalnya kalau dia (pemain fintech-red.) hanya happy di titik hari ini maka saya bisa pastikan 2-3 tahun lagi akan mati. Kompetisi itu akan membuat kita bergairah sehingga inovasinya muncul. tapi pada akhirnya ada yang hidup dan mati itu seleksi alam," pungkas Alex.

GoPay & Ovo Gencar 'Bakar Duit', LinkAja Berani Ikutan?
(rns/rns)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed