Selasa, 05 Mar 2019 07:33 WIB

LinkAja Datang, GoPay & Ovo Jangan Takut Digoyang

Ardhi Suryadhi - detikInet
Foto: LinkAja Foto: LinkAja
Jakarta - Kehadiran produk fintech LinkAja disebut banyak orang bakal menggoyang dominasi dua pemain terkuat di industri ini, yakni GoPay dan Ovo.

Walau begitu, Direktur Utama Telkom Alex J. Sinaga agak kurang sependapat dengan kekhawatiran yang berlebihan tersebut.

LinkAja merupakan merek layanan uang elektronik yang dioperasikan PT Fintek Karya Nusantara (Finarya). Kepemilikan LinkAja saat ini masih dikuasai Telkom melalui Telkomsel.



Namun nantinya, saham perusahaan ini akan dibagi-bagi kepada Telkom melalui Telkomsel, serta Bank Mandiri, BNI, BRI, Pertamina, dan beberapa perusahaan BUMN lainnya.

"Bukan menggoyang, saya agak kurang sependapat kalau pakai istilah menggoyang GoPay dan Ovo. Kira-kira ini (fintech-red.) terkait hajat hidup orang banyak gak? Kementerian Keuangan gusar gak? Kira-kira dia (Kementerian Keuangan-red.) akan lebih gusar dengan kita konsolidasi BUMN atau tidak, sebagai negara?," kata Alex dalam perbincangan santai dengan detikcom di Mobile World Congress (MWC) 2019 Barcelona, Spanyol.

Adapun jika nantinya kehadiran LinkAja bakal head to head dengan pemain eksisting itu disebut Alex sebagai konsekuensi yang tak bisa dihindarkan.

"Tapi mungkin gini biar gak keliru juga, Indonesia itu pasarnya besar. Gopay dan Ovo itu kira-kira peluangnya sekecil itu gak? Tidak, besar sekali," sebutnya.

"Jadi kok kita ribut di market yang besar, mestinya yang kita ributkan itu diri kita sendiri, inovasi apa yang bisa kita deliver sehingga masyarakat punya banyak pilihan," ujarnya.

Dalam kesempatan berbeda, Kepala Sub Bagian Perizinan Fintech di Direktorat Pengaturan, Pengawasan, dan Perizinan Fintech OJK Alvin Taulu mengatakan, hingga 2018 kemarin total transaksi dari industri fintech peer to peer (P2P) lending mencapai Rp 26 triliun.

"Dari peminjam yang sudah meningkat 17 kali, transaksi fintech sudah mencapai Rp 26 triliun," ujarnya.

Namun menurut Alvin, jumlah itu masih sangat kecil untuk menutupi gap kebutuhan pendanaan di Indonesia yang mencapai Rp 1.000 triliun. Sehingga potensi fintech di Indonesia masih sangat besar.

Alvin mengatakan, total kebutuhan pendanaan di Indonesia mencapai Rp 1.900 triliun. Sementara dari perusahaan keuangan yang ada di Indonesia seperti perbankan hingga multifinance hanya bisa menutupi sekitar Rp 900 triliun.



OJK menilai hadirnya fintech bisa mengisi kebutuhan pendanaan dari masyarakat yang tidak memenuhi syarat perbankan. Untuk itu, pihaknya tengah mengatur sambil menjaga pertumbuhan fintech di Indonesia.

"Saat ini sudah ada 99 perusahaan fintech yang terdaftar di OJK. Bisnisnya macam-macam, ada khusus pertanian, perumahan, UMKM. Bahkan ada yang khusus pulsa, khusus logistik. Berbagai macam dengan segmentasi market yang berbeda," tandasnya. (rns/rns)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed