Rabu, 16 Nov 2011 15:45 WIB

Multiply Tak Mau Buru-buru Keruk Laba

- detikInet
Jakarta - Sejak merintis bisnisnya di Indonesia awal 2010 lalu, Multiply masih sabar membentuk pasar terlebih dulu sebelum akhirnya mengeruk laba besar dari manisnya bisnis e-commerce yang tumbuh pesat belakangan ini.

"Kami sekarang masih fokus ke edukasi dulu," tukas Nirmala R Hapsari, Media & PR Manager PT Multiply Indonesia, kepada detikINET, Rabu (16/11/2011).

Seperti dituturkan olehnya, pasar e-commerce di Indonesia sangat potensial dan terus berkembang. Hal itu dibuktikan dengan melesatnya member aktif Multiply yang telah berjumlah 2,3 juta dengan jumlah visit 7 juta per bulan.

Sedangkan untuk jumlah penjualnya ada 50 ribu yang terdaftar sebagai registered stores dengan penambahan dua ribu merchants baru setiap bulannya.

"Tiap bulan selalu ada merchants dan buyers baru. Kami pasti ingin lebih banyak penjual berkualitas dengan produk yang berkualitas, banyak pembeli. Itu sebabnya kami lebih mengutamakan edukasi terlebih dulu," papar Nirmala lebih lanjut.

Edukasi yang dimaksud olehnya ialah pengenalan skema bisnis e-commerce yang aman, nyaman, dan mudah, bagi semua pihak. "Penjual berjualan dengan nyaman, pembeli pun berbelanja dengan aman," kata dia.

Agar pembeli tetap aman terproteksi dari aksi tipu-tipu, pembayaran yang dilakukan oleh buyers disetor ke Multiply sebagai perantaranya. Baru setelah penjual rampung menunaikan kewajibannya mengirimkan barang, uang yang telah dibayarkan oleh sang pembeli bisa dicairkan.

"Itu untuk keamanannya. Untuk kemudahannya, kami menawarkan skema pembayaran multiplatform melalui debit, kartu kredit, maupun paypal. Sedangkan untuk kenyamannya, kami menyediakan fitur baru berupa gratis ongkir (ongkos kirim)," kata Nirmala.

Melalui program gratis ongkir ini, baik pembeli maupun penjual, tak akan dibebankan biaya pengiriman. Untuk program ini, Multiply menggandeng perusahaan jasa pengiriman JNE sebagai mitra ekslusifnya.

"Buyer tak perlu bayar ongkir. Skemanya adalah untuk setiap pengiriman, penjual me-reimburse biaya pengiriman yang mereka keluarkan ke Multiply. Mereka hanya butuh memberikan bukti kode airway bill. Kemudian, JNE reconcile, Multiply membayar."

"Lumayan, transaksi minimal Rp 100 ribu, biaya ongkir yang ditanggung maksimal Rp 100 ribu," jelasnya lebih lanjut.

Tak Selamanya Gratis

Multiply yang dulunya menyediakan layanan blog, aslinya adalah perusahaan Amerika. Setelah mendapat suntikan dana dari perusahaan asal Afrika Selatan, Naspers MIH, Multiply kini beralih kemudi menjadi perusahaan e-commmerce yang memiliki kantor cabang di hampir tiap negara, termasuk di Indonesia.

Langkah perusahaan ini cukup agresif. Salah satunya dengan meniadakan transaction fee dan menyubsidi pengiriman barang. Namun yang menjadi pertanyaan, sampai kapan Multiply bertahan dari tuntutan menghasilkan profit?

"Untuk sekarang yang penting orang merasakan dulu nyaman dan amannya belanja online di Multiply. Banyak pilihan, harga 'nyaman', servis juga terus ditambah."

"Kami ada sales dan strategic partnerships. Namun untuk sekarang fokus utamanya adalah edukasi. Nantinya pendapatan kami dari transaction fee. Tapi nanti, paling cepat Februari tahun depan," jelas Nirmala.

Multiply sendiri mengaku tak khawatir akan ditinggalkan para buyers dan merchants-nya jika program gratis ongkir itu nantinya dihentikan, dan setiap transaksi yang terjadi di Multiply kembali dikenakan biaya transaction fee.

"Dari awal mereka sudah diinformasikan bahwa 'program gratis' ini ada masanya. Kalau kami melihatnya, jika member kami merasa proses transaksi jadi lebih mudah, dan paling penting lebih menguntungkan mereka, mereka akan tetap setia."

"Sementara, kalau mereka bikin situs sendiri, biayanya lebih tinggi. Kalau mereka mau bikin payment gateway, pastinya lebih ribet. Multiply mengeliminasi semua faktor 'hassle' tersebut," tandas Nirmala.




(rou/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed