Selasa, 09 Nov 2010 09:32 WIB

Pergerakan Komputasi Awan Semakin Cepat

- detikInet
Jakarta - Sebanyak 83% perusahaan berskala besar di Asia Pasifik menilai komputasi awan sebagai teknologi yang relevan bagi bisnis mereka. Persentase ini meningkat lebih dari dua kali lipat dalam 18 bulan terakhir.

Demikian hasil survei Springboard Research yang disponsori penyedia solusi virtualisasi VMware. Survei terhadap 6.593 responden pada September itu menunjukkan pergerakan komputasi awan di tujuh pasar Asia Pasifik meningkat pesat selama 18 bulan terakhir ini, khususnya di kalangan perusahaan berukuran besar.

Kini, sebanyak 59% dari firma regional telah menggunakan atau berencana memakai inisiatif awan, dibandingkan 45% enam bulan lalu dan 22% pada 2009. Organisasi di Jepang dan Australia memimpin adopsi Awan, masing-masing dengan 36% dan 31% telah menjalankan inisiatif yang berkaitan dengan awan. India dan China adalah yang terdepan dalam hal rencana adopsi, masing-masing 43% dan 39% tengah berencana menerapkan komputasi Awan.

Untuk pasar ASEAN, perusahaan di Singapura memimpin dengan 23%, disusul Malaysia dan Thailand dengan masing-masing 21%. Namun untuk perencanaan awan, Malaysia dan Thailand adalah yang terdepan masing-masing 29% dibandingkan Singapura dengan 30%.

Perusahaan-perusahaan yang ahli TI seperti telekomunikasi dan teknologi memimpin baik dalam hal adopsi awan maupun rencana adopsi awan. Perusahaan-perusahaan berukuran besar – terutama yang mempekerjakan lebih dari 10.000 karyawan, memimpin adopsi Awan (39%) dibandingkan organisasi yang lebih kecil dengan 100-999 karyawan (20%).

TI Berbasis Layanan


Sebagian besar perusahaan di Jepang (86%), Singapura (84%) dan Thailand (74%) mengasosiasikan komputasi awan dengan IT-as-a-Service (ItaaS) atau TI sebagai layanan. Di Australia (80%), Malaysia (78%) dan India (75%) mengasosiasikan awan sebagai application-on-demand. Di China, sebanyak 80% responden melihat Awan sebagai cara untuk menyediakan storage dan jaringan sesuai kebutuhan (on-demand).

"Bagi sebagian besar responden survei di Asia Pasifik, TI sebagai layanan adalah tema terbesar hari ini. Perusahaan-perusahaan seperti itu mencari vendor dan konsultan yang mampu membantu mereka menikmati TI berbasis layanan, terutama di area infrastruktur dan manajemen Awan," kata Michael Barnes, VP of Software & Asia Pacific Research, Springboard Research dalam keterangannya yang dikutip detikINET, Selasa (9/11/2010).

Lebih dari separuh organisasi (60%) ingin mengadopsi awan untuk mencapai skalabilitas sesuai permintaan sehingga bisa lebih cepat memenuhi kebutuhan bisnis, mengurangi biaya infrastruktur peranti keras dan pengadaan server dan sumber daya yang lebih sederhana.

Penghematan biaya adalah daya tarik utama dalam mengadopsi komputasi Awan, bagi 57% perusahaan di Asia Pasifik. Hanya 37%, umumnya perusahaan berukuran besar dengan lebih dari 10.000 karyawan, mengadopsi atau berencana mengadopsi Awan sebagai investasi strategis dalam jangka panjang.



(ash/fw)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed
  • Xiaomi Siapkan Tiga Ponsel Anyar?

    Xiaomi Siapkan Tiga Ponsel Anyar?

    Minggu, 16 Des 2018 17:26 WIB
    Tiga ponsel anyar Xiaomi dilaporkan telah mendapat sertifikasi dari China Compulsoru Certificate. Diperkirakan, trio tersebut tergabung kendalam lini Redmi 7.
  • Twitter Hapus Ratusan Ribu Akun Terorisme

    Twitter Hapus Ratusan Ribu Akun Terorisme

    Minggu, 16 Des 2018 16:05 WIB
    Twitter baru saja meluncurkan laporan transparansinya untuk enam bulan pertama tahun 2018 salah satunya mereka telah menghapus akun terkait terorisme.
  • Fitur Connect Apple Music Dimatikan

    Fitur Connect Apple Music Dimatikan

    Minggu, 16 Des 2018 08:09 WIB
    Di layanan Apple Music ada fitur media sosial layaknya Twitter, Facebook atapun Instagram yang dinamai Connect. Sayangnya umurmnya akan tamat di tahun 2019.
  • SoftBank Tak Lagi Pakai Huawei

    SoftBank Tak Lagi Pakai Huawei

    Minggu, 16 Des 2018 06:52 WIB
    Bisnis perlengkapan jaringan Huawei diterpa badai, di tengah kecurigaan Amerika Serikat (AS) dan sejumlah negara lain menduganya melakukan praktik mata-mata.