Kamis, 12 Jan 2017 12:48 WIB

Mereka Pernah Berjaya

BlackBerry yang Dulu Dipuji

Rachmatunnisa - detikInet
CEO BlackBerry John Chen (Foto: Achmad Rouzni Noor II/detikINET) CEO BlackBerry John Chen (Foto: Achmad Rouzni Noor II/detikINET)
Jakarta - Teknologi berubah dengan cepat. Jika lengah dan tak berinovasi, bisa membuat sebuah perusahaan terseok, seperti yang sedang dialami Yahoo saat ini. Selain Yahoo, beberapa perusahaan teknologi lain mengalami nasib yang sama, antara lain BlackBerry.

Di masa puncaknya, BlackBerry yang dulu bernama Research in Motion (RIM), mempekerjakan sekitar 20 ribu karyawan di seluruh dunia. Setelah terpuruk, banyak karyawan kena PHK, terutama di kantor pusatnya di Ontario, Kanada. Kini, jumlah karyawan mereka lebih kurang hanya 6.000 orang.

Namun dampaknya bagi Kanada, khususnya Ontario? Tenggelamnya BlackBerry di satu sisi memberikan dampak positif. Karyawan BlackBerry yang kena PHK rupanya tak lantas putus asa, mereka kembali terjun ke jagat teknologi dengan keahliannya. Terutama dalam menggalakkan dunia startup.

BlackBerry juga berjasa memberikan dana atau bantuan agar kampus seperti University of Waterloo menjadi universitas kelas dunia. Sekarang, lulusan universitas ini banyak bekerja di raksasa teknologi semacam Microsoft dan Google.

Jadi meskipun pamor BlackBerry memudar, warisannya tetap masih bertebaran di negara asalnya. Dan kesuksesan BlackBerry di masa lalu menjadi inspirasi besar bagi warga Kanada.

FotoINET: Nama Tenar di Jagat Teknologi yang Kemudian Menggelepar

Di Indonesia sendiri, BlackBerry mulai memikat pengguna sekitar tahun 2006 dan mencapai puncaknya di 2008 sampai beberapa tahun setelahnya. BlackBerry jadi smartphone terpopuler di sini, siapa yang punya merasa bangga.

BlackBerry menjadi anomali di Tanah Air. Handset ini sebenarnya ditujukan untuk kalangan pebisnis, namun di Indonesia kala itu semua kalangan meminatinya. Dari ibu rumah tangga sampai anak-anak, terutama terpikat dengan layanan BlackBerry Messenger.

Wajar saja, BBM kala itu belum ada saingannya. WhatsApp dan layanan sejenisnya belum begitu dikenal. Faktor itu, selain menenteng BlackBerry terlihat bergengsi, membuat ponsel BlackBerry menjadi dambaan. Artis artis pun banyak menggunakannya.

Karena harganya yang mahal, banyak yang tak mampu membeli BlackBerry. Research in Motion, nama perusahaan BlackBerry di masa itu, menghadirkan solusi dengan kedatangan BlackBerry Gemini. Gemini yang dihargai paling murah langsung menghebohkan Indonesia.

Sayang kemudian, BlackBerry tak mampu melawan serbuan pasukan ponsel Android. Hingga akhirnya masa kejayaan BlackBerry benar-benar berakhir di Indonesia maupun dunia. Dominasi BlackBerry di Indonesia pun tinggal cerita.

Saksikan video 20detik di sini:

(rns/asj)
CEO BlackBerry John Chen (Foto: Achmad Rouzni Noor II/detikINET)
Foto: Achmad Rouzni Noor II/detikINET
-

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed