Jumat, 10 Nov 2006 17:09 WIB

Komnas HAM Desak SBY Temukan 13 Aktivis yang Masih Hilang

- detikInet
Jakarta - Komnas HAM mendesak pemerintah menemukan 13 aktivis yang masih hilang selama periode 1997-1998 dan belum diketahui nasibnya hingga saat ini."Yang namanya pemerintah itu ya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, karena dia mempunyai kekuasaan untuk memerintahkan aparat penegak hukum untuk menemukan mereka," kata Ketua Komnas HAM Abdul Hakim Garuda Nusantara dalam jumpa pers di kantor Komnas HAM, Jl Latuharhari, Menteng, Jakarta, Jumat (10/11/2006).Abdul Hakim mengingatkan, jika presiden memiliki informasi tewasnya 13 orang ini, maka dia berkewajiban memberitahu di mana jasadnya berada, serta mengembalikan mereka ke keluarganya.13 Aktivis yang masih hilang itu yaitu Deddy Hamdun (suami artis Eva Arnaz), Yani Afrie, Sony, Herman Hendrawan, Noval Alkatiri, Ismail, Suyat, Petrus Bima Anugrah, Wiji Thukul, Ucok Manandar Siahaan, Hendra Hambali, Yadin Muhidin, dan Abdun Naser.Selain itu, masih ada 10 aktivis prodemokrasi yang dilepaskan dan selamat dari penculikan tahun 1997-1998. Mereka adalah Mugiyanto, Aan Rusdianto, Nezar Patria, Faisol Riza, Raharja Waluyo Jati, Haryanto Taslam, Andi Arief, Pius Lustrilanang, Desmon Mahesa, ST, dan Gilang. Gilang telah ditemukan tewas dan jasadnya ditemukan di Sarangan, Jawa Timur.Abdul Hakim melanjutkan, institusi yang dianggap bertanggung jawab atas penghilangan paksa tersebut adalah Panglima ABRI, Pangkostrad, Pangdam Jaya, dan BIA."Saya nggak usah nyebut namalah, kalian juga sudah tahu siapa saja," tandasnya.Tim penyelidik untuk kasus penghilangan orang secara paksa ini bekerja sejak 1 Oktober 2005 hingga 30 Oktober 2006. Tim telah memeriksa 77 saksi, yaitu 58 saksi korban, keluarga korban dan masyarakat umum, 18 anggota dan purnawirawan Polri, serta 1 purnawirawan TNI.Adapun kesulitan yang dialami dalam penyelidikan kasus ini salah satunya penolakan TNI untuk menghadirkan personel yang diminta tim. TNI beralasan kasus penghilangan orang secara paksa terjadi pada 1997-1998, sebelum UU 26/2000 diundangkan."Sehingga memerlukan keputusan DPR yang mengusulkan pengadilan HAM ad hoc. Alasan yang sama juga diajukan oleh Kejaksaan Agung ketika Komnas HAM mengajukan permohonan mengunjungi lokasi atau tempat penahanan terhadap aktivis tersebut," bebernya.Adapun jumlah korban atas penghilangan orang tersebut adalah 1 orang terbunuh, 11 orang disiksa, 12 orang dianiaya, 23 orang dihilangkan secara paksa, dan 19 orang dirampas kemerdekaan fisiknya secara sewenang-wenang.Abdul Hakim meminta agar hasil penyelidikan yang didapat ini dapat dilanjutkan oleh Kejaksaan Agung untuk membentuk tim penyidik, karena telah didapat bukti permulaan yang cukup untuk menyimpulkan terjadinya kejahatan terhadap kemanusiaan.Sementara itu, asisten tim ad hoc penyidik peristiwa penghilangan orang secara paksa pada 1997-1998, Lamria, menyatakan ada beberapa orang dari 13 aktivis yang masih dinyatakan hilang tersebut diketahui pernah berada di Pos Komando Taktis (Poskotis) Kopassus yang terletak di Cijantung, Jakarta.Mereka adalah Yani Afrie, Sony, Herman Hendrawan, Deddy Hamdun dan Noval Alkatiri. Mereka pernah bertemu dengan Faisol Riza dan Pius Lustrilanang yang lolos dari penculikan tersebut.

(fjr/sss)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed