Ngopi 'Digital Kreatif' Banyuwangi yang Pecah Abis!

Ngopi bareng detikINET

Ngopi 'Digital Kreatif' Banyuwangi yang Pecah Abis!

- detikInet
Minggu, 26 Apr 2015 08:33 WIB
Banyuwangi -

Histeria 1.486 peserta langsung pecah saat pertama kali melihat narasumber Ngopi bareng detikINET tentang 'Digital Kreatif' memasuki Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Banyuwangi, Jawa Timur.

"Huaaa... Radit... Radit...," demikian satu nama yang paling banyak diteriakan dalam acara yang diisi oleh Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, Raditya Dika, speech composer Eka Gustiwana featuring Nadya Rafika serta Aris Sudewo selaku GM Digital Lifestyle Marketing Telkomsel.

Meski bisa dibilang Raditya Dika adalah bintang utamanya dan jadi narasumber yang paling dinanti, namun pada kenyataan di lapangan, antusiasme peserta yang diisi oleh kalangan pelajar dan mahasiswa dari Bumi Blambangan juga terlihat sangat antusias saat narasumber yang lain tampil.

Ngopi detikINET di Banyuwangi sendiri bisa dibilang dikemas dengan sedikit beda. Narasumber dan peserta sama-sama duduk ndeprok dengan terpisah jarak cuma 'sejengkal'. Acara pun dimulai dengan menyanyikan lagu 'Indonesia Raya', pembacaan ayat suci Al Quran serta pemberian santunan kepada anak yatim.



Setelah itu baru acara utamanya digelar yang diawali oleh Aris Sudewo yang memaparkan perilaku dan fakta mengenai mobile internet di Indonesia dan secara khusus di Banyuwangi serta peluang yang bisa diambil dari era Digital Entrepreneurship.

Aris mengungkapkan, ponsel pintar saat ini sudah bukan lagi sekadar perangkat halo-halo. Namun juga jadi 'senjata' utama untuk memenuhi kehidupan digital pengguna, dimana paling besar digunakan untuk chatting, bermedia sosial, mengakses media online serta main game.

Adapun platform smartphone yang paling diminati adalah Android, BlackBerry, Symbian dan iPhone. Dan rata-rata pengguna menghabiskan waktu 3 jam setiap harinya untuk melihat layar smartphone. Sedangkan bagi pengakses video online, jam sibuknya dimulai dari pukul 6-9 pagi dan akan kembali ramai pada jam 19-21.00 malam, untuk pukul 12 siang justru menjadi waktu paling sepi.

Pria dan wanita pun disebut Aris punya orientasi yang berbeda tentang aplikasi yang paling disukai. Kalau pria justru menjadikan game sebagai apps favorit, untuk wanita lebih suka aplikasi casual semisal editing foto.

Benang merah dari data yang dipaparkan Aris ini diharapkan dapat menjadi peluang bagi netizen untuk bisa menggeluti digital entepreneruship yang memang menyajikan peluang sangat lebar. "Kenapa tak jadi pengusaha digital? Entah itu jual makanan dan baju via instagram, dan media sosial yang lain atau berkreasi secara positif lainnya seperti menulis buku atau membuat video," ajak Aris.

"Apalagi kalau melihat potensinya, dimana belanja e-commerce di Indonesia pada tahun 2014 itu mencapai USD 2,6 miliar. Jadi sangat besar, teman-teman di Banyuwangi bisa mengambil kesempatan ini, bisa dengan jual beli mobil, sewa hotel, jual beli baju, atau menjajakan yang khas di Banyuwangi. Kesempatannya akan besar sekali," pungkas Aris.

Setelah Aris, acara kemudian diselingi dengan game serta bagi-bagi hadiah. Ada 4 unit smartphone yang disiapkan serta 200 kartu perdana Telkomsel yang sudah diisi pulsa Rp 50 ribu bagi peserta. Oh iya dan satu lagi, mereka yang menang game berkesempatan selfie bareng Raditya Dika. Hmm... Siapa yang gak mau? Hal ini pastinya langsung jadi rebutan peserta yang sampai meluber sampai keluar Pendopo.



Selanjutnya giliran Eka Gustiwana dan Nadya Rafika yang 'naik panggung'. Nadya tampil manis dan mengajak peserta bernyanyi. Bahkan ada satu peserta yang berasal dari sekolah penerbang yang awalnya selalu berpenampilan serius dengan badan tegapnya, akhirnya melunak ketika diajak Nadya tampil ke depan untuk ikut bergoyang.

Dalam sesi sharing-nya, Eka dan Nadya bercerita tentang pengalaman 'from nothing to something' mereka di internet. Ya, dulu tak ada yang mengenal speech composing ala Eka. Namun kini, follower chanel YouTube Eka itu terbanyak kedua di Indonesia setelah Raditya Dika.

Ini lantaran Eka tahu betul memanfaatkan passion-nya di dunia musik untuk kemudian dikombinasikan dengan booming era digital. Ini pula yang diimbau Eka ke para peserta Ngopi di Banyuwangi. "Jangan takut berkreasi!" tegasnya.



Media sosial juga dinilai bisa jadi tempat personal branding, selain jadi sarana sharing foto selfi dan melampiaskan unek-unek. "Hobi selfie dan ngetweet silakan, tapi coba dari sekarang bentuk brand bagi diri sendiri, kamu mau dikenal seperti apa sih? Berawal saja dari passion, misalkan soal penerbangan, desain, dan direalisasikan dalam media sosial. Cari dulu passion kamu, kalau suka gambar hayo, public speaking oke, menulis bisa, gak harus musik. Semuanya bisa digali," lanjutnya.

"Untuk menyajikan hal menarik agar bisa dilirik bisa diawali dengan kemampuan yang kamu bisa, tapi nantinya dibikin yang beda," Eka menandaskan.

Dan selanjutnya, tiba giliran narasumber yang paling ditunggu dan teriakan namanya paling nyaring terdengar di acara ini. Ya, Raditya Dika! Sambutan yang didapat Radit dari peserta Ngopi di Banyuwangi memang luar biasa. Histeria peserta begitu memekakkan telinga, apalagi jika ada peserta diajak selfie bareng penulis buku 'Koala Kumal' tersebut. "Haa... Radit... Radit...," ya begitulah kira-kira suaranya.



Tak mau ini sekadar jadi acara jumpa fans, Radit pun memulai pembahasan yang agak 'serius', yaitu menekankan keajaiban internet bagi pelaku digital kreatif. "Loe bisa apa aja di dunia digital. Bahkan loe bikin blog, itu bisa dibaca presiden! Gak ada alasan untuk loe gak percaya di dunia digital apapun bisa dilakukan. Ada yang mau jadi musisi gak, film maker? Loe harus manfaatin semua," tegasnya.

"Gak usah malu, bikin dan posting video di Yutube, kalau (dinilai orang masih) jelek, paling dikucilkan masyarakat," Radit berkelakar dan disambut tawa renyah peserta. "Intinya, jadilah diri loe supaya dunia bisa melihat loe siapa," lanjutnya.

Soal sulit mencari inspirasi saat mau berkreasi pun di disinggung pemain film 'Marmut Merah Jambu' itu. Menurutnya, kegelisahan hati merupakan 'obat manjur' bagi mereka yang punya masalah ide mentok. "Paling gampang, mulai tanya diri loe, lagi gelisah soal apa? Misalnya soal cara mengajar guru loe yang gak enak, soal jomblo terus dari lahir, korban di-PHP-in gebetan? Ya, bisa loe tulis di blog, 'Ini 7 Tanda Cowok yang Suka Mem-PHP-in Gebetan'," kata Radit, blak-blakan.

Obat 'kegelisahan hati' ini juga yang dipilih Radit dan direalisasikan dalam hasil karyanya (buku dan film). Salah satu contohnya saat dia bikin karya 'Cinta Brontosaurus'. Di situ Radit menceritakan pengalamannya tentang cinta yang ternyata bisa kadaluarsa.

Ide dari kisah ini terlihat sederhana, dan sangat mungkin dialami oleh banyak orang lain di dunia. Tapi bedanya, Radit bisa mengambil peluang lebih dulu untuk membuat karya yang dibumbui dengan kreasi unik plus gaya khasnya dari pengalaman pribadi tersebut. Hasilnya, lahirlah buku dan film 'Cinta Brontosaurus'. "Jadi bedanya, kita sama-sama melewati pengalaman yang sama. Tapi loe mungkin melupakannya begitu saja dan tidak dibungkus," pungkasnya.

Kesempatan tanya jawab kemudian diberikan bagi warga Banyuwangi. Tak tanggung-tanggung, semuanya diabsen untuk mendapat giliran, mulai dari Bupati Banyuwangi, peserta yang masih duduk di sekolah dasar (SD), kemudian SLTP, SLTA sampai anak kuliahan. Semuanya begitu antusias mengikuti, "Pokoknya, pecah abis," demikian kata salah seorang peserta.

Namun apa mau dikata, keseruan Ngopi bareng detikINET di Banyuwangi akhirnya harus disudahi karena mulai terbenamnya matahari. Sebagai penutup, selfie keroyokan pun dilakukan sebagai acara pamungkas. Cheese...

Tak lupa, terima kasih pula atas dukungan para narasumber, Telkomsel, Pemkab Banyuwangi dan para pelajar dari kota Bumi Blambangan sehingga acara ini bisa berlangsung dengan meriah dan lancar. Sampai jumpa di acara Ngopi bareng detikINET berikutnya!

(kredit foto: Babab Dito)

(ash/rns)