Rabu, 19 Des 2018 00:00 WIB

Kompetisi Startup Kemenperin Buktikan RI Mampu Bersaing di Era Industri 4.0

Advertorial - detikInet
Penghargaan 5 Startup Terbaik Kompetisi Making Indonesia 4.0 Startup oleh Menperin Airlangga Hartarto didampingi oleh Dirjen IKM Gati Wibawaningsih (Foto: dok. Kementerian Perindustrian) Penghargaan 5 Startup Terbaik Kompetisi Making Indonesia 4.0 Startup oleh Menperin Airlangga Hartarto didampingi oleh Dirjen IKM Gati Wibawaningsih (Foto: dok. Kementerian Perindustrian)
Jakarta - Pergerakan startup, terutama yang bergerak di bidang teknologi, menjadi perhatian pemerintah Indonesia. Tak terkecuali bagi Kementerian Perindustrian (Kemenperin) sebagai leading sector revolusi industri ke-4. Kemenperin terus berupaya mewujudkan Making Indonesia 4.0, salah satunya dengan menggelar program kompetisi 'Making Indonesia 4.0 Startup'.

Kompetisi yang bertujuan mempertemukan inovasi startup dengan kebutuhan industri serta masyarakat ini menyasar teknologi berbasis revolusi industri 4.0. Mulai dari big data, cloud computing, artificial intelligence, Augmented/virtual reality, automation, robotic, internet of things, hingga printer 3D.

Ada 161 peserta yang ikut mendaftar dalam kompetisi yang diluncurkan pada 6 September 2018. Kemudian 15 peserta dipilih dan harus melalui tahap pitching di hadapan tim juri. Adapun juri yang menilai di antaranya Amalia Suzianti dari Universitas Indonesia, Benny Soetrisno dari Kemenperin, Budiman Wikarsa dari AWS, Valencia Dea dari Angin, dan Indra Purnama dari Mikti/Angel.id.

Setelah melalui tahap pitching, Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kemenperin menggelar Semarak Festival IKM 2018 pada Kamis (13/12/2018) untuk mengumumkan hasil pitching. Hal ini dilakukan demi menunjukkan kinerja dan prestasi Industri Kecil dan Menengah (IKM).

Di acara ini, 5 startup terbaik mendapatkan hadiah masing-masing sebesar Rp 50 juta yang diserahkan langsung oleh Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto.

"Saya mengajak seluruh aspek masyarakat, asosiasi, komunitas, kementerian/lembaga, dan peran swasta untuk bersama-sama berkolaborasi mendukung IKM Indonesia untuk lebih maju. Khususnya menuju era revolusi industri ke-4 demi masa depan Indonesia yang lebih baik," ujar Airlangga.

Sementara itu, Direktur Jenderal IKM Gati Wibawaningsih menjelaskan program ini diharapkan membuat Indonesia siap menghadapi era revolusi industri keempat.

"Dengan adanya program Making Indonesia 4.0 Startup, diharapkan Indonesia semakin siap menghadapi era revolusi industri ke-4 dengan startup yang mampu memberikan layanan teknologi di bidang tersebut kepada industri, khususnya dan masyarakat pada umumnya," katanya.

Kompetisi Startup Kemenperin Buktikan RI Mampu Bersaing di Era Industri 4.0Menperin Airlangga Hartarto beserta Dirjen IKM Gati Wibawaningsih meninjau booth finalis kompetisi pada Festival Semarak IKM 2018 (Foto: dok. Kementerian Perindustrian)

Berikut 5 startup terbaik di ajang kompetisi Making Indonesia 4.0 Startup.

Bantuternak

Bermula dari sociopreneur yang berperan sebagai penghubung antara pemilik modal investasi dengan peternak, Bantuternak mengembangkan Pantauternak yakni sebuah alat berbasis Internet of Things untuk memantau kondisi sapi secara real time. Data yang diberikan meliputi suhu tubuh, perkembangan berat badan, lokasi sapi, dan teknologi anti maling.

Startup asal Yogyakarta yang tergabung dalam Innovation Academy ini meyakini Pantauternak akan menjadi potret modernisasi industri peternakan masa depan. Hasil pengembangannya tersebut dapat dilihat di website www.bantuternak.com.

PT. Mitra Sejahtera Membangun Bangsa

PT. Mitra Sejahtera Membangun Bangsa (MSMB) berawal dari startup agriculture technology bernama RiTx. Startup tersebut bertujuan membantu petani lokal Indonesia dengan menciptakan teknologi pertanian yang terintegrasi dengan aplikasi.

Berkembang tidak hanya ke pertanian, MSMB memberikan solusi bagi perikanan (FisTx), peternakan (LiTx), dan FoodTx (teknologi pangan). RiTx memanfaatkan sensor-sensor seperti soil & weather sensor dan memberikan data real time melalui aplikasi. Hasil pengembangannya tersebut dapat dilihat melalui website www.msmbindonesia.com.

Khaira Energy

Startup asal Bandung ini hadir sebagai solusi kemandirian dan manajemen energi berbasis teknologi 4.0. Mengkombinasikan sistem baterai pintar dengan energi surya menjadi energi terbarukan yang lebih terjangkau dan efisien, Khaira Energy menggabungkannya dengan teknologi penyimpanan cerdas, IoT, serta cloud computing.

Hal tersebut dilakukan guna mengajak industri, dunia usaha, bahkan perumahan beralih ke energi terbarukan paling hemat biaya. Hasil pengembangannya tersebut dapat dilihat melalui website www.khairaenergy.com.

Neurabot

Neurabot menghadirkan solusi TeleLaboratory #1 (Platform Laboratorium Digital) untuk membantu profesi di bidang kesehatan & BioTech memprediksi serta memverifikasi suatu obyek sel dengan artificial intelligence.

Startup asal Yogyakarta yang sedang mencari seed funding ini optimis artificial intelligence dapat menciptakan masa depan yang lebih baik di dunia kesehatan. Hasil pengembangannya tersebut dapat dilihat melalui website www.neurabot.io.

Pigmi Mini 3D Printer

Latar belakang lahirnya Pigmi Mini 3D Printer berawal dari melihat banyaknya kebutuhan UMKM untuk mencetak 3 dimensi. Namun tidak semua UMKM mempunyai komputer yang dapat menjalankan printer 3D.

Untuk itu, Pigmi didesain untuk dijalankan hanya dengan smartphone dan siap memenuhi kebutuhan industri maupun individual seperti pembuatan purwarupa, produk, komponen robotika, cetakan makanan, action figure, dan lainnya. Hasil pengembangannya tersebut dapat dilihat melalui website www.Pigmi3d.id.

Kompetisi Startup Kemenperin Buktikan RI Mampu Bersaing di Era Industri 4.0Finalis kompetisi Making Indonesia 4.0 Startup pada Festival Semarak IKM 2018 (Foto: dok. Kementerian Perindustrian)

Berikut daftar finalis kompetisi Making Indonesia 4.0 Startup.

FishOn

FishOn merupakan aplikasi yang dapat digunakan oleh nelayan sebagai pemandu ke tempat berkumpulnya ikan. FishOn mengoptimalkan data yang di dapat dari pencitraan satelit untuk memetakan posisi ikan di seluruh Indonesia.

Melalui produknya, FishOn berharap dapat membantu nelayan menghemat biaya operasional dengan hasil tangkapan optimal. Fishon bahkan bisa beroperasi menggunakan koneksi satelit jika di laut tidak ada sinyal operator selular. Hasil pengembangannya tersebut dapat dilihat melalui website www.fishon.id.

eTanee

Lahir dari pengamatan akan rantai logistik dan pengiriman produk pangan yang kurang efisien, eTanee membangun ekosistem rantai pasok digital sekaligus marketplace. eTanee menggunakan teknologi system automation dan cloud computing untuk menghubungkan rantai supply, logistik, order dan pengantaran ke lokasi konsumen.

Dilengkapi teknologi location based marketplace, produk yang dibeli diantar di hari yang sama dengan waktu kurang dari 60 menit. Hasil pengembangannya tersebut dapat dilihat melalui website www.eTanee.id.

Mokko Engineering

Startup besutan anak-anak Surabaya lulusan teknik elektro ini fokus di bidang sistem otomasi (mekanik dan elektrik), modifikasi mesin, training centre, serta konsultansi sistem otomasi. Mokko mengajak masyarakat menggunakan mesin industri buatan dalam negeri yang mampu menyaingi mesin-mesin dari luar negeri. Startup inkubasi dari UPT Inkubator ITS membawa hasil karyanya yaitu mesin quality control pendeteksi bumbu mie (noodle seasoning checker).

Jeager

Seiring dengan berkembangnya teknologi Internet of Things, para founder jeager melakukan riset dan validasi solusi IoT untuk membantu industri manufaktur nasional. Jeager mengklaim produknya mampu membantu perusahaan manufaktur mendapatkan data mesin secara realtime dan valid. Selain itu juga membantu pemeliharaan dan perawatan mesin berbasis predictive analytics. Hasil pengembangannya tersebut dapat dilihat melalui website www.jeager.io.

Machine Vision

Startup asal Surabaya ini mengusung misi peningkatan produktivitas manufaktur melalui Internet of Things (IoT) dan Big Data. Melihat kondisi manufaktur Indonesia yang padat karya, Machine Vision percaya Overall Equipment Effectiveness (OEE) sebuah perusahaan merupakan interaksi antara manusia dan mesin yang harmonis. Hasil pengembangannya tersebut dapat dilihat melalui website www.machinevision.global.

Kharisma Corp

Dari Bogor, startup berbasis smart farming pada green house ini berawal ketika para founder-nya melakukan praktik lapangan dan menemukan kendala. Para pekerja harus berkeliling green house untuk pengambilan data. Kharisma Corp memberikan solusi Crop Hero 1.0 dan Crop Hero 2.0 yang sudah dilengkapi dengan sensor suhu, kelembaban, dan intensitas cahaya. Crop Hero 2.0 sudah dilengkapi dengan fitur IoT sehingga pengguna dapat memantau data yang dihasilkan lewat gawai. Hasil pengembangannya tersebut dapat dilihat melalui Instagram @kharismacrop.

Neurafarm

Dengan visi menyediakan teknologi untuk modernisasi proses dan kegiatan pertanian, startup hasil inkubasi LPIK Institut Teknologi Bandung melahirkan 'Dr. Tania'. Sebuah aplikasi berbasis artificial intelligence dalam bentuk chatbot yang memberikan solusi lengkap penanganan penyakit tanaman dari hasil deteksi foto. Hasil pengembangannya tersebut dapat dilihat melalui website www.neurafarm.com.

Linimasa AR Card Game

Linimasa Augmented Reality Card Game adalah wujud impian masa kecil dari sang founder, yaitu menjadikan pelajaran sejarah mudah dan menyenangkan lewat game. Melalui teknologi augmented reality dan dikemas dalam bentuk permainan, startup asal kota Pahlawan Surabaya ini menjual produknya dengan harga cukup terjangkau yaitu Rp 85 ribu. Hasil pengembangannya tersebut dapat dilihat melalui Instagram @linimasa.sejarah.cardgames.

Mapid

Startup asal Bandung ini membawa semangat generasi milenial yang siap menghadapi revolusi industri 4.0. Mapid menggabungkan pemanfaatan data geospasial dan IoT menjadi sebuah platform berbasis peta. Sehingga dapat diintegrasikan dengan berbagai macam sensor untuk monitoring secara otomatis dan dapat digunakan oleh siapa saja secara massal. Hasil pengembangannya tersebut dapat dilihat melalui website www.mapid.io.

Biops Agrotekno

Menyadari bahwa pertanian merupakan sektor penting bagi Indonesia, startup asal LPIK ITB ini percaya bahwa kemajuan dan kemandirian pertanian Indonesia akan terwujud dengan adanya inovasi dan penerapan teknologi. Biops Agrotekno membangun Encomotion yang terdiri dari 3 modul, yaitu data logger yang merekam kondisi lingkungan, aktuator yang menerima perintah dari server untuk melakukan penyiraman. Bahkan dilengkapi mobile application yang dapat memberikan informasi real time kepada pengguna sistem.

Kompetisi Making Indonesia Startup 4.0 membuktikan bahwa Indonesia mampu dan optimis mewujudkan Making Indonesia 4.0. (adv/adv)


Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed