Selasa, 11 Jul 2017 08:45 WIB

Tapal Batas

Warga Merauke Mulai Rasakan Manfaat Internet

Achmad Rouzni Noor II - detikInet
Foto: Hasan Al Habshy Foto: Hasan Al Habshy
Merauke - Meskipun hidup di wilayah paling ujung timur Indonesia, warga Merauke hingga Sota ternyata tak terkucilkan di dunia maya berkat kehadiran internet. Bahkan, mereka cukup konsumtif jika melihat pertumbuhan trafiknya.

Dari data yang dipaparkan Telkomsel, tercatat ada 232.169 pelanggan mereka yang tersebar di seluruh penjuru kota Merauke hingga perbatasan Sota. Angka pelanggan itu ternyata melebihi jumlah penduduk yang aslinya cuma 200 ribuan.

"Itu karena ada cukup banyak pelanggan kami di Merauke yang menggunakan lebih dari satu ponsel. Satu buat teleponan dengan 2G, satu lagi untuk internetan dengan 3G atau 4G," kata Ardhyo Adli, Manager Branch Timika saat ditemui di kantor Telkomsel Distribution Center (TDC) Merauke.

Foto: Achmad Rouzni Noor II/detikINET


Telkomsel sendiri telah membangun 205 radio base station (BTS) hingga pertengahan 2017 ini dengan rincian BTS 2G sebanyak 68, BTS 3G ada 95, dan BTS 4G atau eNode B ada 41. Tahun 2017 ini, Telkomsel juga akan menambah 14 BTS 3G lagi.

"Total device yang tercatat di jaringan kami ada 235.145 unit dengan device 4G sebanyak 54.050, tapi yang sudah berlangganan 4G baru 31.788. Nanti akan kami gencarkan lagi untuk beralih ke paket 4G," lanjut Ardhyo.

Meskipun baru 31.788 pelanggan yang menggunakan paket 4G, namun pelanggan lainnya tak kalah gencar internetan. Buktinya, kata Andi Muhlis, Manager NSA Timika Telkomsel, trafik data di jaringan operator itu terus melesat dari tahun ke tahun.

"Di sepanjang 2016 lalu saja pertumbuhan trafik datanya naik 239,95%. Itu artinya dua kali lipat lebih dari tahun sebelumnya. Di tahun 2017 ini pastinya akan lebih pesat lagi karena sudah banyak yang pakai ponsel 4G," jelas Andi.

Ujian Nasional Berbasis Komputer

Penggunaan akses internet lewat seluler memang sudah jadi kebutuhan warga Merauke. Apalagi, sekolah-sekolah di kota itu sudah menggunakan internet untuk ikut Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK).

Untuk bisa ikut serta UNBK, tentu diperlukan perangkat komputer yang bagus, jaringan internet yang stabil, dan para siswa yang paham pengoperasian internet. Untung saja sudah ada jaringan 4G Telkomsel di kota ini.

Foto: Danu Damarjati/detikcom


Tim Tapal Batas pun kemudian mengunjungi SMK Negeri 1 Sota yang terletak di Jalan Trans Papua, 79 Kilometer jauhnya dari Kota Merauke. Sekolah ini terletak di lingkungan tepi Taman Nasional Wasur. Kiri dan kanan pemandangannya hutan, rawa, dan semak belukar.

Meski letak sekolahan ini berada di pinggir hutan, bukan berarti sekolahan ini jauh dari teknologi informasi. Internet dari Telkomsel sudah ada sejak Juli 2016 di sini. Menara sinyal selular tinggi menjulang di dekat gedung.

Saat ditemui, Pelaksana tugas (Plt) Kepala Sekolah SMK Negeri1 Sota, Arnoldus Asgon, menceritakan pengalaman pertama sekolah ini menggelar UN Berbasis Komputer.

Foto: Hasan Al Habshy


"Awalnya kami ragu," kata Arnold.

Bayangan kegagalan menghantui pihak sekolah sebelum memutuskan menggelar UNBK pada April 2017. Soalnya pada UN sebelumnya yang tanpa komputer, siswa-siswi di sini tidak semuanya bisa lulus. Apalagi kini siswa-siswi disuruh mengerjakan soal-soal sulit menggunakan komputer, apa jadinya nanti?

SMK jurusan pertanian dan peternakan ini punya 100 siswa dengan jumlah guru 23 orang. 18 Di antaranya adalah anak kelas tiga yang harus mengikuti UN. Arnoldus takut UNBK bakal menyulitkan anak-anak.

Tapi 'the show must go on', UNBK memang harus digelar di sini. Komputer sudah tersedia, server sudah ada, sinyal internet Telkomsel sudah stabil. UNBK harus dihadapi siswa-siswi di kawasan tapal batas negara ini.

"Persiapannya adalah lewat pelajaran TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi), mata pelajaran Keterampilan Komputer dan Pengolahan Informasi (KKPI). Setelah itu simulasi dua kali, gladi bersih satu kali," kata pria asal Serui Papua ini.

Foto: Hasan Al Habshy


Kami melangkah menuju laboratorium bahasa di kelas pojok. 20 unit komputer berjajar rapi, plastik-plastik masih menempel di bagian perangkatnya. Meja, kursi, dan karpet dalam kondisi bersih.

Di samping, jendela kaca menyambut hutan belantara Wasur. Penyejuk udara 320 qatt kadang-kadang diabaikan meski cuaca terik seperti saat kami berkunjung, jendela yang dibuka membawa udara yang cukup menenangkan.



Komputer-komputer inilah yang digunakan para siswa menempuh UNBK. "Ketika dikasih simulasi, dikasih pemahaman, mereka bisa kok menggunakan komputer," kata Arnold.

Hari yang dinantikan telah tiba. Para siswa sudah siap siaga di depan layar mereka masing-masing saat itu. UNBK di tepi hutan Wasur dimulai. Entah bagaimana hasil akhirnya yang diumumkan 2 Mei lalu.

Foto: Hasan Al Habshy


"Di luar dugaan saya. Awalnya saya takut. Ternyata lulus 100 persen!" kata Arnold dengan mata berbinar.

Simak terus cerita lainnya tentang daerah terdepan Indonesia hanya di tapalbatas.detik.com! (rou/rou)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed