Kamis, 27 Apr 2017 11:03 WIB

Menakar Harga Lelang dan Peluang Operator di 2,1 GHz

Achmad Rouzni Noor II - detikInet
Foto: Rachman Haryanto Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Empat operator seluler akan segera memperebutkan sisa kanal frekuensi yang tersedia di spektrum 2,1 GHz dan 2,3 GHz untuk tambahan amunisi jaringan 3G dan 4G mereka.

Operator yang dimaksud adalah Telkomsel, Indosat Ooredoo, XL Axiata, dan Hutchison 3 Indonesia (Tri). Siapa kira-kira yang akan jadi pemenang?

Keempatnya masih berpeluang untuk mendapatkan tambahan spektrum karena pemerintah akan melelang frekuensi sebanyak dua blok, masing-masing 5 MHz di 2,1 GHz. Sedangkan di 2,3 GHz, yang akan dilelang selebar 15 MHz dari sisa kosong sebanyak 30 MHz.

Sementara Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara memastikan hanya operator existing saja yang diperbolehkan bertarung untuk mendapatkan tambahan frekuensi demi mengatasi permasalahan kapasitas dalam melayani trafik data.

"Untuk tender 2,1 GHz dan 2,3 Ghz, Mei ini akan dikeluarkan Peraturan Menteri (Permen) untuk tender kedua frekuensi itu," papar menteri yang akrab disapa Chief RA ini belum lama ini dalam sebuah kesempatan di Jakarta.

Tentunya, para operator yang sudah disebut namanya di atas tengah harap-harap cemas menanti Permen itu segera keluar. Pasalnya, bulan Mei hanya tinggal menghitung hari saja.

Mereka tentu tak sabar untuk segera memperebutkan sumber daya yang kelak bisa jadi amunisi persaingan di era koneksi data seluler ini. Apalagi dengan kondisi sekarang dimana sumber daya frekuensi begitu langka.

Namun dari hasil analisa Sekjen Pusat Kajian Kebijakan dan Regulasi Telekomunikasi ITB Muhammad Ridwan Effendi, dari keempat operator itu, semua punya peluang yang sama meski tak semuanya dalam taraf urgensi untuk mendapatkan tambahan kanal baru.

Menakar Harga Lelang dan Peluang Operator di 2,1 GHzFoto: detikINET/Achmad Rouzni Noor II


"Semua operator punya peluang karena pemenang lelang ditentukan oleh harga tertinggi," kata Ridwan yang sempat dua periode menjabat sebagai anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI).

Dari catatannya mengurus lelang 2,1 GHz, harga penawaran (bidding) terus naik sesuai dengan faktor acuan suku bunga dari Bank Indonesia (BI rate). Selain itu juga masih ditambah biaya di muka (upfront fee) untuk Biaya Hak Penggunaan (BHP) frekuensi.

"Tahun 2006, lelang pertama Rp 160 miliar. Tahun 2009, kanal kedua masih harga sama Rp 160 miliar. Tahun 2013, kanal ketiga Rp 256 miliar. Semua plus upfront fee 2x BHP di tahun pertama," jelas Ridwan.

Lantas, berapa estimasi harga lelang di tahun 2017 ini? Ridwan pun melanjutkan analisanya. Menurut dia, untuk lelang tahun 2013, angkanya naik dari Rp 160 miliar menjadi Rp 256 miliar. Dalam 7 tahun naik Rp 96 miliar.

Angka tersebut dihitung dari Rp 160 miliar x (1+R) pangkat 7. R yang dimaksud adalah faktor dari BI rate tadi. "Jadi tahun ini, angkanya X = Rp 160 miliar x (1+R) pangkat 11. Silakan dihitung sendiri," ujarnya.

Peluang Operator

Dari dua spektrum frekuensi yang akan dilelang, Kominfo disarankan untuk melelang kanal frekuensi di 2,1 GHz terlebih dahulu ketimbang berlarut-larut karena masih terkendala masalah hukum di spektrum 2,3 GHz.

"Ada baiknya lelang dilakukan terpisah antara 2,1 GHz dan 2,3 GHz, sehingga untuk blok yang tidak mempunyai masalah hukum lelangnya didahulukan, sementara blok 2,3 GHz boleh ditunda. Toh, peserta lelang sudah jelas hanya empat operator," ujar Ridwan.

Dari keempat operator itu, semua memiliki peluang yang sama karena faktornya ditentukan oleh penawaran tertinggi. Tapi karena di 2,1 GHz cuma ada dua blok kanal yang tersedia, kemungkinan yang akan menang hanya satu atau dua operator saja. Sehingga yang menjadi faktor utama menjadi pemenang, urgensi mendapat tambahan frekuensi serta dukungan finansial.

"Kalau diurut, yang perlu frekuensi itu Telkomsel, Tri, XL, baru Indosat. Kalau Telkomsel hanya bid satu blok, maka Tri pantas yang kedua karena paling kesulitan frekuensi. Tri pertumbuhannya relatif cepat setelah Telkomsel, terutama pelanggan data," papar Ridwan.

Tri sendiri saat ini hanya menguasai lebar spektrum 20 MHz, dimana 10 MHz di frekuensi 1.800 MHz dan 10 MHz lagi di 2,1 GHz. Sementara ketiga operator lainnya menguasai spektrum 900 MHz, 1.800 MHz, dan 2,1 GHz dengan lebar pita 40 MHz lebih.

"Secara obyektif, yang paling baik kondisi keuangannya ya Telkomsel. Yang lain kalau tidak didukung induknya, repot. Di tahun 2006, jelas Telkomsel yang paling berani bid paling mahal," kata Ridwan.

"Sementara kalau dari analisis, Indosat belum perlu tambahan. Tapi kalau ada peluang, tentunya Indosat akan ikut juga dong. Dugaan saya, induk perusahaan akan kasih gelontoran," lanjutnya.

Sedangkan XL, tentunya juga akan memanfaatkan peluang ini untuk merebut kembali dua kanal yang mereka lepas di 2,1 GHz demi mendapatkan spektrum Axis Telekomunikasi Indonesia di 1.800 MHz lewat aksi merger akuisisi. XL pun menurut Ridwan, tentunya ingin juga menambah kapasitas mumpung ada peluang.

"Kalau pemenangnya Telkomsel atau Tri, mereka tidak perlu komitmen lagi karena jelas akan dipakai untuk capacity," pungkas Ridwan. (rou/rou)
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed