Kamis, 17 Mar 2016 08:50 WIB

Khoirul Anwar Luruskan Polemik 'Penemu 4G LTE'

Rachmatunnisa - detikInet
Foto: dok. detikINET Foto: dok. detikINET
Jakarta - Kiprah anak bangsa di dunia internasional selalu menjadi sorotan. Khoirul Anwar adalah salah satunya. Namun prestasinya dalam dunia teknologi telekomunikasi rupanya sedikit diwarnai miskomunikasi.

Beberapa tahun belakangan, seiring mulai dikenalnya teknologi 4G LTE di Indonesia, namanya ramai disebut sebagai penemu 4G LTE. Pria bergelar Dr. Eng. ini jadi punya PR baru untuk meluruskannya.

Bukan tanpa sebab, pasalnya Khoirul tidak pernah mengklaim dirinya sebagai penemu 4G LTE. Penjelasannya mengenai temuan konsep dua Fast Fourier Transform (FFT) yang di kemudian hari dipakai dalam teknologi 4G LTE, sering diartikan secara sederhana oleh awam menjadi 'Khoirul Anwar penemu 4G LTE'.

Dalam salah satu catatan blognya pada Desember 2014 berjudul 'Mimpi Saat Menjadi Mahasiswa: Standard ITU vs Penemu 4G LTE', Khoirul pun pernah berupaya meluruskannya.

"Saya tidak menulis sebagai penemu 4G LTE karena 4G LTE sendiri seharusnya memang tidak ditemukan, melainkan disepakati. Forumlah yang menyepakati teknik tertentu untuk dipakai atau tidak dipakai dalam sebuah standard," tulisnya.

Secara sederhana, teknologi LTE terdiri dari banyak sekali komponen. Di antara sekian banyak komponen pembentuknya, Khoirul pencipta salah satunya yang juga menjadi standard ITU-R.

Dimulai pada 2010


Khoirul sendiri tidak tahu siapa yang memulai penyebutannya sebagai penemu 4G LTE. Yang pasti, dia selalu menyebutkan bahwa dirinya menemukan konsep dua FFT.

"Kalau tidak salah dimulai sekitar 2010-2011, saat 4G belum terkenal. Yang jelas saya bilang bahwa saya menemukan konsep dua FFT. Dan ternyata 4G system di masa depan menggunakan konsep dua FFT juga," terangnya saat dikonfirmasi detikINET, Kamis (17/3/2016).

Konsep tersebut kemudian menjadi standar International Telecommunication Union (ITU) dan dipatenkan pada 2005. Konsep dua FFT ini dijelaskan Khoirul melakukan perbaikan yang luar biasa dibandingkan dengan konsep satu FFT yang sekarang dipakai.

"Kira-kira itu yang saya sampaikan. Nah, saat 4G standard keluar, Sensei atau Profesor saya bilang: 'Anwar, this is your technique'. Bagi saya ini luar biasa," sebutnya.  

Namun pria kelahiran Kediri ini tidak mengartikan kalimat Sensei-nya tersebut sebagai 'penemu 4G LTE'. Kegembiraannya lebih karena apa yang dirumuskannya terbukti. "Konsep yang selama ini saya pikirkan berarti memang benar," ujarnya.

Dalam kesempatan ini Khoirul juga menampik tudingan yang mengatakan dirinya membiarkan publik menyebutnya sebagai penemu 4G LTE. Menurut pria yang kini tinggal di Jepang ini, selain melalui blog, dia selalu berupaya meluruskannya di setiap acara di mana dirinya menjadi pembicara.

"Ini tuduhan tidak benar. Jadi jika panitia (seminar/konferensi) tanya sebelum bikin banner, saya minta ditulis sebagai penemu teknik Standard International ITU. Jika tidak konfirmasi, itu yang tidak bisa saya koreksi. Tapi biasanya saya koreksi oral saat presentasi. Saya jelaskan masalahnya," terangnya.

Kontroversi

Sejumlah peneliti berpendapat, konsep dua FFT yang disampaikannya bukan hal baru. Seperti yang baru-baru ini dikemukakan Dr. Basuki Priyanto dan Dr. Eko Onggosanusi. Keduanya berpendapat, konsep dua FFT tersebut sudah dipublikasikan pada 2002.

"Konsep dua FFT ini baru dan paten granted serta menjadi standard international ITU. Karena kalau tidak baru kan harusnya tidak lolos patent dan tidak menjadi standard," kata Khoirul menjawab pendapat tersebut.

Dikatakannya, hingga sebuah temuan akhirnya berhasil dipatenkan, prosesnya lama dan berliku. Peneliti lain boleh membantah atau meragukannya, dan di sinilah kegigihan si penemu konsep memperjuangkan temuannya diuji.

Ini juga yang terjadi pada Khoirul dengan temuan konsep dua FFT-nya. Berkali-kali diprotes karena diklaim mirip dengan paten milik orang lain, sudah dialaminya.

"Jadi saya diminta membuktikan bahwa ini baru. Akhirnya kembali menurunkan rumus untuk membuktikannya. Berkali-kali dan ganti-ganti paper. Bahkan ada paten lain yang harus dibaca karena mirip. Akhirnya menurunkan rumus lagi untuk membuktikan berbeda. Sampai finalnya menjadi standard ITU dan tidak ada lagi review dan protes dari reviewer," kenangnya.

Protes di dunia penelitian, menurut Khoirul suatu hal yang biasa terjadi. Untuk menjawabnya, semua akan kembali lagi pada perumusan masalah hingga bisa dibuktikan bahwa temuannya bersifat baru.

Khoirul pun mengusulkan peneliti yang ingin menyampaikan pendapat mengenai keraguan mereka terhadap hasil temuannya, bisa menulis opini bareng dengannya. Menurutnya, ini perlu dilakukan agar tidak terjadi distorsi informasi, dan publik mendapatkan informasi berimbang serta lengkap.

Tiga Paten di Dunia Teknologi

Saat ini, ada tiga paten milik Khoirul di dunia teknologi telekomunikasi. Pertama, paten terkait dengan TX dan RX menggunakan dua FFT.

"Klaimnya adalah semua sistem komunikasi yang menggunakan dua FFT. Makanya logikanya 4G LTE bakal kena. Menurut saya yang menentukan adalah pengadilan," sebutnya.

Kedua, paten terkait dengan sistem komunikasi broadband tanpa guard interval. Teknologi ini bisa dipakai untuk 4G, berpotensi digunakan dalam 5G dan sistem komunikasi private internal sebuah perusahaan.

Yang terakhir adalah paten terkait dengan sistem deteksi illegal transmitter, juga berpotensi dipakai dalam teknologi 5G. Meski demikian, dikatakan Khoirul penggunaannya bisa lebih luas lagi.

"Tapi juga tidak harus 5G. Bermanfaat juga misalnya saat nanti ada Tokyo Olympic 2020. Orang akan ramai banget dan bisa jadi ada transmitter yang di luar ketentuan Jepang," tutupnya. (rns/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed