Selasa, 23 Sep 2014 13:11 WIB

Selamat Tinggal FWA & CDMA

- detikInet
Ilustrasi (gettyimages) Ilustrasi (gettyimages)
Jakarta - Setelah sekian lama, duet layanan fixed wireless access (FWA) dan teknologi Code Division Multiple Access (CDMA) harus mengucapkan selamat tinggal kepada para penggunanya di Indonesia.

Sepuluh tahun silam, FWA sempat menjadi jawaban untuk melayani wilayah terbatas antarkota kala duopoli Telkom dan Indosat tak lagi mampu untuk membangun telepon kabel berbasis PSTN. Masalah biaya jadi penyebabnya.

Dalam catatan detikINET, biaya untuk membangun satu sambungan telepon lewat kabel waktu itu memang mahal. Sangat timpang satu berbanding 70. ‎Telepon nirkabel jelas jauh lebih murah.

Untuk meminimalisir biaya, maka CDMA menjadi pilihan. Harga teknologinya yang lebih murah dibandingkan GSM membuatnya jadi opsi untuk menggelar yang namanya Flexi dan kemudian StarOne.

Mulanya, layanan FWA dengan CDMA ini cukup sukses sebagai alternatif seluler ‎GSM yang masih mahal. Wajar saja, dari sisi lisensi keduanya berbeda. Seluler lisensinya jauh lebih mahal karena cakupannya nasional. Sementara FWA hanya terbatas satu kode area.

FWA makin menjadi-jadi setelah Bakrie Telecom ikut masuk dengan gebrakan Esia. Tarif telepon Rp 1.000 untuk talktime 1 jam jadi andalan. Flexi milik Telkom dan StarOne Indosat pun ikut banting harga. Kemudian ada pula FWA milik Mobile-8 dengan brand Hepi yang sempat hadir sebagai penggembira.

Namun sayangnya, bulan madu FWA tak berlangsung lama. ‎Iklim ‎kompetisi yang ketat di industri telekomunikasi membuat FWA cepat menemui senjakala sejak seluler GSM tak lagi identik dengan tarif mahal.

Harga yang bersaing dengan cakupan nasional membuat FWA CDMA kian tersungkur. Pendapatan operator penyelenggaranya kian berdarah-darah. Bisa dibilang, dalam beberapa tahun terakhir ini, FWA CDMA hidup menderita. Mati segan hidup tak mau.

Berbagai opsi penyelamatan coba ditempuh. Namun sayangnya, semua kandas. Tak ada lagi harapan untuk FWA CDMA. Sementara, bisnis harus terus berjalan.

Maka jalan terakhir pun dipilih: FWA dimatikan, lisensinya dicabut untuk kemudian dikembalikan dalam bentuk lisensi seluler, tentunya dengan teknologi yang tak cuma terpaku CDMA yang juga tengah mendekati akhir.

Dengan teknologi netral, artinya operator bebas saja mau pakai teknologi apa asal masih bisa menggelar layanan sesuai dengan lisensi dan kondisi kekinian. Mau 3G boleh, 4G silakan, atau nanti 5G, tak lagi masalah.

"FWA yang ada sekarang sesungguhnya sudah selular, bisa dibawa ke mana-mana," kata Muhammad Ridwan Effendi, Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) saat berbincang dengan detikINET, Selasa (23/9/2014).

Berhubung hampir tak ada lagi bedanya antara FWA dan seluler, baik itu dari segi tarif maupun jangkauan layanan, maka regulator pun merasa tak ragu-ragu lagi mengakhiri nyawa FWA dan CDMA di Indonesia.

"Dengan keluarnya Permen 800 MHz itu artinya FWA dicabut. Tak ada lagi teknologi 'banci' dan sudah digantikan dengan teknologi netral," kata Muhammad Budi Setiawan, Dirjen Sumber Daya Perangkat Pos Informatika Kementerian Kominfo‎.

Dengan demikian, ini artinya kita sudah bisa bilang selamat tinggal pada FWA dan CDMA untuk kemudian mengucapkan selamat datang pada era 4G LTE dengan teknologi netral 'semau gue'.

(rou/ash)
-

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed