Jumat, 26 Apr 2013 18:19 WIB

Kominfo & Kemenhub Geber Sweeping Frekuensi Radio

- detikInet
(Ist) (Ist)
Jakarta - Frekuensi radio untuk penerbangan bisa mengalami gangguan dari stasiun radio di sekitarnya, terutama stasiun radio amatir liar. Untuk itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melakukan sweeping <\/em>untuk pengamanan spektrum frekuensi radio untuk keperluan penerbangan.

Kedua lembaga, pada Jumat, (26\/4\/2013), menandatangani kesepakatan untuk semakin gencar melakukannya. Dirjen Perhubungan Udara, Herry Bhakti menyebutkan, ditandatanganinya kesepakatan ini bermula dari kasus jatuhnya pesawat Sukhoi di Gunung Salak tahun lalu.

\\\"Jatuhnya Sukhoi pada waktu itu disinyalir karena gangguan sinyal frekuensi. Kesepakatan ini juga merupakan rekomendasi Komisi I DPR agar nantinya tidak ada lagi masalah terkait dengan frekuensi sebagai penyebab kecelakaan pesawat,\\\" uajrnya dalam penandatangan MoU di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta, Jumat (26\/4\/2013).

Dalam melakukan penerbangan, pesawat menggunakan frekuensi radio pada rentang 110 MH7-180 MHz. Masalahnya, frekuensi ini berhimpitan dengan broadcasting <\/em>atau stasiun radio.

Dikatakan Dirjen SDPPI (Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika) Muhammad Budi Setiawan, sebelum adanya MoU, kedua lembaga memang sudah giat melakukan sweeping <\/em>frekuensi radio yang menggangu. Namun kerap terkendala karena belum bersinergi.

\\\"Dengan MoU ini jadi nanti di lapangan teman-teman lebih enak. Kalau dulu staf saya mau ke bandara, karena tidak mengerti ada kerjasama seperti ini kemungkinan ditolak atau dipersulit, tapi dengan begini lebih enak,\\\" ujarnya.

Budi menambahkan, gangguan frekuensi penerbangan di sekitar bandara saat ini sudah cukup banyak berkurang. Sweeping<\/em> yang dilakukan Kemenhub dan Kominfo sudah sering mengedukasi stasiun radio agar tidak mengganggu.

\\\"Tiap hari kita (kerjasama) dengan balai monitoring. Kita kan <\/em>punya alat, terus juga dari bandara lapor ke kita. Kita kejar, misalnya ternyata ada di rumah itu, kita gerebek <\/em>dengan polisi suruh off<\/em>. Ada juga yang (radio) legal, tapi kegedean <\/em>powernya, tidak sesuai aturan suruh kecilin. <\/em>Ada yang memang stasiun radio liar, benar-benar harus ditertibkan,\\\" ujarnya.

Sampai saat ini memang belum terbukti kecelakaan pesawat diakibatkan dari frekuensi. Adapun sweeping <\/em>terhadap radio-radio amatir dilakukan untuk \\\'membersihkan\\\' gangguan terutama di sekitar bandara.

\\\"Pesawat jatuh karena ada orang nge-brick <\/em>misalnya belum pernah ada. Cuma pilotnya terganggu. Dia mau komunikasi dengan air traffic controller <\/em>tahu-tahu ada masuk dangdut misalnya,\\\" tandas Budi.
(rns/ash)
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed
  • Fuji Xerox Rilis 14 Mesin Cetak Multifungsi

    Fuji Xerox Rilis 14 Mesin Cetak Multifungsi

    Sabtu, 21 Jan 2017 09:54 WIB
    Fuji Xerox rilis 14 model mesin cetak multifungsi berwarna seri ApeosPort-VI C dan DocuCentre-VI C bagi segmen perkantoran skala kecil, menengah dan besar.
  • Menkominfo Bertemu Google, Bahas Pajak?

    Menkominfo Bertemu Google, Bahas Pajak?

    Jumat, 20 Jan 2017 20:43 WIB
    Usai merilis ponsel Digicoop, Menkominfo Rudiantara langsung buru-buru meninggalkan lokasi acara. Kabarnya, pria berkacamata itu akan bertemu perwakilan Google.
  • KPPU Soroti Persaingan di Telekomunikasi

    KPPU Soroti Persaingan di Telekomunikasi

    Jumat, 20 Jan 2017 20:04 WIB
    KPPU mencium adanya potensi persaingan usaha tidak sehat di industri telekomunikasi belakangan ini. Apalagi sejak ramai debat interkoneksi dan network sharing.
  • Digicoop Bakal Punya Varian RAM 6 GB

    Digicoop Bakal Punya Varian RAM 6 GB

    Jumat, 20 Jan 2017 19:38 WIB
    Digicoop bukan satu-satunya ponsel yang bakal dibesut Koperasi Digital Indonesia Mandiri. Ada ponsel lain yang juga disiapkan, salah satunya mengusung RAM 6 GB.