Selasa, 26 Mar 2013 14:27 WIB

Kominfo: Smartfren Bisa Kena Sanksi & Harus Ganti Rugi

- detikInet
Ilustrasi (detikINET) Ilustrasi (detikINET)
Jakarta - Kementerian Kominfo masih menelusuri kasus tumbangnya koneksi jaringan Smartfren sembari menunggu laporan resmi dari operator seluler CDMA itu. Jika terbukti bersalah, sang operator bisa dikenakan sanksi dan wajib membayar ganti rugi ke pelanggan.

"Kominfo memang cukup banyak terima keluhan soal koneksi Smartfren dalam dua hari ini. Kami sedang menelusuri persoalannya dimana dan nunggu laporan resmi dari Smartfren," kata Kepala Pusat Informasi dan Humas Kementerian Kominfo, Gatot S Dewa Broto saat dikonfirmasi detikINET, Selasa (26/3/2013).

Seperti diketahui, koneksi jaringan Smartfren dilaporkan mengalami masalah sejak beberapa waktu yang lalu. Smartfren dalam penjelasannya mengakui koneksi jaringan bawah lautnya terkena jangkar dari kapal sehingga memutuskan koneksi internet ke jalur internasional.

Tak hanya itu, meski jaringan untuk akses internet lokal atau dalam negeri diklaim tidak bermasalah, namun banyak pengguna Smartfren yang terus mengeluh tetap kesulitan untuk mengakses situs-situs lokal.

"Jika itu betul kesalahan Smartfren, harusnya segera diumumkan oleh korporat yang bersangkutan supaya tidak meresahkan pelanggan. Smartfren dan operator lainnya tentu tahu bahwa UU Telekomunikasi dan PP Penyelenggaraan Telekomunikasi mengatur tentang kualitas layanan dan juga soal ganti rugi," kata Gatot.

"Peraturan bawaannya kan ada dua, dilanggar atau dipatuhi. Tidak ada toleransi pembiaran. Jadi kami tetap menunggu laporan resmi dan akan kami cocokkan dengan verifikasi dari berbagai sumber. Kalau Smartfren salah, tidak tertutup kemungkinan kena teguran," tegasnya lebih lanjut.

Kasus yang menimpa Smartfren dengan putusnya jaringan submarine cable sejak tiga hari lalu dan menyebabkan terganggunya layanan ke konsumen dinilai Kominfo mirip-mirip dengan kejadian yang sempat dialami Telkomsel beberapa tahun lalu.

"Telkomsel saja di pergantian 2006 ke 2007 juga mengalami hal mirip dan langsung diganjar peringatan oleh BRTI (Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia), lalu kenapa yang ini nggak jika salah. Untungnya waktu itu Telkomsel cepat recovery dan ada pengakuan resmi dari korporat ke publik," kata Gatot.

Telkomsel saat pergantian tahun 2006 ke 2007 sempat mengalami masalah gangguan jaringan akibat menumpuknya trafik di saat bersamaan. Waktu itu jaringan kolaps akibat trafik Hari Raya Natal dan Idul Adha, serta Tahun Baru 2007 yang disertai berakhirnya program bonus yang ditawarkan kepada pelanggan.

Jaringan Telkomsel pun akhirnya tumbang tak kuasa menahan lonjakan trafik di penghujung 2006. Padahal, operator seluler terbesar itu sudah menyatakan kesiapannya dalam mengantisipasi hal itu.

Setelah meminta maaf atas kerugian pelanggan, Telkomsel juga memberikan ganti rugi antara lain perpanjangan waktu bagi pelanggan prabayar yang masa isi ulangnya berakhir 31 Desember 2006 serta pemberian alternatif penggantian bonus bagi pelanggan yang masih memiliki 'bonus menit' pada 31 Desember 2006.

Selain itu, Telkomsel juga memberikan program diskon antar pelanggan Telkomsel sebagai bentuk penghargaan atas pengertian seluruh pelanggan terhadap ketidaknyamanan layanan Telkomsel saat itu.

"Nah, soal ganti rugi untuk pelanggan Smarftren nanti tetap mengacu peraturan, tetapi mekanisme teknisnya diatur antara operator dan pelanggan, dan tetap harus report ke BRTI," pungkas Gatot.

(rou/ash)
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed