Kamis, 23 Nov 2017 18:40 WIB

Uber Dibobol Hacker, Ini Komentar Polisi

Agus Tri Haryanto - detikInet
Foto: ilustrasi: Zaki Alfarabi Foto: ilustrasi: Zaki Alfarabi
Jakarta - Uber, penyedia layanan transportasi online mengakui pernah mengalami serangan cyber. Pada insiden yang terjadi pada 2016 lalu itu, hacker berhasil membobol sebagian data dari 57 juta pengguna Uber. Uber menyelesaikannya dengan membayar tebusan.

Bagaimana menyikapi persoalan tersebut jika muncul di Indonesia? Mengingat kejadian yang dialami Uber tersebut menyangkut data-data pelanggan yang bocor ke tangan hacker.

"Dalam kasus Uber ini adalah yang melakukan ilegal access, Uber menjadi korban saya pikir bukan tersangka," kata Kasubnit Subdit III Cyber Crime Bareskrim Grawas Sugiharto di acara Solutions Day 2017 di Ritz Carlton Pacific Place, Kawasan SCBD, Jakarta, Kamis (23/11/2017).

Ia melanjutkan, motivasi hacker membobol itu untuk keuntungan ekonomi semata. Pada kasus Uber ini, hacker bisa dikenakan pelanggaran pasal tentang ilegal access, penyadapan, di mana di Indonesia bisa dikenai 10 tahun penjara.

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) juga turut memberi komentar mengenai kasus tersebut. Namun, Kominfo lebih berbicara soal regulasi yang terkait dengan perlindungan data pribadi yang ada di Tanah Air.

Seperti disampaikan oleh Dirjen Aptika Kementerian Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan, saat ini sudah Peraturan Menteri nomor 20 Tahun 2016 tentang Perlindungan Data Pribadi dalam sistem elektronik.

"Sekarang masih level Permen, sekarang sedang digodok Undang-Undang Perlindungan Data Pribadi yang diharapkan 2018 sudah selesai," ucap Semuel.

Di samping itu, kata dia, setiap Penyelenggara Sistem Elektronik harus memenuhi kriteria, minimal dapat menjaga keamanan mereka. (agt/fyk)
-

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed