Sabtu, 21 Apr 2018 13:02 WIB

Hujan Meteor Tertua Mampir Indonesia, Ini Fakta Menariknya

Agus Tri Haryanto - detikInet
Hujan meteor Lyrid. Foto: Dok. Anadolu Agency via TIME Hujan meteor Lyrid. Foto: Dok. Anadolu Agency via TIME
Jakarta - Pada malam ini, hujan meteor Lyrid akan memasuki masa puncaknya menghiasi langit Bumi. Fenomena ini tentu sayang untuk terlewatkan begitu, karena hujan meteor tersebut merupakan yang tertua.

Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menyebutkan, hujan meteor Lyrid merupakan peristiwa alam yang sudah diamati selama 2.700 tahun. Bahkan disebutkan, penampakan pertama hujan meteor ini berhasil diabadikan oleh China pada 687 Sebelum Masehi (SM).

Hujan meteor Lyrid berasal dari komet C/1861 G1 Thatcher. Penamaan komet tersebut berasal dari astronom A.E. Thatcher yang menemukan fenomena ini pada 5 April 1861. Sementara penyebutan Lyrid, karena hujan meteor itu jatuh di dekat konstelasi atau rasi bintang Lyra.



Serpihan komet kemudian terbang ke atmosfer dan tampak sebagai benda yang menyala dari Bumi hingga membentuk hujan meteor Lyrid. Setidaknya pada puncak hujan meteor Lyrid, ada 20 meteor per jamnya dengan kecepatan 49 kilometer per detiknya.

NASA mengatakan Lyrid dikenal sebagai meteor yang cepat dan juga terang, meskipun bila dibandingkan hujan, meteornya masih kalah cepat.

Disampaikan NASA juga, Lyrid seringkali mengejutkan para astronom, sebab perkiraan meteor bisa sampai sebanyak 100 per jamnya. Ini terjadi saat pengamatan di Virginia (1803), Yunani (1922), Jepang (1945), dan Amerika Serikat (1982).

Indonesia Kebagian

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Thomas Djamaluddin, mengatakan bahwa masyarakat di Indonesia juga dapat menikmati hujan meteor Lyrid yang terjadi pada Sabtu, 24 April ini.

"Ya, seluruh dunia bisa melihat hujan meteor Lyrid," kata Thomas melalui pesan singkatnya, Jumat (20/4).

Thomas yang juga merupakan ahli astronomi ini mengatakan ada waktu yang tepat untuk menyaksikan hujan meteor Lyrid, yakni pada dini hari.



"Waktunya dini hari sebelum shubuh Sabtu-Senin, 21-23 April. Amati langit Timur-Utara. Diprakirakan ada belasan meteor per jam," sebutnya.

Mengenai tempat yang tepat untuk menikmati pertunjukan alam tersebut, idealnya adalah di wilayah yang masih belum terpapar dengan lampu-lampu.

"Lokasi pengamatan harus cerah, jauh dari polusi cahaya lampu, dan medan pandang tidak terhalang pohon atau bangunan," ungkapnya. (agt/fyk)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed