Selasa, 10 Mei 2016 07:56 WIB

Review Produk

Huawei P9: Karena Leica Dia Jadi Beda

Ardhi Suryadhi - detikInet
Foto: detikINET - Anggoro Suryo Jati Foto: detikINET - Anggoro Suryo Jati
Jakarta - Campur tangan Leica pada Huawei P9 bisa dibilang sangat signifikan. Dari label namanya yang tergurat di bagian belakang P9 saja sudah bikin penasaran, apalagi performanya?

Hal ini dirasakan langsung oleh detikINET. "Itu kamera Leica?" ujar seorang teman saat pertama kali melihat bagian kamera P9 yang guratan 'Leica'.

Dia pantas penasaran. Sebab, Leica selama ini identik dengan kamera premium nan mahal, dimana hanya kalangan berselera tinggi dan berkantong tebal yang bisa meminang kamera hasil racikan vendor asal buatan Jerman tersebut.

Selain itu, Leica juga diketahui tak pernah menelurkan produk ponsel. Di Huawei P9 pun, kontribusi Leica sebatas dalam teknologi kamera dengan melakukan co-engineering dengan Huawei.

Namun tentu hadirnya Leica di P9 tak cuma bertujuan untuk menumpang merek. Sebab, pastinya dengan adanya label tersebut ada kualitas, inovasi dan nama besar yang dipertaruhkan Leica di sini.

Di sisi lain, Huawei juga memiliki misi tinggi dari kolaborasi ini. Salah satunya untuk mendongkrak pamor brand ponselnya, sekaligus membuang jauh-jauh stereotipe tentang 'ponsel China yang murah dan murahan'.

Namun pertanyaannya, apa iya Huawei juga bakal mempertaruhkan nama besar dan masa depan bisnis ponselnya kepada Leica seorang? Tentu saja tidak!

Alhasil, inovasi di berbagai sisi pun turut dilakukan Huawei untuk mengimbangi racikan kamera Leica. Hasilnya adalah smartphone flagship Huawei P9. Berikut reviewnya:
       
Desain

Sangat pas! Itulah kesan pertama detikINET saat pertama kali mendekap P9 di tangan. Dengan layar selebar 5,2 inch, P9 kami anggap sudah didesain dengan oke. Ia tak kebesaran, tidak juga kekecilan. Pokoknya pas digenggam.

Alhasil, hal ini berpengaruh terhadap dalam penggunaan keseharian. Huawei P9 bisa dengan lincah digunakan lewat satu tangan, begitu pula saat ingin dimasukkan ke kantong celana jeans yang masih nyaman, termasuk juga dari segi estetis alias tak terlalu menonjol.    

Huawei bisa dibilang sangat memikirkan masak-masak desain P9. Perangkat ini tampil dengan kaca 2.5D dan dibungkus dengan unibodi material aluminium serta dipermanis tepian dan lekukan.

Tak ada sama sekali logo merah legendaris Leica di P9. Vendor kamera tersebut 'cuma' eksis di bagian belakang (samping kamera) dengan tulisan 'Leica'. Di bagian punggung P9 pula terdapat dual kamera plus flash yang menjadi fitur andalannya pada sisi atas. Turun sedikit, Anda bakal menemukan pemindai sidik jari yang sangat responsif.  

Bagian samping, P9 menyimpang dua tombol utama — power serta volume — dengan posisi agak di atas. Sementara lubang speaker dan charger ditempatkan pada sisi bawah.

Di sisi lainnya terdapat slot untuk mengisi SIM card nano. Ada dua slot yang disediakan, namun jika slot lainnya diisi oleh microSD maka cuma satu slot SIM card yang bisa digunakan.

Kebetulan yang mampir ke meja redaksi detikINET, merupakan P9 dengan warna silver dimana ketika dipakai dalam keseharian, tak ditemui persoalan berarti soal jejak telapak tangan yang sering mengganggu pengguna ponsel.

Fitur

Nama Huawei sejatinya sudah lebih dulu menanjak di industri telekomunikasi sebagai penyedia solusi dan jaringan bagi operator. Nah, pengalaman inilah yang juga dibawa vendor asal China itu untuk mendesain antena di P9.

Virtual triple antena, demikian Huawei memberi nama teknologi di penangkap sinyal P9 tersebut. Teknologi ini dirancang untuk pengguna yang membutuhkan konektivitas yang kuat dan tanpa batas ke jaringan seluler dan WiFi.

Diharapkan, dengan Virtual triple antena, pengguna tak lagi direpotkan tentang bagaimana harus memegang ponsel mereka sehingga dapat menangkap sinyal dengan baik. Dimana beberapa waktu sebelumnya, isu ini mendera sebuah ponsel populer.
 
Konektivitas WiFi juga dibekali dengan fitur WiFi+ yang dapat mendeteksi dan merekomendasikan akses WiFi paling oke kepada pengguna saat berada di ruang publik.

Fitur berikutnya adalah sidik jari. Memang ini bukanlah hal baru di jajaran ponsel flagship. Namun P9 sudah dibekali teknologi biometric fingerprint recognition.

Dimana sensor sidik jari tersebut telah ditingkatkan kemampuannya, sehingga memungkinkan pengguna untuk mempersonalisasikan dan menjaga perangkat mereka dari tangan usil.

Dan yang paling penting adalah soal kecepatan membaca pemindai sidik jari tersebut. Dimana saat jari ditempelkan ke sensor yang telah disediakan di belakang bodi, sekelebat kemudian langsung terbaca. Sangat cepat!

Huawei P9 juga bertabur fitur Smart Assistance yang digerakkan lewat Motion Control alias kontrol gerak. Berikut beberapa di antaranya yang juga menarik untuk dicoba:

-.Flip: Mematikan suara dan menghentikan getaran ketika ada panggilan masuk, alarmdantimer. Fitur ini dihadirkanketikauser tak ingin terganggu dikalameeting atau istirahat. Jadi ponsel bisa dibungkam dengan cara singkat. Caranya tinggal menelungkupkan ponsel dengan posisi layar ke bawah.


-. Pick Up: Ini merupakan fitur untuk menurunkan volume suara panggilan yang masuk, alarm atau timer. Caranya dengan posisi mengangkat ponsel ke atas.

-. Raise to ear: Ketika ada panggilan masuk, Anda tinggal angkat ponsel serta langsung dekatkan ke telinga. Dan Voila... Tanpa menekan tombol 'answer/jawab', Anda bisa langsung berbicara menerima panggilan telepon yang masuk tersebut.

Begitu juga saat di daftar panggilan atau kontak, jika ingin menelepon nama yang tertera, langsung saja dekatkan ponsel ke telinga maka secara otomatis akan tersambung.

Kondisi selanjutnya adalah, ketika user tengah menelepon dengan menggunakan speaker atau headset bluetooth, bisa juga langsung dikembalikan pada normal saat ponsel itu didekatkan ke telinga. Sekali lagi, tanpa menekan tombol apapun.

-. Smart Screenshot: Bisa dibilang ini adalah cara lain mengambil screenshot di layar ponsel. Caranya pun unik, Anda tinggal menuliskan huruf 'O' dengan bagian punggung jari untuk melakukan screenshot suatu bagian di layar.

Sementara untuk satu halaman full bisa dilakukan dengan menuliskan huruf 'S', maka nanti secara otomatis satu halaman penuh di layar tersebut bakal terekam.

-. Draw: Ini merupakan akses singkat untuk menuju suatu menu. Misalkan ingin masuk ke menu musik, maka tinggal menuliskan huruf 'M' di layar. Caranya sama dengan smart screenshot, yakni menggunakan bagian punggung jari. Ada empat huruf yang bisa digunakan — C, E, M dan W — yang bisa diatur untuk masuk ke menu pilihan Anda.

Performa

Tak ada nama Snapdragon Qualcomm ataupun MediaTek dalam urusan dapur pacu P9. Sebaliknya, Huawei sangat pede untuk menggunakan prosesor buatannya sendiri, Kirin 955 yang punya kemampuan 2,5 GHz 64 bit berbasis ARM.

Prosesor tersebut di atas kertas disebut quad core dengan rincian: empat core A72 2,5 GHz dan empat core lainnya A53 1,8 GHz. Sementara kapasitas memori dan storage P9 ada dua versi, yakni RAM/storage 3 GB/32 GB, dilepas 599 euro. Sementara untuk varian lebih tinggi, yaitu dengan RAM 4 GB dan storage 64 GB harganya 649 euro. Kebetulan yang dijajal detikINET merupakan P9 versi RAM 3 GB/32 GB.

Untuk urusan performa, tak ada masalah berarti yang ditemui saat menggeber P9. Entah itu untuk urusan internetan, game sampai multitasking untuk sejumlah aktivitas sekaligus. Semuanya lancar jaya.

Hanya saja, ketika dalam penggunaan berat (heavy activity) dalam satu waktu sekaligus, baterai di belakang unibodi P9 mulai terasa hangat. Namun kadarnya masih dalam taraf wajar, tak membahayakan.    

Baterai 3.000 mAh yang terbenam pun bisa diandalakan untuk aktivitas keseharian alias tak sedikit-sedikit mencari colokan listrik. Sementara ketika masuk waktunya mengisi ulang, kecepatan charging P9 terbilang oke. Dari kondisi baterai 0% sampai 100% hanya membutuhkan waktu sekitar 2 jam.
 
Aplikasi AnTuTu v6.0.1 mencatat hasil benchmark P9 di angka 98.346. Pencapaian yang tinggi, namun bukan yang tertinggi. Database AnTuTu menyebut jika hasil yang ditorehkan P9 masih d bawah iPhone 6S, Galaxy S7 Edge serta Xiaomi Mi 5.
   
Kamera

Nah, inilah yang paling dinanti dari P9. Sudah pasti lantaran adanya campur tangan Leica yang membuat Huawei P9 naik kelas.

Kolaborasi keduanya memang sempat mencuatkan isu liar soal seberapa besar peran Leica di sini. Namun belakangan Huawei mengklarifikasi kabar minor itu dan menegaskan bahwa dari awal, Leica telah sangat terlibat dalam pengembangan kamera P9.

"Terdapat kolaborasi teknologi yang signifikan antara Huawei dan Leica pada beberapa aspek untuk kamera, termasuk desain optik, kualitas pencitraan, pengolahan data citra, optimasi, dan konstruksi mekanik dari modul kamera ke antarmuka pengguna grafis," sebut Huawei.

"Perangkat tersebut pun telah memenuhi standar kualitas pencitraan tertinggi Leica," lanjutnya.

Terlepas dari kontroversi yang sempat mencuat, duet Huawei dan Leica nyatanya sukses menghasilkan sistem dual kamera unik di P9, yaitu memisahkan antara kamera RGB dan monokrom. Kamera RGB-nya dikhususkan dalam merekam warna, sementara kamera monokrom disebut punya kemampuan luar biasa dalam merekam detail gambar.

Dua kamera ini masing-masing punya resolusi 12 megapixel dengan ukuran pixel sebesar 1,76 mikron, yang disertifikasi oleh Leica. Sementara kamera depannya punya resolusi 8 megapixel.

Kedua kamera belakang P9 berkerja bersamaan untuk memungkinkan pengguna mengambil gambar dengan kedalaman detail dan warna kece. P9 pun bisa diandalkan unggul dalam kondisi low light, karena desain dual-camera bisa menangkap lebih banyak cahaya.

Sejumlah fitur di kamera P9 juga sudah mengikuti DNA Leica. Seperti hadirnya tiga mode film: Standard, Vivid Colors dan Smooth Colors yang bisa digunakan tergantung pada preferensi masing-masing pengguna.

Ada pula mode monokrom dengan hasil tangkapan gambar yang ciamik. detikINET sudah merasakan langsung bagaimana hasil foto hitam putih dari P9 jadi terlihat lebih dramatis.

Banyak mode lain yang bisa dipilih pengguna untuk memaksimalkan kemampuan kamera P9. Caranya tinggal geser (swipe) layar ke kiri, dan langsung bisa menemui mode beauty, video, HDR, panorama, night spot, light painting, watermark, slow-mo, time lapse, audio note sampai document scan.

Kemudian yang patut dicoba adalah fitur Wide Aperture di P9. Ini ibarat fitur 'jepret dulu fokus belakangan', dimana user bisa menentukan fokus setelah gambar diambil. Sangat cocok bagi mereka yang suka bermain bokeh, depth-of-field efek lainnya, sambil menjaga obyek utama dalam fokus yang tajam.

Fitur ini bisa mensimulasikan efek DoF super tipis yang didapat dari lensa berbukaan f/0,95 -- Leica sendiri punya lensa dengan bukaan sebesar itu, yaitu lensa dari keluarga Noctilux. Padahal lensa yang dipakai di Huawei P9 sendiri berasal dari keluarga Summarit dengan bukaan f/2,2.

Hasil jepretannya pun terbilang oke. Namun di sini user juga jangan asal menjepret jika tak ingin hasil bokehnya seperti tempelan gambar yang kurang sempurna. Di bawah ini adalah hasil dari foto yang diambil dengan mode Wide Aperture di P9. Dimana satu foto bisa menghasilkan dua fokus yang berbeda.

Mereka yang tak suka dengan hal otomatis yang sudah ditawarkan juga bisa menjajal pilihan manual yang ditawarkan. Huawei mengklaim settingan manual di sini memiliki cita rasa kamera Leica konvensional, termasuk suara shutter saat dipencet untuk menangkap gambar.

Berikut hasil foto lainnya dari Huawei P9 yang diambil detikINET:

Opini detikINET

Tak bisa dipungkiri, campur tangan Leica turut mendongkrak kelas dan rasa penasaran banyak orang akan kreasi ponsel flagship Huawei ini.

Dan hasilnya pun terbilang memuaskan. Tak ada lagi stereotipe 'murah dan murahan' yang sempat melekat pada smartphone China ketika kita menggenggam P9. Termasuk untuk urusan kemampuannya.

Huawei P9 mampu memancarkan kesan premium yang dibutuhkan layaknya ponsel flagship pada umumnya. Material dan guratan desain yang dipilih benar-benar diperhatikan dengan baik. Jika ada suara sumbang 'kok, model belakangnya mirip dengan merek tetangga', sejatinya hal itu sangat sulit untuk dihindarkan dalam persaingan di jagat ponsel yang sudah semakin ketat dewasa ini.

Menyoal performanya, prosesor Kirin 955 yang punya kemampuan 2,5 GHz 64 bit berbasis ARM juga cukup mumpuni kala diajak untuk bekerja berat. Namun ya memang, bagian punggung handset ini terasa hangat ketika proses komputasinya dipaksa gegas.

Hasil benchmark P9 juga tak bisa menjadi yang nomor wahid. Namun cukuplah untuk masuk jajaran ponsel kelas atas dan bersaing dengan merek ternama lainnya.

Dan seperti yang sempat disinggung di awal, pesona utama dari P9 memang terletak di kamera. Sulit dijabarkan secara spesifik seperti apa sensasinya, silakan rasakan sendiri. Yang pasti, kemampuannya bakal jadi lawan sulit bagi flagship lain jika coba diadu head to head. (ash/asj)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed