Selasa, 12 Apr 2016 10:59 WIB

Review Produk

Samsung Galaxy A7 2016: Ini Bukan Flagship!

Muhammad Alif Goenawan - detikInet
Foto: Irna Prihandini Foto: Irna Prihandini
Jakarta - Di awal tahun 2016 ini Samsung bisa dibilang cukup sukses menggebrak jagat smartphone dengan merilis Galaxy S7. Tak bisa dipungkiri, semua mata tertuju pada perangkat yang hadir dengan dua varian itu — Galaxy S7 dan S7 Edge.

Meski demikian, panggung Samsung di tahun 2016 nyatanya bukan hanya milik Galaxy S7. Di sisi lain, vendor asal Korea Selatan ini juga merilis deretan perangkat yang tak kalah menarik, yakni seri Galaxy A terbaru dengan embel-embel tahun 2016 di belakangnya.

Memang bila dibandingkan dengan Galaxy S7, seri A yang terdiri dari Galaxy A3, Galaxy A5, dan Galaxy A7 2016 ini memiliki segmen berbeda. Bila Galaxy S7 mengincar pasar pengguna ponsel premium, maka ketiga handset Galaxy A tadi lebih untuk menyasar pasar pengguna ponsel menengah.

Karenanya, jangan heran bila harga yang dibanderol berada jauh di bawah Galaxy S7. Dari ketiga seri yang sudah disebut, detikINET berkesempatan untuk mencicipi performa dari Galaxy A7 yang disebut sebagai ponsel dengan kasta tertinggi di antara ketiga seri tadi.

Hadir dengan bentang layar 5,5 inch Full HD, Galaxy A7 2016 dipersenjatai dengan chipset Exynos 7580 octa core dengan kecepatan 1,6 GHz, RAM 3 GB, dan memori internal 16 GB dengan slot microSD tentunya.

Lalu seperti apa performa ponsel yang dibanderol dengan harga Rp 6,5 juta ini? Simak pengalaman detikINET menjajal Galaxy A7 2016 berikut!

Desain Mewah

Selama menggenggam Galaxy A7 2016 tak sedikit dari orang-orang yang mengira bahwa ini adalah Galaxy S7. Adapula yang mengiranya ini sebagai Galaxy S6. Tidak heran memang, karena sebagai pemain besar di jagat ponsel Samsung dikenal sebagai vendor yang kerap merilis handset dengan desain yang beda-beda tipis.

Namun terlepas dari dugaan yang dilayangkan itu, ada nilai positif tersendiri. Ya, Samsung sukses menyulap desain Galaxy A7 2016 menjadi terlihat mewah dan elegan bak ponsel flagship. Padahal dari segi harga dan jeroan, ponsel ini dirancang untuk segmen menengah.

Mungkin rasa yang mirip-mirip itu terlihat dari penggunaan perpaduan material kaca dan metal yang sudah melekat di seri Galaxy S — dimulai dari Galaxy S6. Sedangkan untuk Galaxy A, Samsung lebih memilih menggunakan material metal di sekujur bodinya.

Masuk ke bagian depan, bentuk Galaxy A7 2016 tidak jauh berbeda dengan generasi sebelumnya. Dimana terdapat tombol home fisik berbentuk oval yang tercetak di sisi tengah, mengapit tombol back dan multitasking tersembunyi di sisi kanan dan kiri. Logo Samsung masih tercetak jelas di sisi atas layar.

Yang membedakan di sini hanyalah fungsi tombol home yang kini sudah dilengkapi dengan fitur sidik jari. Seperti halnya dengan sensor sidik jari di beberapa handset, sensor sidik jari Galaxy A7 2016 bisa berfungsi sebagai alat verifikasi keamanan, baik pembayaran atau hanya sekedar membuka kunci layar.

Bila dicoba, penggunaan sidik jari di Galaxy A7 2016 tak terlalu cepat. Butuh penempatan jari yang proporsional, tidak bisa asal tempel. Selain itu, Anda harus mengaktifkan layar terlebih dahulu baru bisa membuka kunci.

Bila melongok ke sektor layar, baik Galaxy A7 2016 maupun 2015 masih sama-sama mengusung layar dengan ukuran dan resolusi yang sama, yakni AMOLED 5,5 inch Full HD (1.920x1.080 pixel) yang dilapisi oleh lapisan pelindung Corning Gorilla Glass 3.

Memang lapisan pelindung ini terkenal tangguh dan mampu melindungi permukaan layar dari goresan halus dan kasar. Namun sebagai saran tak salah jika user tetap menggunakan tempered glass agar perlindungan lebih maksimal.

Walau terkesan bongsor, menggenggam handset ini masih terbilang nyaman dan terasa solid. Hal ini mungkin dikarenakan Galaxy A7 2016 dirancang dengan sudut-sudut yang melengkung, tidak tajam dan kaku. Tombol power di sisi kanan pun masih bisa dijangkau oleh jempol walau menggenggam dengan satu tangan.

Pun begitu, karena bodi belakang terbuat dari material kaca, maka menggenggam Galaxy A7 2016 haruslah hati-hati. Sebab, selain mudah meninggalkan bercak sidik jari, tak dipungkiri lapisan kaca juga menimbulkan kesan licin.

Seperti yang sudah dijelaskan tadi, Anda akan menemukan bagian punggung yang tidak lagi berbahan material metal, melainkan kaca. Penempatan kamera utama 13 MP pun tidak jauh berbeda dengan seri 2015, hanya letak flash yang berpindah ke samping kanan kamera.

Logo Samsung kembali dapat kita temukan di bawah kamera. Karena perangkat ini mengusung konsep unibodi, maka Samsung menyediakan slot kartu SIM nano dan microSD yang bisa ditemukan di sisi kanan dan atas. Terakhir, tak berbeda dengan seri sebelumnya, port micro USB, lubang jack audio 3,5 mm, serta speaker berada sisi bawah ponsel.

Layar Tajam

Teknologi layar AMOLED Samsung memang terkenal dengan teknologi layar yang menghasilkan tingkat ketajaman dan kecerahan warna yang cerah serta tinggi. Tak ayal, warna-warna primer seperti hitam dan merah terlihat tajam. Kami pun sempat tersihir ketika pertama kali menyalakannya.

Dengan ukuran layar yang cukup bongsor, kerapatan pixel yang dihasilkan nyatanya cukup baik, yakni mencapai 403ppi. Penggunaan di bawah terik matahari masih bisa dilakoni dengan baik dan layarnya terlihat jelas tanpa bayangan. Begitu pula dengan pemakaian di dalam ruangan yang minim cahaya, yang bila mengaktifkan auto brightness, maka layarnya tidak terlihat menyilaukan.

Penasaran dengan ketajaman warna yang dihasilkan, detikINET pun menjajalnya dengan bermain game dengan kualitas grafis tinggi dan menonton video. Hasilnya, perangkat ini memiliki kualitas layar yang bisa disandingkan dengan perangkat sekelasnya. Sangat puas dan bisa diandalkan bagi pengguna yang hobi mengkonsumsi konten hiburan, apalagi ditambah layarnya yang luas.

Seperti biasanya, Samsung menyematkan user interface TouchWiz di atas sistem operasi yang sayangnya masih berjalan dengan Android 5.1.1 Lollipop. Jatah Marshamallow sendiri saat ini baru sampai pada perangkat-perangkat Samsung kelas atas, semisal Galaxy Note 5 dan yang terbaru Galaxy S7 dan S7 Edge.

Jadi harap bersabar sampai Samsung menggulirkan Marshamallow di perangkat ini. Karena menggunakan TouchWiz, maka tampilan antarmukanya tidak jauh berbeda dengan perangkat Samsung lain yang sudah sering Anda lihat.

Kelebihan lainnya yang ditampilkan adalah multi windows. Ya, fitur ini memang sudah lama muncul di beberapa seri handset Samsung. Dengan multi windows ini Anda bisa membuka dua aplikasi sekaligus di dalam satu layar secara bersamaan. Anda juga bisa mengecilkan (minimize) aplikasi yang dibuka, pun tidak semua aplikasi mendukung fitur ini.

Performa Hadrware

Di atas kertas, Galaxy A7 2016 dibekali dengan hardware yang terdiri dari prosesor octa core Exynos 7580 1,6 GHz Cortex-A53, RAM 3 GB, dan memori internal 16 GB. Penggunaan chipset Exynos 7580 merupakan peningkatan dibanding generasi sebelumnya yang hanya mengandalkan Exynos 5430.

Perubahan di sini juga terlihat dari pembekalan RAM yang dari 2 GB menjadi 3 GB. Dalam pengujian benchmark yang dilakukan dengan menggunakan AnTuTu Benchmark v6.0.1, didapat torehan skor 41.850. Memang uji benchmark tidak bisa dikatakan mewakili performa handset secara keseluruhan.

Namun paling tidak bisa memberikan gambaran kepada pemilik mengenai kapasitas dan performa handsetnya. Tak hanya menggunakan AnTuTu, pengujian juga berlanjut dengan menggunakan Geekbench 3.

Secara peringkat, single core Galaxy A7 2016 yang memiliki torehan skor 685 berada di atas Motorola Moto X (669) dan Galaxy S4 (658). Namun, masih di bawah LG Nexus 5 (860). Sementara di sektor multicore (3.586), perangkat ini bertaji cukup baik di atas HTC Nexus 9 (3.215), Motorola Nexus 6 (3.006), bahkan Samsung Galaxy S5 (2.836).

Lalu bagaimana dengan pengalaman secara langsung? Selama menjajal perangkat ini selama berminggu-minggu. Kami jarang menemui adanya lag. Kalaupun ada, paling itu hanya crash yang diakibatkan oleh aplikasi itu sendiri. Penggunaan multitasking dan multiwindows juga bisa dilakoni dengan baik.

Jarang bukan berarti tidak ada lag. Adapula saat-saat dimana lag hinggap, yang untungnya masih bisa ditangani dengan baik. Geser-geser layar masih bisa teratasi, namun tidak ketika membuka kunci layar. Sering kali kami kesulitan untuk membuka gembok layar yang padahal hanya tinggal geser.

Kamera Cerah

Yang sering menjadi pertanyaan ketika sebuah ponsel meluncur selain performa hardware tentu urusan kamera. Bagaimana dengan kameranya? Bagus tidak? Ya, kira-kira itulah pertanyaan yang kerap muncul.

Kamera sejak beberapa tahun belakang seolah menjadi kebutuhkan penting dan wajib hukumnya bagi pengguna gadget. Paham akan hal itu Samsung menghadirkan kamera utama 13 MP dan kamera depan 5 MP. Ukuran megapiksel yang umum diberikan oleh setiap vendor ponsel di masa sekarang.

Meski demikian, yang membedakan di sini adalah bukaan yang kecil, yakni f/1.9. Bukaan ini sebelumnya pernah dihadirkan untuk Galaxy S6 dan Galaxy Note 5. Dengan bukaan yang kecil, maka cahaya yang ditangkap lebih banyak lagi. Membuat hasil jepretan terlihat lebih cerah, bahkan di kondisi minim cahaya sekalipun.

Pun demikian, tak dipungkiri masih terlihat noise di beberapa titik ketika pengambilan gambar dalam kondisi malam. foto terlihat menawan ketika jeprat-jepret di siang hari.

Hasil yang tak kalah menarik juga ditunjukkan oleh kamera depannya yang 5 MP. Serupa dengan kamera utama, kamera depan juga dibekali dengan bukaan f/1.9. Selfie pun tak perlu takut low light, karena bukaan tadi bisa menangkap cahaya lebih banyak dari bukaan di versi sebelumnya.

Selain bukaan tadi, masih ada beberapa fitur andalan, seperti Optical Image Stabilization, Autofocus, face detection, panorama, dan ketinggalan LED flash yang menemani kamera utama. Untuk lebih jelasnya, bisa lihat hasil gambar di bawah.

Opini detikINET

Samsung di sini terlihat ingin membuat sebuah pergeseran desain dan penggunaan material di jajaran perangkat smartphone kelas menengahnya. Seri Galaxy A inilah contohnya. Dimana dulu hadir dengan desain full metal, maka kini diubah dengan perpaduan kaca.

Jadi tidak heran bila sebagian orang tidak mengenali ini sebagai Galaxy A7 2016 karena image metal yang dulu melekat. Lalu bagaimana dengan desain full metal? Dari rumor yang beredar, kabarnya desain metal akan hadir untuk seri Galaxy J.

Desain sudah oke dan terlihat elegan, performa yang ditawarkan pun tidaklah buruk. Bermain game yang berat dan multitasking buktinya masih bisa dijalani dengan baik. Lag yang hadir terkadang ini masih bisa dianggap wajar. Sidik jari yang ditawarkan sudah cukup responsif.

Sektor kamera menjadi daya jual tersendiri dari perangkat ini. Bukaan yang kecil bak Galaxy S6 membuat Galaxy A7 2016 menjadi senjata ampuh untuk mengabadikan momen. Meski Samsung tak pernah mendeklarasikan ini sebagai ponsel kamera. Hanya saja harga yang ditawarkan masih terbilang tinggi untuk ponsel kelas menengah..
(mag/ash)
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed
  • Windows 10 Khusus China, Apa Bedanya?

    Windows 10 Khusus China, Apa Bedanya?

    Jumat, 26 Mei 2017 16:37 WIB
    Meski hubungan antara Microsoft dan pemerintahan China tak terlalu bagus, bukan berarti tak ada kerja sama antara dua pihak itu.