Jumat, 05 Jun 2015 07:20 WIB

Akbar, Tunanetra di Belakang Akun Medsos Pejabat

Ardhi Suryadhi - detikInet
M. Reza Akbar (dok. pribadi) M. Reza Akbar (dok. pribadi)
Jakarta - "Percaya diri lah. Jangan pernah minder atau malu dengan kondisi loe. Gue mengerti, emang gak gampang melewati tahap ini. Gue sendiri pernah mengalami kondisi tersebut selama beberapa tahun. Yakin saja, kita juga bisa kok melakukan hampir semua kegiatan dan pekerjaan yang dilakukan orang pada umumnya, hanya caranya saja yang berbeda," tegas M. Reza Akbar, seorang tunanetra kepada detikINET.

Akbar sejatinya terlahir dengan panca indera sempurna. Pria kelahiran 18 April 1985 ini awalnya tumbuh seperti anak-anak Jakarta pada umumnya, penuh suka cita dikelilingi para sahabat, sampai jadi ketua basket yang dieluk-elukan kaum hawa di sekolah.

Namun bak disambar petir di siang bolong, pada tahun 2010, kehidupan Akbar langsung berubah. Pembuluh darah matanya pecah, lama kelamaan darah menggenangi bagian dalam matanya sehingga menutupi penglihatan Akbar. Berbagai tindakan medis sudah dilakukan, mulai dari laser sampai operasi, tapi tak berhasil. Tuhan sepertinya punya rencana lain bagi Akbar.

Susah menerima kondisinya yang baru harus diakui merupakan masa-masa sulit yang harus dilalui lulusan jurusan Akuntansi Universitas Trisakti angkatan 2002 itu. Perlahan, Akbar bangkit, rasa minder pun dibuangnya jauh-jauh untuk lebih optimistis menjalani hidup.

Kebetulan, Akbar merupakan sosok yang penasaran dengan teknologi alias suka ngoprek. Keingintahuan yang besar ini pula yang membawa dia berkenalan dengan teknologi yang dapat menunjang aktivitas seorang tunanetra, termasuk untuk dapat menjalankan pekerjaannya.

Ya, siapa bilang seorang tunanetra tak bisa bekerja? Anda salah besar jika masih berpikir kolot seperti itu! Anda pasti tak menyangka jika Akbar merupakan bagian dari tim yang mengelola akun media sosial seorang pejabat lembaga tinggi negara.

Akbar bercerita, dulu awal tahun 2014 ia mendapat tawaran -- atau lebih tepatnya tantangan -- dari seseorang untuk membantunya menangani akun-akun media sosial dari pejabat tinggi. "Karena gue rasa ini adalah pekerjaan yang mampu gue kerjain, berhubung gue dibekali kemampuan mengoperasikan beberapa jenis gadget, akhirnya gue terima," ungkapnya.

Setelah melalui masa percobaan beberapa bulan, ternyata si klien puas dengan apa yg dikerjakan Akbar. Akhirnya resmilah anak bungsu dari tujuh bersaudara ini bergabung dengan tim media sosial itu sampai sekarang. "Gue saat ini menjalankan beberapa tugas, tapi tugas utama gue adalah sebagai content writer yang bertugas mengisi konten dan mengelola akun-akun media sosial sang pejabat," ia memaparkan.

Otodidak

Perkenalan Akbar dengan gadget yang ramah tunanetra dimulai dari acara TV yang menceritakan tentang seorang mahasiswi tunanetra. Di acara itu disebutkan bahwa dia menggunakan iPhone. Besoknya Akbar pun minta tolong kakaknya ke mal Ambassador buat cari-cari info. Hasilnya? Tak ada satupun toko yang tahu fitur ini.

Sampai akhirnya sang kakak iseng jalan di Poin Square lebak bulus, dan ada pedagang ponsel yang tahu fitur ini. Fitur yang dimaksud adalah fitur VoiceOver pada produk-produk besutan Apple (iPhone, iPad, iPod Touch & Mac) dimana untuk mengaktifkannya kita hanya perlu masuk ke menu settings>general>accessibility>VoiceOver>on.

"Begitu memastikan si iPhone bisa ngomong, akhirnya gue nekat menebus sebuah iPhone. Saat itu, gak ada yang bisa ngajarin. Karena walaupun kakak-kakak gw juga pakai iPhone, tapi cara penggunaan iPhone ketika VoiceOver aktif ternyata berbeda dengan biasanya, dimana penggunaannya lebih banyak menggunakan perintah gesture atau gerakan jari," kata Akbar.

"Kebetulan saat itu gue gak ada kegiatan. Jadi kerjaannya tiap hari ngutak-ngatik si iPhone itu sampai bisa mengoperasikannya dengan baik. Perlu waktu 1-2 bulan untuk menaklukkan 'makhluk' yang satu ini," lanjutnya.

Hari pertama Akbar sudah bisa browsing, jadi alumni SLTA 4 Jakarta ini banyak belajar penggunaanya dari artikel-artikel di internet serta gabung di beberapa milis tunanetra pecinta gadget.

Setelah iPhone, ia lalu mendengar kalau ternyata ponsel Android juga memiliki fitur serupa yang disebut TalkBack. Lalu mulailah Akbar mencoba menggunakan Android. Saat ini pun ia masih mengoperasikan kedua platform beda kubu itu.

Untuk berkenalan dengan komputer juga merupakan hasil penjelajahan Akbar di dunia maya. Dimana ia menemukan info tempat kursus komputer khusus tunanetra di daerah Lebak Bulus. "Sama seperti ponsel iOS dan Android, komputer yang digunakan adalah komputer seperti pada umumnya. Jadi gak ada yang beda, apalagi khusus. Bedanya hanya semua perangkat itu dibekali program pembaca layar (screen reader) sehingga tunanetra bisa mengetahui apa yang ada di layar dengan bantuan suara screen reader," tuturnya .

Mengetik 10 Jari

Untuk lamanya waktu belajar bagi seorang tunanetra agar dapat fasih dengan gadget itu relatif. Tergantung sejauh mana orang itu mau mendalaminya. Makin dalam ya makin lama. Untuk smartphone misalnya, kalau untuk penggunaan umum seperti menelepon, SMS/chatting, browsing, paling hanya perlu hitungan hari untuk dipelajari. Tapi kalau untuk menguasai, mungkin perlu hitungan bulan.

Untuk komputer, di tempat Akbar belajar untuk satu program -- misalnya Microsoft Word saja, tanpa Excel dan PowerPoint -- itu sekitar 6 bulan. Dimana sebelumnya diajarkan dulu cara mengetik dan mengoperasikan komputer selama beberapa bulan. "Ini perlu karena tunanetra tak menggunakan mouse dalam pengoperasian komputer, full hanya keyboard. Jadi kita dituntut untuk bisa mengetik 10 jari," jelas Akbar.

Kini, setelah bisa menerima keadaannya, Akbar sudah mampu melalui level berikutnya dalam sebuah fase kehidupan. Ketimbang meratapi nasib, ia lebih memilih menjalani hidup dengan optimistis. Dan semoga hal ini juga dapat dilakukan oleh teman-teman penyandang tunanetra lainnya.

"Apalagi di zaman modern dan penuh teknologi kaya saat ini. Gak ada lagi alasan buat tunanetra gak bisa maju. Sekarang sudah bukan soal loe mampu atau tidak, tapi soal mau atau tidak," Akbar menegaskan.

Oh iya, ia juga mengimbau para tunanetra untuk memperbanyak teman sebanyak-banyaknya. Karena dari situlah kesempatan mungkin akan datang. Tak perlu malu berteman, dengan begitu Anda bisa tahu siapa yang benar-benar teman dan yang bukan.

Akhir kata, sedikit mengutip dari Jamie Paolinetti, "Keterbatasan hanya hidup di dalam pikiranmu saja, namun jika engkau menggunakan imajinasi, kemungkinanmu menjadi tidak terbatas".

Semangat terus, Akbar!



(ash/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed