http://us.images.detik.com/logo_tematik/logodetikinet.png
 
 

Kisah Zuckerberg Pdkt Pendiri WhatsApp

Fino Yurio Kristo - detikinet
Kamis, 20/02/2014 09:35 WIB
http://us.images.detik.com/content/2014/02/20/319/wadalam.jpg Ilustrasi (gettyimages)
Jakarta - WhatsApp baru saja diakuisisi Facebook dengan nilai pembelian fantastis, USD 19 miliar atau di kisaran Rp 209 triliun. Seperti apa kronologi pembelian WhatsApp? Berikut ceritanya.

Menurut sumber terkait, pada awal tahun 2012 Mark Zuckerberg, pendiri dan CEO Facebook, mengundang pendiri WhatsApp Jan Koum untuk ngopi bareng di sebuah warung di Los Altos, California. Tidak diketahui apa saja yang dibicarakan kedua petinggi ini, namun sepertinya serius karena berlangsung selama 2 jam.

Sejak saat itu, seperti detikINET kutip dari BusinessWeek, Kamis (20/2/2014), Zuckerberg dan Koum menjadi teman yang cukup akrab. Mereka jadi sering makan atau berolahraga bersama.

Awal tahun 2014 ini, tepatnya pada tanggal 9 Februari, Koum mengunjungi rumah Zuckerberg di Palo Alto, California. Nah saat itu, perbincangan mengenai kemungkinan Facebook membeli WhatsApp menjadi serius. Mereka berdua membicarakan kemungkinan kerja sama saling menguntungkan antara Facebook dan WhatsApp.

Zuckerberg kemudian menawarkan proposal pembelian WhatsApp dan Koum diminta masuk dalam jajaran dewan pimpinan Facebook. Namun Koum tidak langsung mengiyakan, ia minta waktu untuk berpikir terlebih dahulu.

Lima hari kemudian pada tanggal 14 Februari, Koum kembali mengunjungi rumah Zuckerberg. Mereka makan malam bersama istri Zuckerberg, Priscilla Chan. Saat itulah, Koum akhirnya setuju WhatsApp dibeli Facebook dan merekapun mendiskusikan berapa harganya.

Jadilah kemudian Facebook setuju membeli WhatsApp senilai USD 19 miliar, sebuah jumlah yang tidak sedikit. Ini adalah akuisisi terbesar yang dilakukan Facebook sepanjang sejarah situs jejaring sosial ini.


(fyk/rns)




Sponsored Link

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Pro Kontra Index »

Indonesia Darurat 4G?

Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Ya, inilah kira-kira urgensi yang akhirnya membuat layanan 4G LTE dikomersialisasi di Indonesia. Di sisi lain, layanan 3G dianggap masih belum optimal penyebarannya, termasuk 2G yang masih banyak penggunanya.
Pro
48%
Kontra
52%


Must Read close