http://us.images.detik.com/logo_tematik/logodetikinet.png
 
 

BlackBerry yang Makin Indonesia

Achmad Rouzni Noor II - detikinet
Senin, 22/07/2013 08:12 WIB
BlackBerry yang Makin Indonesia Suasana acara (rou/inet)
Jakarta - Demi mempertahankan pangsa pasarnya di Indonesia, BlackBerry terus memperkuat diri dengan menempatkan sejumlah eksekutif lokal untuk mengisi posisi strategis yang tersedia. Alasannya, orang asli Indonesia tentu lebih paham bagaimana mengkondisikan pasar di dalam negeri.

Setelah posisi Managing Director di BlackBerry Indonesia dipercayakan kepada orang lokal, Maspiono Handoyo, kini posisi Director Government Relations juga telah diisi oleh Kusuma Lienandjaja, mantan eksekutif dari Ericsson Indonesia.

Sementara untuk posisi Director Of Distribution, BlackBerry merekrut R. Andi K. Utomo, mantan eksekutif Samsung. "Kami masih kosong untuk posisi Marketing Director, dan itu juga akan diberikan ke orang Indonesia," katanya saat ditemui akhir pekan.

Sementara untuk posisi kepala divisi humas telah lama diemban oleh Yolanda Nainggolan, yang sebelumnya di Nokia Siemens Network dan Smartfren Telecom. Praktis, hanya Andrew Cobham saja yang non-pribumi di BlackBerry Indonesia. Cobham yang asli Kanada, sebelumnya lama menjadi bos Motorola Indonesia.

Kontribusi Lokal

Tak hanya memberikan ruang bagi orang Indonesia, Maspiyono mengungkapkan, BlackBerry juga telah memberikan kontribusi signifikan bagi Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia jika merujuk riset McKinsey Mei 2012 yakni sekitar USD 2 miliar.

"Bagi saya kontribusi terbesar dari BlackBerry itu adalah perangkat dan layanannya. Bayangkan berapa peluang bisnis dibuka dengan adanya BlackBerry dan silahturahim tak terputus berkat perangkat ini," jelasnya.

Dikatakannya, BlackBerry terus memberikan perhatian kepada ekonomi kreatif dengan menggelontorkan dana sekitar USD 5 juta untuk BlackBerry Innovation Center di ITB Bandung dan memberikan ruang bagi 4 ribu aplikasi yang dikembangkan oleh 1.500 developer di BlackBerry 10.

Bahkan, BlackBerry juga diklaim Maspiyono telah menggunakan perangkat keras buatan asli Indonesia dalam produknya. Komponen tersebut antara lain seperti baterai, motor untuk notifikasi getaran (vibrate), pengubah zona waktu (time zone change), serta headset untuk headphone.

Pabrik komponen ini beradai di Cileungsi dan Batam. Komponen-komponen tersebut kemudian diimpor kembali ke sejumlah pabrik perakitan BlackBerry di mancanegara, mayoritas ke Hungaria, Taiwan, dan Meksiko.

Hal yang mengejutkan adalah ternyata dari 120 ribu aplikasi yang tersebar di BlackBerry World, sekitar 85% di antaranya ternyata hasil seleksi dan verifikasi dari tim BlackBerry Indonesia yang berkantor di Bali. "Pusat verifikasi aplikasi ini sudah lama di Indonesia, tapi baru kami umumkan sekarang," katanya.

Diungkapkan, saat ini ada sekitar 30 orang karyawan BlackBerry di Bali yang tugasnya untuk menyeleksi aplikasi tersebut. Jumlah SDM ini kemungkinan akan ditambah setengahnya lagi September mendatang.

Perbaiki Komunikasi

Sementara dipaparkan Kusuma, BlackBerry akan memperbaiki serta menambah intensitas komunikasi dengan para pemangku kepentingan di Indonesia agar tidak terjadi konflik kesalahpahaman ketika terjadi gangguan layanan.

"Intinya kami harus sering berkomunikasi. Kita harus paparkan secara jelas posisi dan layanan perusahaan agar tak terjadi salah persepsi," katanya.

Berkat komunikasi yang mulai lancar dengan pemerintah, lanjutnya, masalah yang tadinya sepertinya menakutkan bisa diatasi. "Wacana sanksi kemarin setelah kita paparkan masalahnya, bisa dimengerti oleh Kominfo. Kami akan lebih intens berkomunikasi dan memberitahu pemerintah lebih cepat setiap ada masalah," papar Kusuma.

Maspiyono mengatakan, penyebab gangguan jaringan saat itu dikarenakan ada konfigurasi yang salah dan komponen yang gagal saat BlackBerry melakukan upgrade sistem untuk maintenance jaringan. Dalam prosesnya terjadi salah konfigurasi sehingga sistem tidak berjalan dengan baik, dan hanya terjadi di Indonesia.

Seperti diketahui, layanan BlackBerry Internet Service (BIS) sudah sering kali tumbang. Tercatat bahkan sampai lima kali. Hal itu mendorong Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) untuk mengaji formulasi terbaik dengan mengusulkan sanksi denda bagi BlackBerry jika jaringannya kembali tumbang

Saat ini BlackBerry memiliki sekitar 80 juta pelanggan di seluruh dunia, dimana 15 juta di antaranya datang dari Indonesia. Di Indonesia BlackBerry bermitra dengan tiga distributor resmi, yakni TAM, Comtech, dan SCM.

Melalui kerja sama itu, telah dibangun 56 lokasi BlackBerry Expert Center di beberapa kota besar di Indonesia. Sementara operator yang menjadi mitranya, antara lain Telkomsel, Indosat, XL Axiata, Hutchison 3 Indonesia, Axis Telecom, dan Smartfren Telecom.

(rou/fyk)


Baca Juga
Foto Video Terkait



Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Berita Terbaru Index »
Pro Kontra Index »

Indonesia Darurat 4G?

Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Ya, inilah kira-kira urgensi yang akhirnya membuat layanan 4G LTE dikomersialisasi di Indonesia. Di sisi lain, layanan 3G dianggap masih belum optimal penyebarannya, termasuk 2G yang masih banyak penggunanya.
Pro
0%
Kontra
0%


Must Read close