http://us.images.detik.com/logo_tematik/logodetikinet.png
 
 

Catatan dari Tokyo

Tantangan Terbesar Bisnis 'Awan' di Indonesia

Trisno Heriyanto - detikinet
Senin, 20/05/2013 13:39 WIB
http://us.images.detik.com/content/2013/05/20/319/122932_karl.jpg Karl Verhaust (dok.detikINET)
Jakarta - Perlahan tapi pasti, teknologi cloud computing mulai digunakan oleh banyak perusahaan di berbagai negara. Lalu bagaimana dengan potensinya di Indonesia?

Banyak hal yang perlu dipersiapkan sebelum sebuah perusahaan memutuskan untuk membuat sistem berbasis komputasi awan. Mulai dari infrastuktur, jaringan, hingga berbagai perangkat yang nantinya akan digunakan oleh user. Tak ketinggalan, kualitas internet juga menjadi salah satu kesuksesan cloud computing.

Di Indonesia, banyak yang masih meragukan kredibilitas cloud computing. Berdasarkan data IDC para pekerja TI di Tanah Air masih sangsi soal keamanan data dan jaringan, belum lagi soal biaya, dan SDM yang masih belum banyak.

Namun menurut Fujitsu hal itu sejatinya bisa diselesaikan dengan menggunakan jasa pihak ketiga, yakni produsen yang menyediakan manage services layanan komputasi awan yang lengkap, mulai dari infrastuktur hingga perangkat yang akan dipakai user.

Tapi para penyedia jasa mengelola layanan komputasi awan hal itu juga masih memiliki kendala, terutama soal kualitas jaringan internet di Indonesia.

"Potensi di Indonesia itu besar, karena banyak perusahaan besar di sana. Tapi kalau tidak didukung dengan kualitas jaringan yang memadai maka hal ini akan menghambat potensi tersebut," kata Karl Verhaust Vice President Cloud & Strategic Solutions, ketika disambangi detikINET di Tokyo International Forum beberapa hari lalu.

Ke depannya pun Karl memprediksi bahwa industri clod computing di Indonesia akan tetap tumbuh, dan persaingan para penyedia jasa pengelola sistem berbasis komputasi awan pun kian marak. Tapi sementara ini Fujitsu mengaku belum punya banyak pesaing.

"Manage services cloud di Indonesia itu masih kecil, karena ini masih merupakan konsep baru di Indonesia. Sebab mereka (perusahaan-red) masih lebih suka memiliki staff sendiri. Ditambah lagi tenaga kerja TI di indonesia masih murah," jelas Karl.

"Sejauh ini persaingnnya memang masih kecil, tapi kami sudah siap untuk itu (persaingan-red)," tandas pria bule yang fasih berbahasa Indonesia itu.


(eno/ash)


Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!


 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        
Sponsored Link

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Berita Terbaru Index »
Pro Kontra Index »

Permen Situs Negatif, Menurut Anda?

Pro kontra Permen Kominfo no 19 Tahun 2014 tentang Penanganan Situs Internet Bermuatan Negatif terus mengemuka. Lantas bagaimana dengan Anda terkait kehadiran Permen yang mengatur tata cara pelaporan situs yang masuk daftar hitam sensor Trust+ Positif ini?
Pro
22%
Kontra
78%


Must Read close