http://us.images.detik.com/logo_tematik/logodetikinet.png
 
 

Salampesantren.com, 'Facebook' ala Anak Pesantren

Rachmatunisa - detikinet
Rabu, 24/04/2013 12:52 WIB
Salampesantren.com, Facebook ala Anak Pesantren screenshot salampesantren.com
Jakarta - Jejaring sosial marak bermunculan setelah hegemoni Facebook. Konsepnya kurang lebih mirip dengan Facebook, namun dengan modifikasi 'rasa' dan sentuhan yang disesuaikan dengan audiens yang ditujunya, demikian juga dengan salampesantren.com.

Dibuat oleh Didi Suhaedi, seorang santri pesantren Nurul Ilmi Darunnajah 14, Pabuaran, Banten, situs yang dibuat pada 21 Desember 2012 ini diperuntukkan sebagai jejaring sosial berbasis komunitas pesantren di seluruh Indonesia.

"Awalnya cuma iseng-iseng sambil belajar saja. Tadinya dikhususkan untuk komunitas Pondok pesantren Nurul Ilmi Darunnajah 14. Ngasih tau pimpinan pesantren malah direspons baik," kisah Didi melalui email kepada detikINET, Rabu (24/4/2013).

Dipaparkannya, semula situs ini beralamat di salam.nurul-ilmi.com. Untuk dikembangkan lebih luas dan agar santri dari pesantren lain bisa menggunakannya, maka dibuatlah www.salampesantren.com.
Mirip Facebook

Melihat dari desainnya, situs ini memang mirip seperti Facebook. Tampilan situs didominasi warna biru dan putih. Masuk ke dalamnya, tampak newsfeed yang menampilkan update terbaru dari teman-teman. Fitur yang tersedia pun kurang lebih hampir sama, ada foto, blog, pages, groups, games, video dan lain-lain.

Didi tak menampik jika situsnya tersebut disebut meniru Facebook. Dikatakannya, tampilan yang mirip Facebook akan membuat pengguna familiar dan mudah bernavigasi di dalamnya.

"Untuk saat ini masih mirip Facebook karena anak muda dan santri-santri lebih mudah memahami isi dan konten tersebut. Nanti ke depannya kalau saya sudah bisa bahasa pemrograman untuk website, akan diubah sedikit demi sedikit. Masih tahapan belajar," aku Didi.

Salampesantren.com yang dikembangkan menggunakan CMS buatan Jcow, saat ini sudah memiliki 2.000 pengguna. Angka yang terbilang masih sedikit, namun Didi berharap akan terus tumbuh karena dia dan timnya akan lebih giat mempopulerkan.

"Idenya untuk menjadi jejaring sosial anak-anak santri seluruh Indonesia, mengingat di Indonesia ada banyak pesantren dengan ratusan ribu santri," harapnya.


Terus dikembangkan

Mengingat sifat internet yang tiada batas dan rentan disusupi konten negatif, Didi dan timnya sudah mengantisipasi hal ini. Diklaimnya, konten salampesantren.com aman dari hal-hal yang tidak baik.

"Yang jadi admin anak santri. Kita bentuk tim kecil untuk menjadi pengurus. Mereka dilatih dan ditugaskan menjadi admin salampesantren.com," jelasnya.

Tak henti belajar, Didi kian semangat mengembangkan website ini. Apalagi, respons yang didapat salampesantren.com sejauh ini menurutnya cukup baik.

"Alhamdulillah responnya sangat baik. Seluruh cabang pesantren yang berjumlah 14 pesantren sangat merespon sekali. Bahkan teman-teman dari pesantren lain seperti pesantren Gontor dan lain-lain juga ikut gabung," ujarnya sumringah.


(rns/ash)


Baca Juga



Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Berita Terbaru Index »
Pro Kontra Index »

Indonesia Darurat 4G?

Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Ya, inilah kira-kira urgensi yang akhirnya membuat layanan 4G LTE dikomersialisasi di Indonesia. Di sisi lain, layanan 3G dianggap masih belum optimal penyebarannya, termasuk 2G yang masih banyak penggunanya.
Pro
0%
Kontra
0%


Must Read close