https://usimages.detik.com/logo_tematik/logodetikinet.png

Kolom Telematika

'Senjata' Anyar Dunia Bisnis Bernama Cloud Computing

Penulis: Andreas Kagawa - detikinet
Minggu, 21/04/2013 14:38 WIB
Senjata Anyar Dunia Bisnis Bernama Cloud Computing Andreas Kagawa (vmware)
Jakarta - Cloud computing telah berkembang jauh melampaui sekedar kata yang banyak dibicarakan di Asia Pasifik. Teknologi ini telah menjelma menjadi alat bagi sebuah perusahaan untuk memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan para pesaingnya.

Bahkan, para pelaku bisnis telah meramalkan bahwa pertumbuhan bisnis akan dipengaruhi oleh cloud computing sebagai bagian integral dari strategi dan TI perusahaan.

Seperti yang terlihat dalam VMware Cloud Index 2012, sebuah studi dari VMware dan dilakukan oleh Forrester Consulting pada Oktober 2012, banyak perusahaan yang mengakui jika cloud computing sebagai 'enabler' bagi bisnis mereka.

Dari 220 responden Indonesia yang disurvei, sebanyak 80% menyatakan rencana bisnis pada 2012 dan 2013 mencakup pertumbuhan dan/atau ekspansi. Dimana sekitar 41% di antaranya menyatakan sudah mengadopsi solusi atau pendekatan cloud dan 59% mengaku telah mendayagunakan teknologi cloud selama setahun lalu.

Adapun organisasi yang menyatakan belum memiliki inisiatif cloud ada separuhnya (51%). Mereka menyatakan, berencana menerapkan satu inisiatif dalam 18 bulan ke depan. Berdasarkan perkiraan tersebut, tingkat penetrasi cloud di Indonesia bisa melampaui 70% pada kuartal pertama 2014.

Prioritas CIO

Namun, karena permintaan inisiatif komputasi awan terus meningkat, CIO dan departemen TI juga mulai melihat bahwa peran mereka terus berkembang. Alih-alih menjadi sekadar pembangun jasa, mereka sekarang diharuskan untuk menjadi pemimpin TI yang mendorong perubahan substantif di seluruh organisasi.

Ini berarti departemen TI tidak bisa dipandang sebagai cost center, tetapi juga harus berperan dalam mengembangkan layanan TI yang dapat memberikan dampak positif bagi perusahaan.

Salah satu tujuan dari cloud computing adalah untuk menyediakan layanan mandiri bagi pengguna korporat dan IT-as-a-service. Ini berarti bahwa TI harus membiayai diri sendiri melalui layanan yang dijual kepada pengguna korporat.

Jadi departemen TI harus benar-benar menjadi bisnis mandiri, memahami biayanya dan 'menagih' lini bisnis secara tepat, dengan tetap menjaga SLA dan kualitas layanan lainnya sebagaimana yang diharapkan oleh setiap pelanggan bisnis yang 'membayar'.

Bertransformasi dengan Software-Defined Datacenter

Dalam era baru komputasi awan, organisasi perlu mengambil pendekatan holistik untuk merencanakan, membangun dan mengoperasikan infrastruktur mereka.

Sementara virtualisasi telah secara dramatis mengurangi biaya TI sekaligus meningkatkan efisiensi, unit bisnis sekarang ini menuntut akses cepat ke sumber daya TI untuk mendukung time-to-market yang lebih cepat untuk berbagai proyek.

VMware percaya bahwa pendekatan Software-Defined menuju komputasi datacenter memungkinkan organisasi untuk bergerak lebih jauh dari kompleksitas TI tradisional dan kekakuan yang disebabkan oleh hardware khusus.

Software-defined datacenter melihat semua infrastruktur divirtualisasi dan dihantarkan sebagai suatu layanan, jadi kontrol sepenuhnya secara otomatis ada di tangan software.

Dihantarkan melalui VMware vCloud Suite, pendekatan unik ini memberikan CIO modern kemampuan untuk meringkas seluruh layanan pusat data ke dalam 'kontainer' software-defined, sehingga membebaskan mereka dari ikatan keterbatasan infrastruktur fisik dan memberdayakan mereka untuk menciptakan lingkungan yang tangkas, scalable, elastis, dan efisien.

Hasilnya adalah sebuah pusat data yang optimal untuk era cloud, memberikan kelincahan bisnis yang tak tertandingi, SLA tertinggi untuk semua aplikasi, menyederhanakan operasi secara dramatis, dan berbiaya lebih rendah.

Dengan membuat satu 'kontainer' yang menangkap seluruh lingkungan infrastruktur menjadi sebuah objek software-defined yang menghilangkan ketergantungan pada setiap rancangan fisik tunggal, hal itu memungkinkan untuk portabilitas secara mulus seluruh kelompok layanan pusat data dari satu infrastruktur fisik ke infrastruktur fisik lainnya.

Ini memberikan organisasi alat-alat yang dibutuhkan untuk membangun, mengoperasikan dan mengelola infrastruktur 'awan', dan menerapkan prinsip-prinsip virtualisasi yaitu pooling, abstraction dan automation untuk storage, jaringan, keamanan, dan ketersediaan.

Organisasi TI mendapat manfaat dari platform holistik yang optimal untuk mendukung kebutuhan organisasi secara fleksibel dengan menjadi adaptif, memungkinkan untuk konfigurasi dinamis berdasarkan tuntutan bisnis.

Selain itu, kecerdasan yang terpasang di framework ini meningkatkan efisiensi operasional yang dibawa oleh otomatisasi, dan menyediakan fleksibilitas belum pernah terjadi sebelumnya yang memungkinkan untuk alokasi dan konfigurasi dinamis sumber daya sesuai dengan kebutuhan yang muncul.

Dalam dunia di mana keuntungan bisnis semakin bergantung pada aplikasi dan teknologi, Software-Defined Datacenter terbukti menjadi pendekatan optimal karena menawarkan organisasi keunggulan kompetitif dengan kelincahan bisnis tak tertandingi, meningkatkan interoperabilitas, dan menyederhanakan operasi secara dramatis.

Solusi ini dipasangkan dengan kecerdasan, provisioning berbasis kebijakan, otomatisasi, dan pemantauan. Software-Defined Datacenter memungkinkan TI untuk memboyong keuntungan strategis untuk bisnis dengan memberikan manfaat yang sama untuk TI sebagaimana secara keseluruhan virtualisasi hantarkan untuk komputasi dan memori.


*) Penulis: Andreas Kagawa, Country Manager VMware Indonesia.


(ash/ash)


Baca Juga



Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Berita Terbaru Index »
Pro Kontra Index »

Indonesia Darurat 4G?

Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Ya, inilah kira-kira urgensi yang akhirnya membuat layanan 4G LTE dikomersialisasi di Indonesia. Di sisi lain, layanan 3G dianggap masih belum optimal penyebarannya, termasuk 2G yang masih banyak penggunanya.
Pro
0%
Kontra
0%