http://us.images.detik.com/logo_tematik/logodetikinet.png

 
 

Web Defacement: Cuma Pamer Hingga Mau Jadi 'Pahlawan'

Penulis: IGN Mantra - detikinet
Rabu, 06/03/2013 13:34 WIB
Web Defacement: Cuma Pamer Hingga Mau Jadi Pahlawan Ilustrasi (Ist.)
Jakarta - Web Defacement atau biasa disebut Web Gravity adalah sebuah kegiatan hacking yang sangat digemari oleh anak-anak muda saat ini di belahan dunia manapun.

Sebab dengan melakukan aksi web defacement, eksistensi dan popularitas mereka langsung menanjak dan mendapat ajungan jempol di kalangan hacker (bad hacker) dan underground, semakin cepat mereka berhasil menjebol dan meng-hack sistem komputer orang lain semakin naik 'kasta' mereka.

Nah, apa sih sebenarnya kegiatan web defacement ini? Penulis akan mengulas sedikit demi sedikit bagi para pembaca yang belum begitu paham dengan kegiatan ini.

Web Defacement atau Web Gravity merupakan sebuah kegiatan 'mencorat-coret' web orang/institusi, 'corat-coret' ini bisa dalam bentuk warna-warni, inject kata-kata umpatan yang tidak semestinya (menghujat), kata-kata proklamasi si hacker misalkan 'hacked by Dr. Kruzz' atau sekadar mengganti web asli dengan web bajakan si hacker.

Tujuan pelaku melakukan web defacement bermacam-macam, menurut catatan penulis ada 5 tujuan dari kegiatan ini:

1. Mengejar Popularitas

Biasanya hacker dan kelompoknya berlomba-lomba untuk menjebol sistem web server dan meletakkan identitas mereka di halaman web (home page) atau sub page, dengan harapan siapapun yang membuka web tersebut maka identitas mereka dapat terbaca dengan jelas.

Contoh: web defacement site FBI, CIA, CNN dan lainnya.



2. Misi Perdamaian

Seorang hacker dan kelompoknya memiliki misi tertentu dari organisasi yang bernaung di bawahnya. Kelompok ini memiliki tujuan perdamaian dengan harapan situs-situs yang diusili membaca pesan mereka dan segera melaksanakan apa-apa saja yang diinginkan dari pesan tersebut.

Contoh: LSM Green Peace, ada beberapa situs yang di-hack dengan mengatasnamakan Green Peace. Sebagai misi perdamaian mereka melarang dan menghentikan pembunuhan ikan paus di laut pasifik, dan partisipan mereka men-deface situs yang menjual daging ikan paus tersebut.



3. Hacker dengan Pengancaman

Hacker Anonymous memiliki cara yang unik dalam menyampaikan misinya kepada pemerintah yang tidak disukainya. Biasanya partisipan Anonymous melakukan hacking situs (web defacement) pemerintah tersebut dan membuat lumpuh layanan di dalamnya selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu.

Hal ini pernah terjadi di berbagai situs layanan di negara tetangga kita Malaysia. Sudah lebih dari 40 situs layanan pemerintah Malaysia dibuat down oleh partisipan Anonymous tersebut.



4. Hacker Bertujuan Bisnis

Hacker berikutnya memiliki tujuan money oriented atau men-deface dan meruntuhkan situs seseorang/perusahaan untuk mendapatkan keuntungan dan aksi tersebut.

Hacker seperti ini biasanya bekerja sendirian, cenderung tidak memiliki teman dan memang terkadang dibayar untuk mengusili dan melumpuhkan website target.



5. Hacker Hero

Hacker yang satu ini melakukan aksi defacement karena ikut-ikutan dengan pihak lain yang menyerang duluan atau ikut-ikutan karena tersinggung dan alasan yang tidak jelas.

Sebagai contoh permusuhan antar hacker Indonesia dan Malaysia yang sudah berlangsung lama, siapa yang menyulut duluan tidak jelas.

Tetapi begitu ada masalah dan provokasi maka para hacker di dua negara tersebut saling serang dan melumpuhkan website masing-masing negara dan pemerintahan. Tidak ada unsur paksaan dan orientasi uang, semata-mata ikut-ikutan dan ingin menyerang situs negara yang digunakan sebagai target.





Tentang penulis: IGN Mantra, Dosen & Peneliti Cyber Security, Cyber Defence dan Cyber War. Saat ini bekerja dan Ketua Indonesia Academic CERT/CSIRT, Monitoring Control dan Incident Handling @Lab. Cyber Security ABFII Perbanas, Jakarta, DCC Lampung, Email. mantra@acad-csirt.or.id.

(ash/ash)


Baca Juga



Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Pro Kontra Index »

Indonesia Darurat 4G?

Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Ya, inilah kira-kira urgensi yang akhirnya membuat layanan 4G LTE dikomersialisasi di Indonesia. Di sisi lain, layanan 3G dianggap masih belum optimal penyebarannya, termasuk 2G yang masih banyak penggunanya.
Pro
0%
Kontra
0%


Must Read close