https://usimages.detik.com/logo_tematik/logodetikinet.png

Kolom Telematika

Operator Telko & Pemain OTT: Kawan atau Lawan?

Penulis: Mochamad James Falahuddin - detikinet
Jumat, 21/12/2012 10:51 WIB
Operator Telko & Pemain OTT: Kawan atau Lawan? Ilustrasi (Ist.)
Jakarta - Serbuan penyedia layanan Over The Top (OTT player) yang menimbulkan fenomena dumb pipe, pipa bandwidth penuh, tapi revenue turun, masih membuat penyedia layanan telekomunikasi galau hingga saat ini.

Ledakan jumlah smartphone dan tablet device, dari yang kelas premium semacam iPhone/ iPad dan Galaxy S/ Tab, kelas menengah seperti RIM, dengan BBM-nya yang masih ramai peminat di negeri ini, hingga kelas low end yang dimotori oleh OS Android memberikan keuntungan tersendiri bagi para OTT player, besar ataupun kecil.

Bahkan Microsoft yang sudah sekian lama merajai pasar desktop dengan produk Windows dan Office, dipaksa untuk keluar dari comfort zone untuk bertansformasi menjadi salah satu OTT player dengan Windows 8 yang dibuat untuk mobile device.

Jumlah smartphone/tablet yang luar biasa banyak ini berarti semakin banyak aplikasi miliki OTT player yang dijalankan oleh pengguna, dimana hal ini juga berarti permintaan layanan data semakin tinggi.

Di sisi lain, kebiasaan orang untuk berbicara via smartphone semakin lama semakin menurun, digantikan dengan kebiasaan mengobrol via layanan chat seperti BBM atau Whatsapp dan Line yang sekarang mulai meningkat popularitasnya.

Ataupun kalau terpaksa harus berbicara atau teleconference, sebagian kita sekarang lebih memilih menggunakan Skype.

Kehadiran OTT Player ini memang bagaikan buah simalakama bagi operator telekomunikasi. Di satu sisi lonjakan trafik data yang diakibatkan aplikasi OTT ini menjadi beban, karena tidak ada revenue yang di-share oleh OTT kepada operator.

Di sisi lain, popularitas OTT Player yang luar biasa, seperti Facebook dan Google, membuat operator tidak mungkin 'mencekik' bandwidth data untuk akses ke layanan OTT tersebut, karena itu sama saja dengan mengusir pelanggan untuk pindah ke operator lain yang 'berani' memberikan kelonggaran bagi pelanggan untuk menikmati layanan OTT.

Apalagi dengan struktur pelanggan di Indonesia yang mayoritas adalah prabayar, akan sangat mudah bagi pelanggan untuk pindah dari satu operator ke operator lainnya.

Kalau fenomena OTT menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari, lalu apa yang harus dilakukan oleh operator untuk keluar dari tekanan yang terus menggerus revenue mereka?

Jika diperhatikan, kegalauan yang diderita oleh operator ini sebagian besar terkait dengan bisnis model OTT yang bagi operator telekomunikasi merupakan hal yang benar-benar baru, sehingga menciptakan kekagetan dan waktu yang cukup lama bagi operator untuk menyikapinya.

Dengan demikian untuk bisa mengantisipasi fenomena ini diperlukan pendekatan dalam bentuk bisnis model baru yang harus diciptakan oleh para operator ini.

Setidaknya ada dua pilihan yang saat ini tersedia bagi para operator telekomunikasi khususnya di Indonesia dalam menyikapi tekanan dari para OTT player ini, yaitu:

1. Berkolaborasi dengan OTT Player

Fakta bahwa OTT Player mendapatkan keuntungan besar dari iklan yang mereka tayangkan sudah menjadi pemahaman umum. Untuk itu terbuka kesempatan bagi para operator untuk memanfaatkan hal tersebut.

Misalnya, daripada harus terpaksa untuk menyediakan bandwidth besar untuk melayani semua request data dari user untuk mengakses semua layanan OTT, operator bisa memilih beberapa di antaranya saja untuk diprioritaskan.

Nah, untuk layanan OTT yang mendapatkan prioritas ini, operator mungkin bisa menegosiasikan revenue sharing dengan pemilik layanan.

Walaupun Google, sebagai salah satu OTT player terbesar, mengaku bahwa revenue mereka dari iklan di Indonesia ini masih sangat minim, tapi dengan potensi pasar e-commerce Indonesia yang masih sangat besar, alternatif ini layak untuk dicoba

2. Menyediakan OTT Sendiri

Pada dasarnya layanan yang ditawarkan oleh OTT player adalah layanan aplikasi yang disediakan melalui mekanisme cloud computing.

Dalam hal ini, sebetulnya operator telekomunikasi memiliki potensi untuk menyediakan layanan berbasis cloud computing, karena hampir dipastikan semua operator memiliki data center yang sudah menggunakan teknologi virtualisasi.

Selain itu, operator juga memiliki keunggulan kompetitif karena sudah memiliki jaringan akses dan yang penting sudah memiliki pelanggan.

Tiga hal ini: data center, jaringan akses dan pelanggan existing, bisa menjadi modal besar bagi operator untuk menyediakan layanan over the top dalam bentuk aplikasi yang ditawarkan kepada pelanggan melalui mekanisme cloud computing/software as a service.

Dalam rangka menyediakan aplikasi ini operator bisa menggandeng sejumlah pengembang perangkat lunak, untuk menawarkan layanan aplikasi kepada pelanggan existing dengan mekanisme revenue sharing.

Alternatif pertama berarti menjadikan OTT Player sebagai aliansi dalam menggarap pasar, sementara alternatif kedua bisa diartikan operator 'menantang' OTT player untuk sama-sama bertarung di ranah aplikasi.

Tapi alternatif manapun yang dipilih, beraliansi atau berkompetisi dengan OTT, dua-duanya memerlukan perubahan paradigma dalam bisnis model yang selama ini dijalankan oleh operator.

Dan tentu saja diperlukan kajian yang cukup mendalam sebelum menentukan posisi mana yang akan diambil yang kiranya akan mampu menyelamatkan diri dari jurang kiamat kecil telekomunikasi.


*) Penulis, Mochamad James Falahuddin merupakan praktisi telematika. Ia juga Certified Cloud Computing Solution Advisor/Infrastructure Architect. Yang bersangkutan bisa difollow di akun Twitter @mjamesf.

(ash/ash)


Baca Juga



Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Pro Kontra Index »

Indonesia Darurat 4G?

Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Ya, inilah kira-kira urgensi yang akhirnya membuat layanan 4G LTE dikomersialisasi di Indonesia. Di sisi lain, layanan 3G dianggap masih belum optimal penyebarannya, termasuk 2G yang masih banyak penggunanya.
Pro
0%
Kontra
0%