http://us.images.detik.com/logo_tematik/logodetikinet.png
 
 

Kenapa iPhone 5 di Indonesia Mahal?

Achmad Rouzni Noor II - detikinet
Senin, 10/12/2012 17:11 WIB
Halaman 1 dari 2
http://us.images.detik.com/content/2012/12/10/317/iphone5mp.jpg iPhone 5 (ist)
Jakarta - Apple memang terkenal mengeluarkan smartphone dengan harga premium. Ketika iPhone 5 masuk ke Indonesia pun demikian, tapi sayang jika dihitung-hitung hasilnya, harga ponsel cerdas ini masuk dalam kategori 'kelas atas'.

Seperti dikutip detikINET dari situs resmi Apple, harga iPhone 5 versi 16 GB tanpa kontrak mencapai USD 649 atau Rp 6,25 juta (USD 1 = Rp 9.620). Sedangkan menurut sumber, iPhone 5 dengan kapasitas yang sama di Indonesia dijual Rp 8,1 jutaan.

Memang, di situs Apple, harga tersebut sebelum pajak dan sebagainya. Tapi, tetap saja menimbulkan pertanyaan, mengapa sampai selisih perbedaannya cukup besar.

"Besaran pajak di setiap negara berbeda-beda. Di negara-negara yang dominan postpaid, channel penjualan device cenderung direct, dari prinsipal (Apple-red) langsung ke operator, operator langsung ke end user dan hampir semua end user membeli handset di operator dengan sistem subsidi," jelas Head of Device Bundling and Customization Strategy Division Telkomsel Arief Pradetya, kepada detikINET, Senin (10/12/2012).

Berbeda dengan negara yang menganut sistem penjualan device secara bebas, seperti Indonesia. Dimana operator tidak 'bermain' langsung dalam penjualan handset.

"Penjualan dilakukan oleh retailer dengan sistem distribusi bertingkat, masing-masing tingkat ada margin yang harus di-maintain untuk meng-cover biaya operasional, biaya SDM, pembiayaan, risiko stock, dan lainnya," tambahnya.

"Luasnya wilayah Indonesia dengan sistem distribusi yang umum (barang secara fisik didistribusikan) juga menambah biasa tersendiri. Berbeda dengan negara kecil atau negara yang penjualan melalui sistem onlinenya sudah cukup tinggi," Arief menegaskan.

Oleh sebab itu, Arief mengelak kalau operator -- khususnya Telkomsel -- diklaim menjual iPhone 5 lebih mahal dibanding negara lain. Karena banyak faktor 'X' yang menyertainya.Next

Halaman 1 2
(tyo/ash)


Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!


 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        
Sponsored Link

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Berita Terbaru Index »
Pro Kontra Index »

Permen Situs Negatif, Menurut Anda?

Pro kontra Permen Kominfo no 19 Tahun 2014 tentang Penanganan Situs Internet Bermuatan Negatif terus mengemuka. Lantas bagaimana dengan Anda terkait kehadiran Permen yang mengatur tata cara pelaporan situs yang masuk daftar hitam sensor Trust+ Positif ini?
Pro
22%
Kontra
78%


Must Read close