http://us.images.detik.com/logo_tematik/logodetikinet.png
 
 

Smart City, Seperti Apa Sih?

Rachmatunisa - detikinet
Selasa, 20/11/2012 13:51 WIB
http://us.images.detik.com/content/2012/11/20/398/134420_img0752.jpg Suhono Harso Supangkat (rns/inet)
Bandung - Ruas jalan tampak padat. Mobil, motor maupun bus kota berjalan merayap. Untungnya hal tersebut tidak berlangsung lama, kemacetan perlahan terurai. Itu karena sensor yang terpasang di area tersebut memerintahkan lampu lalu lintas menyala hijau lebih lama.

Demikian kira-kira salah satu contoh implementasi smart city yang digambarkan penggiat smart city dari Institut Teknologi bandung (ITB) Suhono Harso Supangkat.

"Misalnya ada tempat yang kotor, terdeteksi sensor kekotoran. Kemudian ada vacum cleaner datang sendiri membersihkan. Jadi seperti itu, machine to machine, komunikasi antara sensor yang satu dengan actuator untuk menjalankan peran seperti itu," ujarnya memberi contoh lain.

Secara keseluruhan, teknologi smart city melibatkan lima elemen. Disebutkan Suhono, selain sensor pintar dan komunikasi machine to machine, teknologi smart city juga melibatkan cloud computing, social media dan GIS (Geographical Information System).

Diakui pria berkacamata ini, masih terlalu jauh jika membicarakan elemen machine to machine. Namun setidaknya, ketika smart city diimplementasikan di Indonesia, warga sebuah kota bisa mendapat akses informasi lebih cepat untuk menunjang aktvitas sehari-hari mereka.

Misalnya saja, warga sebuah kota bisa memantau kondisi kemacetan jalan, kondisi cuaca, ketersediaan tempat parkir, rekomendasi rute alternatif dan lain-lain. Seluruh informasi diperoleh secara real-time dan mudah.

Nah, semua informasi ini tentu saja dikumpulkan dari sensor pintar terintegrasi yang terpasang di setiap sudut kota. Data ini dianalisa dengan aplikasi cerdas, lantas disajikan melalui aplikasi yang bisa diakses melalui beragam gadget.


(rns/ash)




Sponsored Link

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Berita Terbaru Index »
Pro Kontra Index »

Indonesia Darurat 4G?

Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Ya, inilah kira-kira urgensi yang akhirnya membuat layanan 4G LTE dikomersialisasi di Indonesia. Di sisi lain, layanan 3G dianggap masih belum optimal penyebarannya, termasuk 2G yang masih banyak penggunanya.
Pro
50%
Kontra
50%


Must Read close