Berita Utama
-
Rabu, 23/05/2012 15:50 WIB
13 Model BlackBerry dari Masa ke Masa
-
Rabu, 23/05/2012 15:28 WIB
Perang Ponsel Premium di Indonesia
-
Rabu, 23/05/2012 13:19 WIB
Galaxy S III Dibanderol Rp 6,9 Juta di Indonesia?
-
Rabu, 23/05/2012 13:07 WIB
7 Pilihan Game untuk Ponsel Low End
-
Rabu, 23/05/2012 11:32 WIB
Galaxy S III: Performa Gahar, Fitur Melimpah
-
Rabu, 23/05/2012 08:10 WIB
Ini 11 Investor 'Kelas Berat' Pemegang Saham Facebook
-
Rabu, 23/05/2012 07:51 WIB
OS BlackBerry 10 Datang, Qwerty Fisik Menghilang?
-
Rabu, 23/05/2012 07:35 WIB
Apple Minta Restu Bangun 'Pesawat Luar Angkasa'
-
Selasa, 22/05/2012 15:24 WIB
13 Ponsel yang Menjadi Tonggak Sejarah
Siapa Bilang Open BTS Ilegal? (2)
Kesalahan Pemerintah: Seluruh Frekuensi GSM untuk Operator
Rabu, 18/01/2012 14:09 WIB

Onno W. Purbo & Open BTS (fyk/inet)
Jakarta - Frekuensi merupakan sumber daya yang terbatas. Dimana alokasi frekuensi sebetulnya dapat dilakukan berdasarkan:
-. lokasi/wilayah yang sifatnya spatial.
-. band/frekuensi.
Sayangnya, karena keterbatasan teknologi informasi yang ada di pemerintah tampaknya alokasi frekuensi hanya berdasarkan band/frekuensi saja. Khususnya untuk alokasi frekuensi GSM.
Kesalahan fatal pemerintah adalah seluruh alokasi frekuensi GSM sudah dialokasikan ke operator untuk memberikan layanan ke seluruh republik Indonesia. Tidak ada alokasi frekuensi untuk operator desa/operator rakyat.
Konsekuensinya operator selular wajib memberi sinyal sampai ke desa-desa terpencil maupun puncak-puncak gunung yang secara ekonomis tidak menguntungkan.
Masalahnya, jelas terjadi pada wilayah yang tidak ada sinyal, seperti
•Daerah Pedesaan
•Daerah Rural
•Daerah Gunung
•Daerah Perbatasan
•Daerah yang terkena bencana alam.
Apakah Hak Asasi Manusia rakyat desa harus dikorbankan? Beberapa alternatif solusi:
•Perlu kebijakan alokasi frekuensi yang sifatnya spatial berdasarkan wilayah.
•Operator dituntut membangun infrastruktur di wilayah yang tidak menguntungkan.
•Pemanfaatan Universal Service Obligation (yang naga-naganya implementasinya banyak yang menyimpang/tidak berhasil dengan baik katanya).
•Rakyat membangun di wilayah yang tidak ada sinyal. Sesuai dengan peluang yang diberikan oleh UU Telekomunikasi maupun KEPMEN 21/2001.
Di antara pilihan yang ada Open BTS bisa menjadi solusi utama bagi berbagai alternatif yang ada. Jika pemerintah tidak sanggup atau tidak mau pusing, lebih baik berikan ijin pada rakyat untuk membangun sendiri. Berikut alokasi frekuensi yang dikutip dari http://julitra.wordpress.com.


Alternatif Strategi Perjuangan Open BTS
Berdasarkan pengalaman perjuangan pembebasan frekuensi 2.4 GHz yang makan waktu belasan tahun, korban akan banyak berjatuhan jika kita memilih jalan yang sangat frontal untuk mengubah kebijakan. Maklum, atas nama kepentingan negara, para penguasa negeri ini disahkan untuk memobilisasi aparat untuk memberangus rakyat yang 'nakal'.
Pada dasarnya, untuk memenangkan pertempuan modern secara umum dapat dilihat dalam 3 lini, yaitu:
•Bertumpu pada power, kekuasaan, jabatan, kedudukan.
•Bertumpu pada uang, investasi, operator, bisnis, usaha
•Bertumpu pada rakyat, massa
Terus terang Ictwatch.com dan komunitas tidak mempunyai power dan uang, oleh karenanya mereka mau tidak mau dan tidak ada pilihan harus bertumpu pada rakyat dan massa. Dalam bahasa kerennya 'People's Power'.
Strategi taktis untuk menggalang massa yang besar dengan dana seminimal mungkin adalah memandaikan rakyat secara swadaya masyarakat. Ini adalah jalan yang paling aman, paling elegan kaum penguasa, aparat bahkan operator akan segan pada mereka yang mengambil jalur ini.
Langkah real yang sederhana antara lain adalah:
•Membuat/mendukung artikel, e-book, buku, wiki tentang Open BTS.
•Memberikan roadshow/workshop di daerah, kampus, sekolah.
•Partisipasi aktif di talkshow di media cetak, online, radio, televisi tentang regulasi telekomunikasi khususnya Open BTS.
•Partisipasi aktif di berbagai forum online, mailing list, twitwar sekitar regulasi telekomunikasi dan Open BTS.
•Ictwatch.com dan komunitas mendukung mereka yang ingin kerja praktek, PKL tentang Open BTS
•Ictwatch.com. memberikan tempat dan dukungan Tugas Akhir mahasiswa di base camp Ictwatch.com.
•Ictwatch.com dan komunitas mendukung mereka (perorangan/Pemda) yang ingin melakukan trial/uji lapangan Open BTS.
•Bekerja sama dan mendukung dengan lembaga pemerintah yang mau mendukung Open BTS seperti Kementerian Ristek.
Bukan mustahil jika ini dilakukan dengan konsisten dalam waktu 1-2 tahun kita akan mulai melihat SDM Open BTS semakin banyak. Ini menjadi dasar yang kuat untuk pengembangan industri peralatan telekomunikasi maupun operator telekomunikasi di Indonesia kemudian hari.
Tidak banyak negara di dunia yang mengadopsi teknologi Open BTS untuk memberdayakan rakyat kecil agar`dapat membangun jaringan Telkom sendiri. Solusi ini jelas-jelas memungkinkan dikembangkannya jaringan selular yang sangat merakyat yang memenuhi Hak Asasi Manusia terutama di negara berkembang.
Bukan mustahil jika suatu hari ini konsep Open BTS dapat diterima, kita akan melihat banyak sekali operator kecil di pedesaan dan Indonesia akan menjadi panutan dunia dalam mengembangkan Telkom Rakyat (People's Telco).
Bukan mustahil jika dunia pun belajar pada kita, bangsa Indonesia. Hanya mereka yang berpikiran picik yang akan menghalangi langkah pemandaian bangsa Indonesia. Merdeka!!!
*) Penulis, Onno W. Purbo, adalah penggiat teknologi informasi dan internet di Indonesia.
( ash / ash )
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
-. lokasi/wilayah yang sifatnya spatial.
-. band/frekuensi.
Sayangnya, karena keterbatasan teknologi informasi yang ada di pemerintah tampaknya alokasi frekuensi hanya berdasarkan band/frekuensi saja. Khususnya untuk alokasi frekuensi GSM.
Kesalahan fatal pemerintah adalah seluruh alokasi frekuensi GSM sudah dialokasikan ke operator untuk memberikan layanan ke seluruh republik Indonesia. Tidak ada alokasi frekuensi untuk operator desa/operator rakyat.
Konsekuensinya operator selular wajib memberi sinyal sampai ke desa-desa terpencil maupun puncak-puncak gunung yang secara ekonomis tidak menguntungkan.
Masalahnya, jelas terjadi pada wilayah yang tidak ada sinyal, seperti
•Daerah Pedesaan
•Daerah Rural
•Daerah Gunung
•Daerah Perbatasan
•Daerah yang terkena bencana alam.
Apakah Hak Asasi Manusia rakyat desa harus dikorbankan? Beberapa alternatif solusi:
•Perlu kebijakan alokasi frekuensi yang sifatnya spatial berdasarkan wilayah.
•Operator dituntut membangun infrastruktur di wilayah yang tidak menguntungkan.
•Pemanfaatan Universal Service Obligation (yang naga-naganya implementasinya banyak yang menyimpang/tidak berhasil dengan baik katanya).
•Rakyat membangun di wilayah yang tidak ada sinyal. Sesuai dengan peluang yang diberikan oleh UU Telekomunikasi maupun KEPMEN 21/2001.
Di antara pilihan yang ada Open BTS bisa menjadi solusi utama bagi berbagai alternatif yang ada. Jika pemerintah tidak sanggup atau tidak mau pusing, lebih baik berikan ijin pada rakyat untuk membangun sendiri. Berikut alokasi frekuensi yang dikutip dari http://julitra.wordpress.com.


Alternatif Strategi Perjuangan Open BTS
Berdasarkan pengalaman perjuangan pembebasan frekuensi 2.4 GHz yang makan waktu belasan tahun, korban akan banyak berjatuhan jika kita memilih jalan yang sangat frontal untuk mengubah kebijakan. Maklum, atas nama kepentingan negara, para penguasa negeri ini disahkan untuk memobilisasi aparat untuk memberangus rakyat yang 'nakal'.
Pada dasarnya, untuk memenangkan pertempuan modern secara umum dapat dilihat dalam 3 lini, yaitu:
•Bertumpu pada power, kekuasaan, jabatan, kedudukan.
•Bertumpu pada uang, investasi, operator, bisnis, usaha
•Bertumpu pada rakyat, massa
Terus terang Ictwatch.com dan komunitas tidak mempunyai power dan uang, oleh karenanya mereka mau tidak mau dan tidak ada pilihan harus bertumpu pada rakyat dan massa. Dalam bahasa kerennya 'People's Power'.
Strategi taktis untuk menggalang massa yang besar dengan dana seminimal mungkin adalah memandaikan rakyat secara swadaya masyarakat. Ini adalah jalan yang paling aman, paling elegan kaum penguasa, aparat bahkan operator akan segan pada mereka yang mengambil jalur ini.
Langkah real yang sederhana antara lain adalah:
•Membuat/mendukung artikel, e-book, buku, wiki tentang Open BTS.
•Memberikan roadshow/workshop di daerah, kampus, sekolah.
•Partisipasi aktif di talkshow di media cetak, online, radio, televisi tentang regulasi telekomunikasi khususnya Open BTS.
•Partisipasi aktif di berbagai forum online, mailing list, twitwar sekitar regulasi telekomunikasi dan Open BTS.
•Ictwatch.com dan komunitas mendukung mereka yang ingin kerja praktek, PKL tentang Open BTS
•Ictwatch.com. memberikan tempat dan dukungan Tugas Akhir mahasiswa di base camp Ictwatch.com.
•Ictwatch.com dan komunitas mendukung mereka (perorangan/Pemda) yang ingin melakukan trial/uji lapangan Open BTS.
•Bekerja sama dan mendukung dengan lembaga pemerintah yang mau mendukung Open BTS seperti Kementerian Ristek.
Bukan mustahil jika ini dilakukan dengan konsisten dalam waktu 1-2 tahun kita akan mulai melihat SDM Open BTS semakin banyak. Ini menjadi dasar yang kuat untuk pengembangan industri peralatan telekomunikasi maupun operator telekomunikasi di Indonesia kemudian hari.
Tidak banyak negara di dunia yang mengadopsi teknologi Open BTS untuk memberdayakan rakyat kecil agar`dapat membangun jaringan Telkom sendiri. Solusi ini jelas-jelas memungkinkan dikembangkannya jaringan selular yang sangat merakyat yang memenuhi Hak Asasi Manusia terutama di negara berkembang.
Bukan mustahil jika suatu hari ini konsep Open BTS dapat diterima, kita akan melihat banyak sekali operator kecil di pedesaan dan Indonesia akan menjadi panutan dunia dalam mengembangkan Telkom Rakyat (People's Telco).
Bukan mustahil jika dunia pun belajar pada kita, bangsa Indonesia. Hanya mereka yang berpikiran picik yang akan menghalangi langkah pemandaian bangsa Indonesia. Merdeka!!!
*) Penulis, Onno W. Purbo, adalah penggiat teknologi informasi dan internet di Indonesia.
( ash / ash )
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Baca Juga
Berita Terbaru
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 08:30 WIB
'My Last Wish', Jejaring Sosial Sebelum Mati
-
Rabu, 23/05/2012 07:39 WIB
Apple Minta Restu Bangun 'Pesawat Luar Angkasa'
-
Selasa, 22/05/2012 17:50 WIB
Galaxy Note Gaet Beckham
-
Selasa, 22/05/2012 17:03 WIB
Pernikahan Zuckerberg Pecahkan Rekor 'Like' di Facebook
-
Selasa, 22/05/2012 15:43 WIB
Persembahan 'Lima Kata' untuk Steve Jobs
-
Selasa, 22/05/2012 15:15 WIB
KLiK, Aplikasi iPhone Pengenal Wajah
-
Selasa, 22/05/2012 12:20 WIB
Saran Bagi Zuckerberg Agar Facebook Tak Terpuruk
-
Selasa, 22/05/2012 09:42 WIB
Dosen Unsoed Bikin Aplikasi Mesin Kasir Android
- Rabu, 23/05/2012 11:32 WIB
Hands On
Galaxy S III: Performa Gahar, Fitur Melimpah
- Rabu, 23/05/2012 07:35 WIB
Apple Minta Restu Bangun 'Pesawat Luar Angkasa'
- Rabu, 23/05/2012 15:50 WIB
13 Model BlackBerry dari Masa ke Masa
- Rabu, 23/05/2012 13:19 WIB
Galaxy S III Dibanderol Rp 6,9 Juta di Indonesia?
- Rabu, 23/05/2012 07:51 WIB
OS BlackBerry 10 Datang, Qwerty Fisik Menghilang?
- Rabu, 23/05/2012 15:28 WIB
Perang Ponsel Premium di Indonesia
- Rabu, 23/05/2012 13:53 WIB
'Fotografer Dadakan' di Balik Pernikahan Mark Zuckerberg
- Rabu, 23/05/2012 13:34 WIB
Wow! Komputer Android Dijual Rp 458 Ribu
- Rabu, 23/05/2012 17:27 WIB
Pendiri Google Pamerkan Kacamata Pintar
-
110 Komentar
-
87 Komentar
-
82 Komentar
-
79 Komentar
-
75 Komentar
-
63 Komentar
-
60 Komentar
-
52 Komentar
-
50 Komentar
Pro Kontra
Index »
Galaxy S III Smartphone Terbaik Saat Ini?
Pro
Kontra
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer






Sending your message



.jpg)
