http://us.images.detik.com/logo_tematik/logodetikinet.png
 
 

Siaran TV Analog Berhenti Total di 2017

Muchus Budi R. - detikinet
Jumat, 01/04/2011 13:36 WIB
http://us.images.detik.com/content/2011/04/01/328/tifatul200.jpg
Solo - Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring menegaskan migrasi teknologi siaran televisi dari analog ke digital adalah sebuah keniscayaan sesuai tuntutan perkembangan tekonologi. Menurutnya, pada tahun 2017 dipastikan seluruh siaran televisi analog akan dihentikan di Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Tifatul saat menjadi keynote speaker dalam seminar tentang kesiapan implementasi sistem penyiaran televisi digital di Indonesia yang diselenggarakan di Hotel Novotel, Solo, Jumat (1/4/2011). Acara tersebut digelar sebagai bagian peringatan hari penyiaran nasional.

"Teknologi terus berkembang. Kita harus mengikutinya. Siaran televisi di seluruh dunia akan menuju pada tekonologi digital. Itu sebuah keniscayaan. Migrasi teknologi siaran dari analog ke digital tersebut akan dimulai dari tahun 2011 ini hingga tahun 2017 mendatang. Suluruh siaran analog di Indonesia akan mati penuh pada tahun 2017 mendatang," ujar Tifatul.

Dia mengatakan, kualitas gambar dari teknologi digital jauh lebih bagus dari analog. Selain itu biaya yang dikeluarkan juga jauh lebih ringan dan tidak banyak menghabiskan spektrum siaran seperti pada siaran analog. Penghentian siaran analog akan menghemat penggunaan spektrum sehingga dapat dimanfaatkan untuk layanan lain demi peningkatan pendapatan negara.

Selain itu ke depan, pemerintah juga akan melakukan perampingan zona siaran. Jika saat ini terbagi dalam 33 zona sesuai jumlah propinsi yang ada, ke depan hanya akan dibagi dalam 15 zona siaran.

Perampingan itu didasarkan pada distribusi penduduk yang memang tidak merata di setiap pulau di Indonesia. Dicontohkannya, Pulau Jawa akan dibagi alam lima zona karena memang jumlah penduduknya sangat padat, mencapai 54 persen jumlah penduduk Indonesia.

Namun demikian, Tifatul mengakui ada persoalan teknis yang dihadapi dalam pelaksanaan perubahan siaran analog menjadi digital. Persoalan itu disebabkan kebanyakan pewasat televisi yang ada saat ini adalah model analog, sehingga tidak bisa menerima siaran digital. Untuk bisa menangkap siaran digital, pesawat televisi analog membutuhkan peralatan khusus bernama set top box.

"Tren ke depan, produsen pesawat televisi hanya memproduksi pesawat digital. Sedangkan untuk pesawat analog yang ada sekarang memerlukan set top box. Saat ini harganya memang masih cukup tinggi, sekitar Rp 300 ribu. Nantinya setelah diproduksi secara masif paling-paling harganya sekitar Rp 150 ribu hingga Rp 170 ribu per unit. Saya cukup tahu tentang itu karena saya lulusan STM jurusan elektro," ujarnya.


(mbr/fw)


Berita ini juga dapat dibaca melalui m.detik.com dan aplikasi detikcom untuk BlackBerry, Android, iOS & Windows Phone. Install sekarang!


 atau daftar untuk mengirim komentar
Tampilkan Komentar di:        
Sponsored Link

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Berita Terbaru Index »
Pro Kontra Index »

Nokia Android bakal Menggigit?

Nokia resmi memperkenalkan tiga seri Nokia X yang sudah mengusung sistem operasi Android. Mampukah tiga ponsel kelas menengah itu menggaet perhatian pasar?
Pro
52%
Kontra
48%


Must Read close