http://us.images.detik.com/logo_tematik/logodetikinet.png

Kolom Venus

Mesin Tik Usang dan Mahasiswa Sekarang

Penulis: Venus - detikinet
Jumat, 24/12/2010 18:17 WIB
 Mesin Tik Usang dan Mahasiswa Sekarang ilustrasi (venus)
Jakarta - Di sebuah kedai kopi di Medan, dua minggu yang lalu, saya tersenyum-senyum sendiri  melihat barang-barang lama yang dipajang di sepanjang dindingnya. Ada foto hitam putih perkebunan kopi dalam pigura besar, mesin jahit merk Singer, kaleng-kaleng kerupuk berbagai model dan ukuran.

Di dekat pintu masuk, beralas sebilah papan yang cukup tebal, diletakkan sebuah mesin tik warna hitam. Saya lupa memerhatikan merknya, tapi mesin tik itu terlihat sudah sangat tua. Entah produksi tahun berapa.

Dulu, jaman masih sekolah dan suka iseng malem-malem nulis puisi dan cerpen asal-asalan, biasanya saya pinjam mesin tik punya bapak saya. Dan ya, lagi-lagi saya lupa apa merknya. Brother, kalau tidak salah.

Nah, mesin tik yang saya temukan di kedai kopi kecil yang nyaman dan beratmosfer jadul –tapi sudah dilengkapi koneksi internet yang cepat— itu, terlihat jauh lebih tua dari model yang dulu saya biasa pakai.

Jadi ingat beberapa malam yang lalu. Di sebuah acara gathering para penggiat online di ballroom sebuah hotel di Jakarta, di sebelah saya duduk seorang perempuan. Masih sangat muda. Belakangan saya tau, dia masih kuliah. Kami tidak sedikit pun ngobrol. Saya sibuk dengan teman-teman satu rombongan, dan si nona ini  lebih banyak diam, sibuk mengetik sesuatu di layar gadgetnya.

Kesibukannya mengetik --tepatnya menyentuh-nyentuh layar smartphonenya yang lebar dan terlihat masih baru-- terhenti ketika saya juga akan mulai mengetik sesuatu.

“Wah, mbak main angry birds juga ya?”

Saya nyengir, dan mulailah kami ngobrol tentang game-game favorit, gadget, dan aplikasi-aplikasi terkini. Seperti perempuan-perempuan sekarang pada umumnya, nona ini lumayan melek gadget, dan lancar bicara tentang teknologi mobile internet.

Bukan sesuatu yang istimewa. Tapi di akhir obrolan, saya sedikit kaget waktu dia bilang, “enak banget pake yang ini, mbak. kebantu banget. sekarang kalo kuliah, aku gak pernah lagi bawa buku. semua nyatetnya di sini aja.”

Membayangkan si nona –dan mungkin gadis-gadis lain seusianya—duduk di ruang kuliah, mencatat materi kuliah dengan cara menyentuh-nyentuh layar seperti itu, agak terasa aneh buat saya.

Tidak ada lagi jari tangan kotor kena tinta, tidak dibutuhkan lagi tipp-ex jika ada tulisan yang perlu dihapus. Sedikit absurd buat saya, yang kebetulan mengalami masa-masa di mana semua dikerjakan serba manual. Tapi zaman –dan trend-- memang mustahil dibendung.

Ah, jadi kangen mengetik di mesin tik tua milik bapak. Kangen mendengar suara tak-tik-tak-tik yang berisik saat menulis cerpen malam-malam :)



Venus Tentang Penulis: Venus adalah seorang blogger dan social media specialist. Ia bisa dihubungi di http://venus-to-mars.com atau melalui akun @venustweets di Twitter.
(wsh/wsh)


Baca Juga



Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi : sales[at]detik.com
Pro Kontra Index »

Indonesia Darurat 4G?

Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Ya, inilah kira-kira urgensi yang akhirnya membuat layanan 4G LTE dikomersialisasi di Indonesia. Di sisi lain, layanan 3G dianggap masih belum optimal penyebarannya, termasuk 2G yang masih banyak penggunanya.
Pro
0%
Kontra
0%


Must Read close