detikinet

4 Vendor LCD Dituding Lakukan Konspirasi Harga

Febrina Ayu Scottiati - detikinet
Rabu, 11/08/2010 16:58 WIB

Ilustrasi (rou/inet)

Jakarta - Kejaksaan kota New York, Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah mengajukan gugatan ketidakpercayaannya (Anti Trust) terhadap produsen-produsen layar LCD. Sebanyak empat perusahaan besar diduga telah melakukan konspirasi untuk menaikkan harga.

Jaksa Agung New York, Andrew Cuomo menuduh perusahaan raksasa seperti Sharp, Samsung, LG dan Toshiba secara ilegal telah menaikkan harga produk LCD
buatannya. Cuomo mengklaim bahwa pemasangan harga baru itu telah berlangsung selama satu dekade dan telah membuat rugi banyak pihak.

Menurut gugatan itu jika terbukti bersalah, perusahaan raksasa tersebut diharuskan membayar ganti rugi dan biaya restitusi kepada pemerintah serta denda
karena telah melanggar undang-undang anti-trust negara bagian New York.

Seperti dikutip detikINET dari IT Pro Portal, Selasa (10/8/2010), perusahaan-perusahaan raksasa yang diduga telah menaikkan harga LCD itu kemudian menjualnya ke negara bagian, pemerintah daerah, sekolah, rumah sakit dan universitas yang tersebar di mana-mana.

"Akibatnya adalah tekanan bagi kota New York, sekolah-sekolah dan rumah sakit menghabiskan ratusan juta dolar untuk layar LCD yang harganya dinaikkan oleh
konspirasi ilegal. Kantor saya akan membawa kasus ini untuk mendapatkan ganti rugi," tukas Cuomo.


( feb / ash )

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Share:

Komentar (0 Komentar)


    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login


    Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    Pro Kontra Index »

    Galaxy S III Smartphone Terbaik Saat Ini?

    Performa Galaxy S III terbilang menjanjikan. Ia mengusung quadcore, layar Gorilla Glass 2, serta fitur melimpah. Tak pelak, Samsung mengklaim Galaxy S III sebagai smartphone terbaik saat ini. Anda setuju?
    Pro
    51%
    Kontra
    49%