Berita Utama
-
Jumat, 25/05/2012 17:21 WIB
Warga Twitter Puji Dedikasi 'Satpam Digital'
-
Jumat, 25/05/2012 16:07 WIB
6 Ponsel Nokia Terpopuler
-
Jumat, 25/05/2012 15:19 WIB
5 Casing iPhone yang Punya 'Gigi' Pembuka Botol
-
Jumat, 25/05/2012 11:19 WIB
I Made Wiryana, Anak Band yang Jadi 'Cyber Paspampres'
-
Jumat, 25/05/2012 12:52 WIB
Mencicipi Facebook Camera: Instagram ala Facebook
-
Jumat, 25/05/2012 10:19 WIB
Tips Mengubah Kontak di BlackBerry Menjadi Excel
-
Kamis, 24/05/2012 15:37 WIB
Negara Mana 'Raja' Internet ASEAN?
-
Kamis, 24/05/2012 12:12 WIB
5 'Nenek Moyang' Smartphone Android
-
Kamis, 24/05/2012 11:15 WIB
Waspadai Email Palsu dari 'Facebook'
Simalakama Pemblokiran BlackBerry: Siapa Paling Kuat?
Senin, 09/08/2010 13:08 WIB

(Ist)
Jakarta - Sebagai produsen, Research in Motion (RIM) tentu ingin BlackBerry terus digunakan banyak orang sebagai handset dengan keamanan data yang bisa diandalkan. Namun jika layanannya lantas diblokir, siapa yang bisa pakai?
Dilema ini bukan hanya menimpa RIM, perusahaan dari Kanada, namun juga sejumlah negara yang mengancam pemblokiran. Arab Saudi, misalnya. Seperti dilaporkan AFP, ancaman pemblokiran yang mulanya begitu lantang menggema ke seluruh dunia, ternyata hanya sanggup bertahan empat jam saja.
Dalam laporan Associated Press yang dipublikasikan New York Times, pemblokiran BlackBerry hanya bisa ditangguhkan kerajaan Arab jika RIM setuju untuk memenuhi desakan yang diminta sebelumnya yakni, mengizinkan untuk memonitor penuh komunikasi data, serta mau menempatkan server lokal.
Nah, dengan dihentikannya pemblokiran BlackBerry di Arab, apakah ini karena RIM akhirnya setuju untuk memenuhi kesepakatan yang diminta? Atau RIM terpaksa menyerah karena tak mau kehilangan pasar BlackBerry yang sangat menjanjikan?
Entahlah. Yang jelas, seperti dikutip detikINET, Senin (9/8/2010), pejabat komisioner untuk bidang Komunikasi dan Informatika Arab Saudi, Bandar
al-Mohammed, saat diwawancara AFP menyatakan atau mungkin mengklaim, RIM telah membersitkan niatnya untuk menempatkan server BlackBerry di Arab Saudi.
Tak hanya itu, jika deal itu benar-benar terjadi, maka paket persetujuan lainnya agar BlackBerry tidak terus diblokir ialah dengan memberi izin kunci duplikat enkripsi data. Yang pada akhirnya, bisa membuat Arab mengintip komunikasi data pelanggan BlackBerry negaranya.
"Meskipun RIM mengenkripsi email, kesepakatan itu (jika benar demikian merupakan pesan terbuka kepada lembaga pengawas di pemerintahan Arab Saudi," kata Bruce Schneier, Chief Security Technology Officer BT, operator telekomunikasi dari Inggris.
Wacana pemblokiran BlackBerry jadi ramai dipertimbangkan banyak negara karena
handset ini dinilai punya potensi besar mengancam keamanan negara. Sebab, informasi yang terenkripsi dianggap sulit dilacak dan dimonitor karena tak melalui server domestik.
Pemerintah Arab takut skema layanan terenkripsi semacam BlackBerry ini bisa
dimanfaatkan oleh kelompok militan dan teroris untuk menghindari pelacakan.
Kekhawatiran yang sama diperlihatkan oleh Uni Emirate Arab (UAE) dan India, termasuk Indonesia belakangan ini.
Menurut Schneier, email yang dikirim lewat BlackBerry pelanggan hanya dienkripsi saat pengiriman terjadi dari ponsel ke server. Begitu server lokal dibangun, lanjut dia, maka pesan yang terkirim lewat BlackBerry akan terdekripsi (terbuka proteksinya) untuk penyortiran dan distribusi.
"Dengan demikian, enkripsi (proteksi) menjadi tidak relevan lagi pemerintah Arab Saudi. Mereka akan (bisa) membaca semuanya," papar sang eksekutif telekomunikasi.
RIM menolak untuk berkomentar tentang perjanjian kesepakatan yang dilontarkan akhir pekan lalu. Perusahaan yang berbasis di Toronto, Kanada, ini kembali menegaskan pernyataan sebelumnya tentang penolakan membuka akses data BlackBerry atas desakan sejumlah negara.
Meski RIM bersikeras rahasia teknologinya tak bisa dibeberkan untuk pihak mana pun, namun di sisi lain, Menteri Perdagangan Internasional Kanada, Peter Van Loan, mengkonfirmasikan telah melakukan perundingan resmi bersama RIM dan pemerintah Arab Saudi, Jumat lalu, untuk menghentikan pemblokiran.
Di lain kesempatan, pejabat regulasi Arab lainnya yang tak mau disebut namanya, juga mengatakan bahwa pihaknya sedang melakukan pengujian untuk memastikan cara instalasi server BlackBerry di dalam negerinya.
"Apapun yang dilakukan Arab Saudi akan diikuti oleh negara lain di sekitarnya," demikian analisa dari John Sfakianakis, bos perusahaan finansial ternama di Arab yang sempat mengalami gangguan saat layanan BlackBerry diblokir di Arab.
"RIM lumayan cerdas. Mereka melihat (Arab) ini adalah pasar yang sangat
menguntungkan. Tentu, mereka tak ingin menarik diri keluar dari pasar ini,"
Sfakianakis melanjutkan analisanya.
Artinya?
( rou / rns )
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Dilema ini bukan hanya menimpa RIM, perusahaan dari Kanada, namun juga sejumlah negara yang mengancam pemblokiran. Arab Saudi, misalnya. Seperti dilaporkan AFP, ancaman pemblokiran yang mulanya begitu lantang menggema ke seluruh dunia, ternyata hanya sanggup bertahan empat jam saja.
Dalam laporan Associated Press yang dipublikasikan New York Times, pemblokiran BlackBerry hanya bisa ditangguhkan kerajaan Arab jika RIM setuju untuk memenuhi desakan yang diminta sebelumnya yakni, mengizinkan untuk memonitor penuh komunikasi data, serta mau menempatkan server lokal.
Nah, dengan dihentikannya pemblokiran BlackBerry di Arab, apakah ini karena RIM akhirnya setuju untuk memenuhi kesepakatan yang diminta? Atau RIM terpaksa menyerah karena tak mau kehilangan pasar BlackBerry yang sangat menjanjikan?
Entahlah. Yang jelas, seperti dikutip detikINET, Senin (9/8/2010), pejabat komisioner untuk bidang Komunikasi dan Informatika Arab Saudi, Bandar
al-Mohammed, saat diwawancara AFP menyatakan atau mungkin mengklaim, RIM telah membersitkan niatnya untuk menempatkan server BlackBerry di Arab Saudi.
Tak hanya itu, jika deal itu benar-benar terjadi, maka paket persetujuan lainnya agar BlackBerry tidak terus diblokir ialah dengan memberi izin kunci duplikat enkripsi data. Yang pada akhirnya, bisa membuat Arab mengintip komunikasi data pelanggan BlackBerry negaranya.
"Meskipun RIM mengenkripsi email, kesepakatan itu (jika benar demikian merupakan pesan terbuka kepada lembaga pengawas di pemerintahan Arab Saudi," kata Bruce Schneier, Chief Security Technology Officer BT, operator telekomunikasi dari Inggris.
Wacana pemblokiran BlackBerry jadi ramai dipertimbangkan banyak negara karena
handset ini dinilai punya potensi besar mengancam keamanan negara. Sebab, informasi yang terenkripsi dianggap sulit dilacak dan dimonitor karena tak melalui server domestik.
Pemerintah Arab takut skema layanan terenkripsi semacam BlackBerry ini bisa
dimanfaatkan oleh kelompok militan dan teroris untuk menghindari pelacakan.
Kekhawatiran yang sama diperlihatkan oleh Uni Emirate Arab (UAE) dan India, termasuk Indonesia belakangan ini.
Menurut Schneier, email yang dikirim lewat BlackBerry pelanggan hanya dienkripsi saat pengiriman terjadi dari ponsel ke server. Begitu server lokal dibangun, lanjut dia, maka pesan yang terkirim lewat BlackBerry akan terdekripsi (terbuka proteksinya) untuk penyortiran dan distribusi.
"Dengan demikian, enkripsi (proteksi) menjadi tidak relevan lagi pemerintah Arab Saudi. Mereka akan (bisa) membaca semuanya," papar sang eksekutif telekomunikasi.
RIM menolak untuk berkomentar tentang perjanjian kesepakatan yang dilontarkan akhir pekan lalu. Perusahaan yang berbasis di Toronto, Kanada, ini kembali menegaskan pernyataan sebelumnya tentang penolakan membuka akses data BlackBerry atas desakan sejumlah negara.
Meski RIM bersikeras rahasia teknologinya tak bisa dibeberkan untuk pihak mana pun, namun di sisi lain, Menteri Perdagangan Internasional Kanada, Peter Van Loan, mengkonfirmasikan telah melakukan perundingan resmi bersama RIM dan pemerintah Arab Saudi, Jumat lalu, untuk menghentikan pemblokiran.
Di lain kesempatan, pejabat regulasi Arab lainnya yang tak mau disebut namanya, juga mengatakan bahwa pihaknya sedang melakukan pengujian untuk memastikan cara instalasi server BlackBerry di dalam negerinya.
"Apapun yang dilakukan Arab Saudi akan diikuti oleh negara lain di sekitarnya," demikian analisa dari John Sfakianakis, bos perusahaan finansial ternama di Arab yang sempat mengalami gangguan saat layanan BlackBerry diblokir di Arab.
"RIM lumayan cerdas. Mereka melihat (Arab) ini adalah pasar yang sangat
menguntungkan. Tentu, mereka tak ingin menarik diri keluar dari pasar ini,"
Sfakianakis melanjutkan analisanya.
Artinya?
( rou / rns )
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Baca Juga
Berita Terbaru
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 19:34 WIB
Indosat Tambah Kapasitas Cloud USD 1 Juta
-
Rabu, 23/05/2012 18:58 WIB
Indosat Siap Luncurkan Mobile Cloud
-
Rabu, 23/05/2012 12:38 WIB
Telkom Kembangkan e-Gov Berbasis Cloud
-
Rabu, 23/05/2012 11:12 WIB
Tender 3G Bisa Kembali Diundur Agar Tak Cacat Hukum
-
Senin, 21/05/2012 09:59 WIB
Kolom Telematika
Fenomena Social Networking
-
Senin, 21/05/2012 09:10 WIB
Lippo Luncurkan Satelit
-
Sabtu, 19/05/2012 14:26 WIB
Zuck Lebih Kaya dari Duo Pendiri Google
-
Sabtu, 19/05/2012 13:27 WIB
Duh, Angkasa Pura I Belum Miliki Izin Stasiun Radio
- Minggu, 27/05/2012 10:13 WIB
Telkomsel Bangun 1.600 BTS di Timur Indonesia
- Sabtu, 26/05/2012 17:54 WIB
Tablet Google Dipamerkan Bulan Depan
- Sabtu, 26/05/2012 12:48 WIB
Karyawan Yahoo Ramai-ramai Puji Axis di App Store
- Sabtu, 26/05/2012 10:27 WIB
Sensor 16 MP OmniVision Mampu Rekam Video 4K
- Jumat, 25/05/2012 10:51 WIB
Nasib BlackBerry Messenger Suram?
- Sabtu, 26/05/2012 13:19 WIB
Siri Dibenamkan di OS X Mountain Lion?
- Jumat, 25/05/2012 16:07 WIB
6 Ponsel Nokia Terpopuler
- Sabtu, 26/05/2012 15:36 WIB
Rumor: FIFA 2013 'Kick-off' September 2012
- Jumat, 25/05/2012 09:03 WIB
Lucu! Pencuri iPhone Kirim Foto Dirinya ke Facebook Korban
-
224 Komentar
-
84 Komentar
-
80 Komentar
-
64 Komentar
-
63 Komentar
-
60 Komentar
-
57 Komentar
-
54 Komentar
-
48 Komentar
Pro Kontra
Index »
Galaxy S III Smartphone Terbaik Saat Ini?
Pro
Kontra
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





Sending your message



.jpg)

