Berita Utama
-
Selasa, 22/05/2012 15:24 WIB
13 Ponsel yang Menjadi Tonggak Sejarah
-
Selasa, 22/05/2012 13:15 WIB
Samsung Resmi Boyong Galaxy S III ke Indonesia
-
Selasa, 22/05/2012 11:32 WIB
16 Game iPhone yang Wajib Dimainkan
-
Selasa, 22/05/2012 10:29 WIB
Saham Anjlok, Harta Pendiri Facebook 'Lenyap' Rp 20 Triliun
-
Selasa, 22/05/2012 12:20 WIB
Saran Bagi Zuckerberg Agar Facebook Tak Terpuruk
-
Selasa, 22/05/2012 08:48 WIB
Saham Facebook Tumbang
-
Selasa, 22/05/2012 09:26 WIB
5 Kesalahan di Twitter yang Harus Dihindari
-
Senin, 21/05/2012 13:18 WIB
Priscilla Chan, Dokter yang Jadi Nyonya Zuckerberg
-
Senin, 21/05/2012 13:45 WIB
5 Brand yang Sukses 'Jualan' via Instagram
Kolom Telematika
Manajemen Pengetahuan di Era Teknologi Informasi
Sabtu, 24/04/2010 14:18 WIB

Fran Suwarman Sjam
Kolom - Ada fenomena menarik tentang perusahaan utama di dunia. Ternyata, berdasarkan data Fortune 500 dan ahli manajemen Peter Senge, perusahaan utama rata-rata berumur dua generasi alias berusia antara 40-50 tahun.
Akan tetapi, mengacu studi Ellen de Roiij dari Stratix Group, segelintir perusahaan terdepan berumur lebih panjang seperti seperti Sumitomo, perusahaan konglemerasi asal Jepang, yang hingga kini berusia 400 tahun.
Stora, sebuah perusahaan kertas raksasa di Swedia, kira-kira berumur 800 tahun, Du Pont (perusahaan kimia Amerika Serikat) telah berusia sekitar 195 tahun, serta Pilkington (perusahaan kaca Inggris) yang telah berulangtahun ke-171.
Selidik punya selidik, kedua penelitian di atas menunjukkan bahwa yang menyebabkan perusahaan ini berumur panjang, sehingga akhirnya menjadi perusahaan utama, adalah pengelolaan pengetahuan.
Maksudnya, manajemen perusahaan ini sangat menghargai pengetahuan yang dimiliki personelnya. Bahkan, pengetahuan ditempatkan sebagai sumber daya ekonomi lebih tinggi dari modal, sumber daya alam, dan tenaga kerja itu sendiri.
Dengan menjadikan pengetahuan karyawan sebagai living asset, maka perusahaan bisa terus belajar menyesuaikan diri dengan tuntutan perubahan zaman sehingga konsumen dan pasar bisa terbina sekian lama.
Persoalannya kemudian adalah pengetahuan di era teknologi informasi sekarang, era ketika jelajah dunia maya kian agresif menerpa, tampaknya sudah membawa kita ke dalam globalisasi dan revolusi pengetahuan.
Ini ditunjukkan dengan menjamurnya blog, situs jejaring sosial, portal, hingga metode macam e-learning, document management system, enterprise content management, data warehouse dan business intelligence.
Dan, suka tidak suka, disadari atau tidak, revolusi pengetahuan ini jadinya kerap disertai situasi kian meluapnya informasi. Ini membuat yang tidak relevan dibutuhkan pun terkadang muncul (information overload).
Situasi ini tidak sederhana. Sebab, Thomas A Stewart dalam Intellectual Capital & Wealth of Knowledge, menyatakan sebuah perusahaan sebenarnya membuang milyaran dollar ketika gagal mengelola dan mendeskripsikan pengetahuan.
Alih-alih menciptakan situasi pengetahuan sebagai living asset yang menguntungkan, perusahaan malah buntung. Timbul pertanyaan, bagaimana mengelola pengetahuan (knowledge management system/KMS) di era teknologi informasi ini?
Langkah KMS
Guna menciptakan KMS yang efektif, pertama, libatkanlah teknologi sebagai platform dalam mendukung proses manajemen pengetahuan. Dengannya, akan tercipta cara sistemik dalam mengumpulkan, menyebarkan, dan membagi pengetahuan.
Teknologi pula yang membuat informasi perusahaan jadi terlembagakan guna menghindari kesalahan serupa, menghindari proses penemuan, mempersingkat siklus belajar, sekaligus memandu penciptaan keputusan berdasar pengetahuan mendalam.
Secara konkret, teknologi dalam KMS bisa berbentuk mesin pencari, workflow, enterprise content management, document management system, data warehouse, data mining, data mart, artificial intelligent, expert system, portal, web generasi 2.0, dan seterusnya.
Kedua, lakukan taksonomi atau deskripsikan dan kelompokkan pengetahuan yang dibutuhkan. Hal ini dilakukan karena revolusi pengetahuan via Internet sekarang, jelas memerlukan solusi agar pengetahuan mudah dicari karena sudah terstruktur.
Dengan taksonomi, akan terbangun istilah atau kosakata standar yang umum digunakan. Secara konkret, caranya adalah dengan mengelompokkan sesuatu yang memiliki kemiripan, melakukan peta pengetahuan, menciptakan kamus istilah, dan seterusnya.
Taksonomi adalah proses yang menegaskan keberhasilan KMS tidak selalu bergantung teknologi canggih yang dipakai. Tapi juga pada posisi taksonomi sebagai jembatan manusia dengan proses, manusia dengan teknologi, dan proses dengan teknologi.
Ketiga, menumbuh kembangkan kepedulian karyawan kepada KMS. Dalam survei berjudul State of Knowledge Management in Indonesia yang kami lakukan pada 2007 terungkap, 64% responden mengaku tidak memiliki budaya berbagi pengetahuan.
Sementara 52% responden menyatakan knowledge management yang sudah dibuat, malah jarang digunakan. Dengan situasi ini, maka selain terus berusaha menciptakan budaya berbagi, juga dilalukan upaya memberi penghargaan.
Kepada mereka yang berkontribusi tinggi mengembangkan pengetahuan di perusahaannya, diberikan apresiasi internal. Jika cara ini kurang efektif, budaya berbagi ini bisa dimasukkan sebagai bagian penilaian kerja karyawan.
Penulis merupakan Konsultan Senior Manajemen Informasi, KMS & Taksonomi di Lembaga Riset Telematika Sharing Vision, Bandung. Bisa dihubungi melalui email redaksi@detikinet.com.
( rou / rou )
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Akan tetapi, mengacu studi Ellen de Roiij dari Stratix Group, segelintir perusahaan terdepan berumur lebih panjang seperti seperti Sumitomo, perusahaan konglemerasi asal Jepang, yang hingga kini berusia 400 tahun.
Stora, sebuah perusahaan kertas raksasa di Swedia, kira-kira berumur 800 tahun, Du Pont (perusahaan kimia Amerika Serikat) telah berusia sekitar 195 tahun, serta Pilkington (perusahaan kaca Inggris) yang telah berulangtahun ke-171.
Selidik punya selidik, kedua penelitian di atas menunjukkan bahwa yang menyebabkan perusahaan ini berumur panjang, sehingga akhirnya menjadi perusahaan utama, adalah pengelolaan pengetahuan.
Maksudnya, manajemen perusahaan ini sangat menghargai pengetahuan yang dimiliki personelnya. Bahkan, pengetahuan ditempatkan sebagai sumber daya ekonomi lebih tinggi dari modal, sumber daya alam, dan tenaga kerja itu sendiri.
Dengan menjadikan pengetahuan karyawan sebagai living asset, maka perusahaan bisa terus belajar menyesuaikan diri dengan tuntutan perubahan zaman sehingga konsumen dan pasar bisa terbina sekian lama.
Persoalannya kemudian adalah pengetahuan di era teknologi informasi sekarang, era ketika jelajah dunia maya kian agresif menerpa, tampaknya sudah membawa kita ke dalam globalisasi dan revolusi pengetahuan.
Ini ditunjukkan dengan menjamurnya blog, situs jejaring sosial, portal, hingga metode macam e-learning, document management system, enterprise content management, data warehouse dan business intelligence.
Dan, suka tidak suka, disadari atau tidak, revolusi pengetahuan ini jadinya kerap disertai situasi kian meluapnya informasi. Ini membuat yang tidak relevan dibutuhkan pun terkadang muncul (information overload).
Situasi ini tidak sederhana. Sebab, Thomas A Stewart dalam Intellectual Capital & Wealth of Knowledge, menyatakan sebuah perusahaan sebenarnya membuang milyaran dollar ketika gagal mengelola dan mendeskripsikan pengetahuan.
Alih-alih menciptakan situasi pengetahuan sebagai living asset yang menguntungkan, perusahaan malah buntung. Timbul pertanyaan, bagaimana mengelola pengetahuan (knowledge management system/KMS) di era teknologi informasi ini?
Langkah KMS
Guna menciptakan KMS yang efektif, pertama, libatkanlah teknologi sebagai platform dalam mendukung proses manajemen pengetahuan. Dengannya, akan tercipta cara sistemik dalam mengumpulkan, menyebarkan, dan membagi pengetahuan.
Teknologi pula yang membuat informasi perusahaan jadi terlembagakan guna menghindari kesalahan serupa, menghindari proses penemuan, mempersingkat siklus belajar, sekaligus memandu penciptaan keputusan berdasar pengetahuan mendalam.
Secara konkret, teknologi dalam KMS bisa berbentuk mesin pencari, workflow, enterprise content management, document management system, data warehouse, data mining, data mart, artificial intelligent, expert system, portal, web generasi 2.0, dan seterusnya.
Kedua, lakukan taksonomi atau deskripsikan dan kelompokkan pengetahuan yang dibutuhkan. Hal ini dilakukan karena revolusi pengetahuan via Internet sekarang, jelas memerlukan solusi agar pengetahuan mudah dicari karena sudah terstruktur.
Dengan taksonomi, akan terbangun istilah atau kosakata standar yang umum digunakan. Secara konkret, caranya adalah dengan mengelompokkan sesuatu yang memiliki kemiripan, melakukan peta pengetahuan, menciptakan kamus istilah, dan seterusnya.
Taksonomi adalah proses yang menegaskan keberhasilan KMS tidak selalu bergantung teknologi canggih yang dipakai. Tapi juga pada posisi taksonomi sebagai jembatan manusia dengan proses, manusia dengan teknologi, dan proses dengan teknologi.
Ketiga, menumbuh kembangkan kepedulian karyawan kepada KMS. Dalam survei berjudul State of Knowledge Management in Indonesia yang kami lakukan pada 2007 terungkap, 64% responden mengaku tidak memiliki budaya berbagi pengetahuan.
Sementara 52% responden menyatakan knowledge management yang sudah dibuat, malah jarang digunakan. Dengan situasi ini, maka selain terus berusaha menciptakan budaya berbagi, juga dilalukan upaya memberi penghargaan.
Kepada mereka yang berkontribusi tinggi mengembangkan pengetahuan di perusahaannya, diberikan apresiasi internal. Jika cara ini kurang efektif, budaya berbagi ini bisa dimasukkan sebagai bagian penilaian kerja karyawan.
Penulis merupakan Konsultan Senior Manajemen Informasi, KMS & Taksonomi di Lembaga Riset Telematika Sharing Vision, Bandung. Bisa dihubungi melalui email redaksi@detikinet.com.
( rou / rou )
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Baca Juga
Berita Terbaru
Index »
-
Senin, 21/05/2012 09:10 WIB
Lippo Luncurkan Satelit
-
Sabtu, 19/05/2012 14:26 WIB
Zuck Lebih Kaya dari Duo Pendiri Google
-
Sabtu, 19/05/2012 13:27 WIB
Duh, Angkasa Pura I Belum Miliki Izin Stasiun Radio
-
Sabtu, 19/05/2012 10:29 WIB
Musibah Sukhoi
Kominfo Enggan Berspekulasi Soal Interferensi Frekuensi
-
Rabu, 16/05/2012 19:45 WIB
Bongkar Pasang Formasi Tiga Raksasa Telekomunikasi
-
Rabu, 16/05/2012 19:18 WIB
Lengser dari Telkomsel, Sarwoto Balik ke Telkom Urus Satelit
-
Rabu, 16/05/2012 18:43 WIB
Alex Sinaga, Dirut Baru Telkomsel
-
Rabu, 16/05/2012 15:21 WIB
Direksi Telkomsel Dirombak?
- Rabu, 23/05/2012 07:51 WIB
OS BlackBerry 10 Datang, Qwerty Fisik Menghilang?
- Rabu, 23/05/2012 07:35 WIB
Apple Minta Restu Bangun 'Pesawat Luar Angkasa'
- Rabu, 23/05/2012 08:26 WIB
'My Last Wish', Jejaring Sosial Sebelum Mati
- Rabu, 23/05/2012 08:10 WIB
Ini 11 Investor 'Kelas Berat' Pemegang Saham Facebook
- Selasa, 22/05/2012 16:33 WIB
Ssstt... Harga Galaxy S II akan Dipangkas
- Selasa, 22/05/2012 14:44 WIB
Samsung Bingung Tetapkan Harga Galaxy S III di Indonesia
- Selasa, 22/05/2012 15:24 WIB
13 Ponsel yang Menjadi Tonggak Sejarah
- Selasa, 22/05/2012 09:26 WIB
Tips & Trik
5 Kesalahan di Twitter yang Harus Dihindari
- Selasa, 22/05/2012 11:32 WIB
16 Game iPhone yang Wajib Dimainkan
-
87 Komentar
-
82 Komentar
-
79 Komentar
-
79 Komentar
-
73 Komentar
-
63 Komentar
-
51 Komentar
-
43 Komentar
-
43 Komentar
Pro Kontra
Index »
iPad Generasi Terbaru Memuaskan?
Pro
Kontra
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





Sending your message





