Berita Utama
-
Jumat, 25/05/2012 17:21 WIB
Warga Twitter Puji Dedikasi 'Satpam Digital'
-
Jumat, 25/05/2012 16:07 WIB
6 Ponsel Nokia Terpopuler
-
Jumat, 25/05/2012 15:19 WIB
5 Casing iPhone yang Punya 'Gigi' Pembuka Botol
-
Jumat, 25/05/2012 11:19 WIB
I Made Wiryana, Anak Band yang Jadi 'Cyber Paspampres'
-
Jumat, 25/05/2012 12:52 WIB
Mencicipi Facebook Camera: Instagram ala Facebook
-
Jumat, 25/05/2012 10:19 WIB
Tips Mengubah Kontak di BlackBerry Menjadi Excel
-
Kamis, 24/05/2012 15:37 WIB
Negara Mana 'Raja' Internet ASEAN?
-
Kamis, 24/05/2012 12:12 WIB
5 'Nenek Moyang' Smartphone Android
-
Kamis, 24/05/2012 11:15 WIB
Waspadai Email Palsu dari 'Facebook'
Mempertanyakan Asing di Bisnis Menara
Rabu, 17/03/2010 18:32 WIB

Menara telekomunikasi (bgs/inet)
Jakarta - Di saat banyak pihak ramai-ramai menolak asing untuk masuk ke ranah bisnis menara telekomunikasi, hanya Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan yang tetap getol membela asing.
"Ada apa gerangan?" pertanyaan ini dilontarkan banyak pihak, mulai dari kalangan pengusaha menara, regulator, bahkan dari kalangan pemerintah sendiri, ketika dimintai komentarnya oleh detikINET, Rabu (17/3/2010).
Kepala BKPM yang dipilih presiden untuk meneruskan kiprah Muhammad Lutfi ini, memberikan pernyataan bahwa sektor menara telekomunikasi masih perlu dibuka untuk asing dengan alasan: pendanaan dalam negeri belum maksimal untuk menopang kebutuhan pembangunan menara di berbagai daerah demi menekan wilayah blank spot.
Pernyataan itu keluar tak lama setelah Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa memberikan pernyataan bahwa pemerintah akhirnya memutuskan investasi menara telekomunikasi tetap diperuntukkan bagi penanam modal domestik dan tertutup bagi investor asing.
Keputusan soal larangan asing di bisnis menara itu sekaligus menuntaskan revisi daftar negatif investasi (DNI) dalam Perpres No. 111/2007 yang diajukan Gita.
Hatta beralasan, dari semua usaha di subsektor industri telekomunikasi, 90% sudah berstatus terbuka bagi investor asing. Namun, khusus pembangunan menara telekomunikasi, pemerintah ingin hal itu dikembangkan pengusaha nasional.
Namun entah mengapa, Gita malah beda argumentasi dengan mengatakan kalau peluang asing ditutup, "kita tidak terlalu ambisius". Tidak jelas siapa yang dimaksud "kita" dalam hal ini. Namun yang pasti, ia bersikeras asing tetap diberi celah untuk masuk, meski dalam jumlah terbatas. "10%, 20%, 40%, atau 51%, yang penting ada keterbukaan," katanya.
Hal ini membuat sejumlah kalangan heran. Termasuk Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring. Menurutnya, jika hanya di bawah 10% peluang dalam negeri untuk ikut menikmati bisnis telekomunikasi, "apakah menara perlu kita berikan juga?"
Tifatul malah menilai, jika menara dibuka untuk asing, justru para pemilik operator telekomunikasi akan lebih banyak melakukan divestasi menara-menara lama.
Asosiasi Pengembang Infrastruktur Menara Telekomunikasi (Aspimtel) turut menyayangkan pernyataan Kepala BKPM. "Sektor industri telekomunikasi pada dasarnya impor 98%. Sedangkan tower hanya sebagian kecil dari seluruh kontribusi industri telekomunikasi, maka seharusnya ini menjadi hak lokal."
"Jika asing mau masuk, silakan melalui pasar modal terhadap perusahaan penyedia menara yang sudah go public," saran Ketua Umum Aspimtel, Sakti Wahyu Trenggono.
Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi juga mengatakan, asing telah diberi peluang masuk dan ikut menikmati bisnis menara melalui kepemilikan sahamnya di operator telekomunikasi.
"Perusahaan lokal sudah bisa menangani bisnis menara. Asing kan sudah diberi peluang masuk melalui operator. Lagipula, menara tidak butuh teknologi tinggi dan finansial besar," ujarnya.
Menurut Heru, total capital expenditure (capex) atau nilai bisnis telekomunikasi di Indonesia pada 2010 ini sudah turun 40% dari tahun sebelumnya, menjadi hanya sekitar Rp 44 triliun. "Artinya, bisnis menara juga mulai menurun karena ke depan pembangunan jaringan baru sudah direm," jelasnya.
Terkait pernyataan yang mengakomodir asing, Heru juga ikut menyesalkan sikap dari pejabat negara yang terlalu mengagungkan investor asing. Sebab, menurutnya, investor asing yang masuk ke sektor telekomunikasi tidak menjamin membawa uang segar ke sektor riil.
"Pihak yang diuntungkan adalah pengusaha yang sahamnya dibeli oleh asing. Sedangkan pencarian dana untuk ekspansi tak jauh dari pasar lokal seperti bank atau bursa lokal," tandasnya.
( rou / eno )
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
"Ada apa gerangan?" pertanyaan ini dilontarkan banyak pihak, mulai dari kalangan pengusaha menara, regulator, bahkan dari kalangan pemerintah sendiri, ketika dimintai komentarnya oleh detikINET, Rabu (17/3/2010).
Kepala BKPM yang dipilih presiden untuk meneruskan kiprah Muhammad Lutfi ini, memberikan pernyataan bahwa sektor menara telekomunikasi masih perlu dibuka untuk asing dengan alasan: pendanaan dalam negeri belum maksimal untuk menopang kebutuhan pembangunan menara di berbagai daerah demi menekan wilayah blank spot.
Pernyataan itu keluar tak lama setelah Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa memberikan pernyataan bahwa pemerintah akhirnya memutuskan investasi menara telekomunikasi tetap diperuntukkan bagi penanam modal domestik dan tertutup bagi investor asing.
Keputusan soal larangan asing di bisnis menara itu sekaligus menuntaskan revisi daftar negatif investasi (DNI) dalam Perpres No. 111/2007 yang diajukan Gita.
Hatta beralasan, dari semua usaha di subsektor industri telekomunikasi, 90% sudah berstatus terbuka bagi investor asing. Namun, khusus pembangunan menara telekomunikasi, pemerintah ingin hal itu dikembangkan pengusaha nasional.
Namun entah mengapa, Gita malah beda argumentasi dengan mengatakan kalau peluang asing ditutup, "kita tidak terlalu ambisius". Tidak jelas siapa yang dimaksud "kita" dalam hal ini. Namun yang pasti, ia bersikeras asing tetap diberi celah untuk masuk, meski dalam jumlah terbatas. "10%, 20%, 40%, atau 51%, yang penting ada keterbukaan," katanya.
Hal ini membuat sejumlah kalangan heran. Termasuk Menteri Komunikasi dan Informatika, Tifatul Sembiring. Menurutnya, jika hanya di bawah 10% peluang dalam negeri untuk ikut menikmati bisnis telekomunikasi, "apakah menara perlu kita berikan juga?"
Tifatul malah menilai, jika menara dibuka untuk asing, justru para pemilik operator telekomunikasi akan lebih banyak melakukan divestasi menara-menara lama.
Asosiasi Pengembang Infrastruktur Menara Telekomunikasi (Aspimtel) turut menyayangkan pernyataan Kepala BKPM. "Sektor industri telekomunikasi pada dasarnya impor 98%. Sedangkan tower hanya sebagian kecil dari seluruh kontribusi industri telekomunikasi, maka seharusnya ini menjadi hak lokal."
"Jika asing mau masuk, silakan melalui pasar modal terhadap perusahaan penyedia menara yang sudah go public," saran Ketua Umum Aspimtel, Sakti Wahyu Trenggono.
Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi juga mengatakan, asing telah diberi peluang masuk dan ikut menikmati bisnis menara melalui kepemilikan sahamnya di operator telekomunikasi.
"Perusahaan lokal sudah bisa menangani bisnis menara. Asing kan sudah diberi peluang masuk melalui operator. Lagipula, menara tidak butuh teknologi tinggi dan finansial besar," ujarnya.
Menurut Heru, total capital expenditure (capex) atau nilai bisnis telekomunikasi di Indonesia pada 2010 ini sudah turun 40% dari tahun sebelumnya, menjadi hanya sekitar Rp 44 triliun. "Artinya, bisnis menara juga mulai menurun karena ke depan pembangunan jaringan baru sudah direm," jelasnya.
Terkait pernyataan yang mengakomodir asing, Heru juga ikut menyesalkan sikap dari pejabat negara yang terlalu mengagungkan investor asing. Sebab, menurutnya, investor asing yang masuk ke sektor telekomunikasi tidak menjamin membawa uang segar ke sektor riil.
"Pihak yang diuntungkan adalah pengusaha yang sahamnya dibeli oleh asing. Sedangkan pencarian dana untuk ekspansi tak jauh dari pasar lokal seperti bank atau bursa lokal," tandasnya.
( rou / eno )
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Baca Juga
Berita Terbaru
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 18:58 WIB
Indosat Siap Luncurkan Mobile Cloud
-
Rabu, 23/05/2012 12:38 WIB
Telkom Kembangkan e-Gov Berbasis Cloud
-
Rabu, 23/05/2012 11:12 WIB
Tender 3G Bisa Kembali Diundur Agar Tak Cacat Hukum
-
Senin, 21/05/2012 09:59 WIB
Kolom Telematika
Fenomena Social Networking
-
Senin, 21/05/2012 09:10 WIB
Lippo Luncurkan Satelit
-
Sabtu, 19/05/2012 14:26 WIB
Zuck Lebih Kaya dari Duo Pendiri Google
-
Sabtu, 19/05/2012 13:27 WIB
Duh, Angkasa Pura I Belum Miliki Izin Stasiun Radio
-
Sabtu, 19/05/2012 10:29 WIB
Musibah Sukhoi
Kominfo Enggan Berspekulasi Soal Interferensi Frekuensi
- Jumat, 25/05/2012 10:51 WIB
Nasib BlackBerry Messenger Suram?
- Jumat, 25/05/2012 16:07 WIB
6 Ponsel Nokia Terpopuler
- Jumat, 25/05/2012 09:03 WIB
Lucu! Pencuri iPhone Kirim Foto Dirinya ke Facebook Korban
- Jumat, 25/05/2012 10:19 WIB
Tips Mengubah Kontak di BlackBerry Menjadi Excel
- Jumat, 25/05/2012 13:23 WIB
Android Makin Kuasai Dunia
- Jumat, 25/05/2012 11:19 WIB
Sosok
I Made Wiryana, Anak Band yang Jadi 'Cyber Paspampres'
- Jumat, 25/05/2012 16:46 WIB
Pengakses Internet Masih Banyak dari Nokia
- Jumat, 25/05/2012 11:40 WIB
RIM Bantah Abaikan BlackBerry Messenger
- Jumat, 25/05/2012 14:57 WIB
Google Didesak Tutup Keran Download Ilegal
-
199 Komentar
-
84 Komentar
-
75 Komentar
-
67 Komentar
-
63 Komentar
-
63 Komentar
-
54 Komentar
-
53 Komentar
-
48 Komentar
Pro Kontra
Index »
Galaxy S III Smartphone Terbaik Saat Ini?
Pro
Kontra
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





Sending your message



.jpg)
.gif)

