Berita Utama
-
Jumat, 25/05/2012 17:21 WIB
Warga Twitter Puji Dedikasi 'Satpam Digital'
-
Jumat, 25/05/2012 16:07 WIB
6 Ponsel Nokia Terpopuler
-
Jumat, 25/05/2012 15:19 WIB
5 Casing iPhone yang Punya 'Gigi' Pembuka Botol
-
Jumat, 25/05/2012 11:19 WIB
I Made Wiryana, Anak Band yang Jadi 'Cyber Paspampres'
-
Jumat, 25/05/2012 12:52 WIB
Mencicipi Facebook Camera: Instagram ala Facebook
-
Jumat, 25/05/2012 10:19 WIB
Tips Mengubah Kontak di BlackBerry Menjadi Excel
-
Kamis, 24/05/2012 15:37 WIB
Negara Mana 'Raja' Internet ASEAN?
-
Kamis, 24/05/2012 12:12 WIB
5 'Nenek Moyang' Smartphone Android
-
Kamis, 24/05/2012 11:15 WIB
Waspadai Email Palsu dari 'Facebook'
Bisnis Menara Belum Diputuskan untuk Asing
Jumat, 12/03/2010 07:04 WIB

Menara BTS (rou/inet)
Jakarta - Pengusaha lokal nampaknya masih belum bisa lepas dari rasa cemas. Sebab, revisi Perpres No. 111/2007 yang mengatur daftar negatif investasi (DNI) soal menara masih belum menemukan titik temu. Namun harapan selalu ada.
"Soal menara dalam revisi DNI belum diputuskan, masih dibicarakan," kata Menkominfo Tifatul Sembiring usai menghadiri pentas budaya Malaysia di Gedung Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta, Kamis malam (11/3/2010).
Belum adanya titik temu dalam perebutan hak ini, menurut dia, karena sebagian kalangan menghendaki porsi bisnis menara tetap diprioritaskan untuk pengusaha lokal saja. Sementara di sisi lain, ada yang ingin porsinya sebagian dibuka untuk pemodal asing.
Akibatnya, tarik ulur kepentingan bisnis ini masih memerlukan pembahasan lebih lanjut. "Soal investasi asing di menara sedang kami diskusikan. Sebab, semua Capex (capital expenditure)--yang berputar di bisnis telekomunikasi--Rp 70-80 triliun itu 92%-nya (sudah diserap) asing," kata menteri.
"BTS (menara telekomunikasi, red) ini kemungkinan masih bisa kita kelola secara lokal, karena teknologi ini kan sederhana. Hanya pondasi besi-besi, tiang, dan sebagainya. Kalau ini juga seluruhnya dijual ke asing, apa bagian untuk produksi lokal indonesia?" keluh Tifatul.
Keinginan Menkominfo kali ini sejalan dengan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) dan Asosiasi Pengembang Infrastruktur Menara Telekomunikasi (Aspimtel) yang menolak tegas masuknya asing di sektor bisnis menara telekomunikasi.
Meski sejatinya, asing sendiri sudah ikut mencicipi bisnis menara lewat kepemilikan saham di tubuh operator, namun asing nampaknya masih ingin terus menguasai lebih banyak lagi di bisnis menara yang selama ini diproteksi untuk pengusaha lokal.
Wajar saja jika kali ini pengusaha lokal dibela. Sebab, dari seluruh perangkat telekomunikasi yang kita gunakan sehari-hari, bisa dibilang hampir seluruhnya produk buatan asing. Porsi lokal jelas tidak ada apa-apanya mengingat nilai bisnis telekomunikasi di Indonesia setiap tahunnya bisa menyentuh Rp 80 triliun.
Jelas saja jika pengusaha lokal, khususnya yang tergabung dalam kelompok Aspimtel, mulai ketakutan. Sebab, jika sumbat keran asing itu jadi dibuka, maka tak ada lagi bisnis telekomunikasi di Indonesia yang tak dijamah dan dijajah asing.
Ide untuk membuka keran asing di sektor menara ini semula dilontarkan oleh Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan, lewat usulannya dalam revisi Perpres No. 111/2007 yang mengatur DNI. Jika aturan ini disetujui presiden, maka asing dibolehkan untuk menguasai bisnis menara hingga 51% lebih.
Gita sendiri sebelumnya sempat mengungkap alasan mengapa asing diberi peluang untuk ikut menggarap bisnis menara. Pertimbangannya antara lain masih besarnya kebutuhan investasi di sektor usaha tersebut.
Menurutnya, sektor menara membutuhkan investasi Rp 8 triliun per tahun untuk memenuhi kapasitas cakupan layanan telekomunikasi. Pemenuhan investasi ini dinilai membutuhkan bantuan modal asing, meski belakangan dibantah oleh Aspimtel yang merasa modal itu masih bisa dipenuhi sendiri oleh pengusaha lokal.
( rou / rou )
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
"Soal menara dalam revisi DNI belum diputuskan, masih dibicarakan," kata Menkominfo Tifatul Sembiring usai menghadiri pentas budaya Malaysia di Gedung Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta, Kamis malam (11/3/2010).
Belum adanya titik temu dalam perebutan hak ini, menurut dia, karena sebagian kalangan menghendaki porsi bisnis menara tetap diprioritaskan untuk pengusaha lokal saja. Sementara di sisi lain, ada yang ingin porsinya sebagian dibuka untuk pemodal asing.
Akibatnya, tarik ulur kepentingan bisnis ini masih memerlukan pembahasan lebih lanjut. "Soal investasi asing di menara sedang kami diskusikan. Sebab, semua Capex (capital expenditure)--yang berputar di bisnis telekomunikasi--Rp 70-80 triliun itu 92%-nya (sudah diserap) asing," kata menteri.
"BTS (menara telekomunikasi, red) ini kemungkinan masih bisa kita kelola secara lokal, karena teknologi ini kan sederhana. Hanya pondasi besi-besi, tiang, dan sebagainya. Kalau ini juga seluruhnya dijual ke asing, apa bagian untuk produksi lokal indonesia?" keluh Tifatul.
Keinginan Menkominfo kali ini sejalan dengan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) dan Asosiasi Pengembang Infrastruktur Menara Telekomunikasi (Aspimtel) yang menolak tegas masuknya asing di sektor bisnis menara telekomunikasi.
Meski sejatinya, asing sendiri sudah ikut mencicipi bisnis menara lewat kepemilikan saham di tubuh operator, namun asing nampaknya masih ingin terus menguasai lebih banyak lagi di bisnis menara yang selama ini diproteksi untuk pengusaha lokal.
Wajar saja jika kali ini pengusaha lokal dibela. Sebab, dari seluruh perangkat telekomunikasi yang kita gunakan sehari-hari, bisa dibilang hampir seluruhnya produk buatan asing. Porsi lokal jelas tidak ada apa-apanya mengingat nilai bisnis telekomunikasi di Indonesia setiap tahunnya bisa menyentuh Rp 80 triliun.
Jelas saja jika pengusaha lokal, khususnya yang tergabung dalam kelompok Aspimtel, mulai ketakutan. Sebab, jika sumbat keran asing itu jadi dibuka, maka tak ada lagi bisnis telekomunikasi di Indonesia yang tak dijamah dan dijajah asing.
Ide untuk membuka keran asing di sektor menara ini semula dilontarkan oleh Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan, lewat usulannya dalam revisi Perpres No. 111/2007 yang mengatur DNI. Jika aturan ini disetujui presiden, maka asing dibolehkan untuk menguasai bisnis menara hingga 51% lebih.
Gita sendiri sebelumnya sempat mengungkap alasan mengapa asing diberi peluang untuk ikut menggarap bisnis menara. Pertimbangannya antara lain masih besarnya kebutuhan investasi di sektor usaha tersebut.
Menurutnya, sektor menara membutuhkan investasi Rp 8 triliun per tahun untuk memenuhi kapasitas cakupan layanan telekomunikasi. Pemenuhan investasi ini dinilai membutuhkan bantuan modal asing, meski belakangan dibantah oleh Aspimtel yang merasa modal itu masih bisa dipenuhi sendiri oleh pengusaha lokal.
( rou / rou )
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Baca Juga
Berita Terbaru
Index »
-
Rabu, 23/05/2012 18:58 WIB
Indosat Siap Luncurkan Mobile Cloud
-
Rabu, 23/05/2012 12:38 WIB
Telkom Kembangkan e-Gov Berbasis Cloud
-
Rabu, 23/05/2012 11:12 WIB
Tender 3G Bisa Kembali Diundur Agar Tak Cacat Hukum
-
Senin, 21/05/2012 09:59 WIB
Kolom Telematika
Fenomena Social Networking
-
Senin, 21/05/2012 09:10 WIB
Lippo Luncurkan Satelit
-
Sabtu, 19/05/2012 14:26 WIB
Zuck Lebih Kaya dari Duo Pendiri Google
-
Sabtu, 19/05/2012 13:27 WIB
Duh, Angkasa Pura I Belum Miliki Izin Stasiun Radio
-
Sabtu, 19/05/2012 10:29 WIB
Musibah Sukhoi
Kominfo Enggan Berspekulasi Soal Interferensi Frekuensi
- Jumat, 25/05/2012 10:51 WIB
Nasib BlackBerry Messenger Suram?
- Jumat, 25/05/2012 16:07 WIB
6 Ponsel Nokia Terpopuler
- Jumat, 25/05/2012 09:03 WIB
Lucu! Pencuri iPhone Kirim Foto Dirinya ke Facebook Korban
- Jumat, 25/05/2012 10:19 WIB
Tips Mengubah Kontak di BlackBerry Menjadi Excel
- Jumat, 25/05/2012 13:23 WIB
Android Makin Kuasai Dunia
- Jumat, 25/05/2012 11:19 WIB
Sosok
I Made Wiryana, Anak Band yang Jadi 'Cyber Paspampres'
- Jumat, 25/05/2012 16:46 WIB
Pengakses Internet Masih Banyak dari Nokia
- Jumat, 25/05/2012 11:40 WIB
RIM Bantah Abaikan BlackBerry Messenger
- Jumat, 25/05/2012 14:57 WIB
Google Didesak Tutup Keran Download Ilegal
-
199 Komentar
-
84 Komentar
-
75 Komentar
-
67 Komentar
-
63 Komentar
-
63 Komentar
-
54 Komentar
-
53 Komentar
-
48 Komentar
Pro Kontra
Index »
Galaxy S III Smartphone Terbaik Saat Ini?
Pro
Kontra
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





Sending your message



.jpg)
.gif)

