Berita Utama
-
Jumat, 25/05/2012 17:21 WIB
Warga Twitter Puji Dedikasi 'Satpam Digital'
-
Jumat, 25/05/2012 16:07 WIB
6 Ponsel Nokia Terpopuler
-
Jumat, 25/05/2012 15:19 WIB
5 Casing iPhone yang Punya 'Gigi' Pembuka Botol
-
Jumat, 25/05/2012 11:19 WIB
I Made Wiryana, Anak Band yang Jadi 'Cyber Paspampres'
-
Jumat, 25/05/2012 12:52 WIB
Mencicipi Facebook Camera: Instagram ala Facebook
-
Jumat, 25/05/2012 10:19 WIB
Tips Mengubah Kontak di BlackBerry Menjadi Excel
-
Kamis, 24/05/2012 15:37 WIB
Negara Mana 'Raja' Internet ASEAN?
-
Kamis, 24/05/2012 12:12 WIB
5 'Nenek Moyang' Smartphone Android
-
Kamis, 24/05/2012 11:15 WIB
Waspadai Email Palsu dari 'Facebook'
Menggelitik Jati Diri Gamer Tanah Air
Jumat, 26/02/2010 14:34 WIB

Nusantara Online
Jakarta - Kehadiran Nusantara Online sebagai game yang berkisah tentang kerajaan-kerajaan di Tanah Air bisa dibilang menantang arus. Sebab mereka harus mendobrak dominasi game-game asing yang sudah lebih dulu mencekoki gamer lokal dengan cerita fantasinya.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apakah game MMORPG pertama buatan Indonesia ini bisa menangguk sukses? Pembuatnya menjawab optimistis tantangan tersebut. Kuncinya, jati diri rakyat Indonesia tak bisa dihilangkan meski sudah mengkonsumsi berbagai produk asing.
Sigit Widodo, PT Nusantara Wahana Komunika selaku publisher game ini menuturkan, sejak awal dalam penggarapan Nusantara Online, pihaknya sudah disangsikan akan berhasil oleh beberapa pihak.
"Banyak yang bilang gak akan laku, lebih baik bikin game fantasi saja atau membeli lisensi game Korea, pasti lebih mudah laku," ujarnya ketika ditemui di mal Artha Gading, Jakarta.
Pun demikian, lanjut Sigit, ia dan timnya punya idealisme sendiri. Yakni untuk menjaga sejarah dan kebudayaan Indonesia, jangan sampai hilang seiring serbuan konten-konten asing.
"Tapi kita juga telah melakukan riset secara bisnis, dan ada pasar yang menanti game dengan cerita-cerita Indonesia. Dan saat ini alternatif itu belum ada. Makanya kita berani mengeluarkan anggaran sampai Rp 4 miliar sejak dari pengembangan," ujarnya.
"Kita optimistis game ini akan diterima oleh pasar. Sejak dikenalkan kepada publik, setiap hari ada puluhan email dan komentar di Facebook yang menanyakan perkembangan game ini. Kami yakin, karakter dan jalan cerita yang asli Indonesia akan dengan mudah diterima oleh masyarakat, termasuk generasi muda," lanjut Sigit.
Optimisme serupa juga dihembuskan I Made Wiryana yang turut serta dalam pengujian Nusantara Online. Menurutnya, setiap orang itu suatu saat akan kembali kepada jati diri alias asal usulnya.
Misalnya, beberapa tahun lalu baju batik identik hanya dipakai untuk datang ke suatu acara perkawinan. Namun kini, batik banyak digunakan di dunia perkantoran. Jadi pelan-pelan, masyarakat kembali ke nilai-nilai tradisionalnya.
"Begitu pula dengan dunia game, selama ini gamer Indonesia memang menggemari game buatan asing. Namun saya yakin 1, 2, atau 3 tahun lagi mereka akan kembali mencari game lokal," tukasnya.
Teknologi Bukan Utama
Masih kalahnya teknologi animasi yang diusung game lokal dibandingkan buatan studio asing juga dianggap tak terlalu memiliki peran penting.
Made mengatakan, beberapa waktu lalu Nusantara Online pernah dikomentari oleh seorang profesor game dari Tokyo. Profesor itu lalu mengatakan bahwa game ini memiliki potensi karena memiliki cerita dan karakter yang kuat.
"Jadi teknologi kita memang kalah, tapi di game itu bukan yang utama. Kita memiliki kelebihan dari karakter, desain, dan kedekatan dengan publik dari game ini," tandas Made.
"Selain itu, kalau kita menggunakan game dengan animasi grafis yang tinggi sekalipun itu akan percuma. Sebab di Indonesia masih terhadang koneksi internet yang terbatas," pungkasnya.
( ash / ash )
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apakah game MMORPG pertama buatan Indonesia ini bisa menangguk sukses? Pembuatnya menjawab optimistis tantangan tersebut. Kuncinya, jati diri rakyat Indonesia tak bisa dihilangkan meski sudah mengkonsumsi berbagai produk asing.
Sigit Widodo, PT Nusantara Wahana Komunika selaku publisher game ini menuturkan, sejak awal dalam penggarapan Nusantara Online, pihaknya sudah disangsikan akan berhasil oleh beberapa pihak.
"Banyak yang bilang gak akan laku, lebih baik bikin game fantasi saja atau membeli lisensi game Korea, pasti lebih mudah laku," ujarnya ketika ditemui di mal Artha Gading, Jakarta.
Pun demikian, lanjut Sigit, ia dan timnya punya idealisme sendiri. Yakni untuk menjaga sejarah dan kebudayaan Indonesia, jangan sampai hilang seiring serbuan konten-konten asing.
"Tapi kita juga telah melakukan riset secara bisnis, dan ada pasar yang menanti game dengan cerita-cerita Indonesia. Dan saat ini alternatif itu belum ada. Makanya kita berani mengeluarkan anggaran sampai Rp 4 miliar sejak dari pengembangan," ujarnya.
"Kita optimistis game ini akan diterima oleh pasar. Sejak dikenalkan kepada publik, setiap hari ada puluhan email dan komentar di Facebook yang menanyakan perkembangan game ini. Kami yakin, karakter dan jalan cerita yang asli Indonesia akan dengan mudah diterima oleh masyarakat, termasuk generasi muda," lanjut Sigit.
Optimisme serupa juga dihembuskan I Made Wiryana yang turut serta dalam pengujian Nusantara Online. Menurutnya, setiap orang itu suatu saat akan kembali kepada jati diri alias asal usulnya.
Misalnya, beberapa tahun lalu baju batik identik hanya dipakai untuk datang ke suatu acara perkawinan. Namun kini, batik banyak digunakan di dunia perkantoran. Jadi pelan-pelan, masyarakat kembali ke nilai-nilai tradisionalnya.
"Begitu pula dengan dunia game, selama ini gamer Indonesia memang menggemari game buatan asing. Namun saya yakin 1, 2, atau 3 tahun lagi mereka akan kembali mencari game lokal," tukasnya.
Teknologi Bukan Utama
Masih kalahnya teknologi animasi yang diusung game lokal dibandingkan buatan studio asing juga dianggap tak terlalu memiliki peran penting.
Made mengatakan, beberapa waktu lalu Nusantara Online pernah dikomentari oleh seorang profesor game dari Tokyo. Profesor itu lalu mengatakan bahwa game ini memiliki potensi karena memiliki cerita dan karakter yang kuat.
"Jadi teknologi kita memang kalah, tapi di game itu bukan yang utama. Kita memiliki kelebihan dari karakter, desain, dan kedekatan dengan publik dari game ini," tandas Made.
"Selain itu, kalau kita menggunakan game dengan animasi grafis yang tinggi sekalipun itu akan percuma. Sebab di Indonesia masih terhadang koneksi internet yang terbatas," pungkasnya.
( ash / ash )
Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Baca Juga
Berita Terbaru
Index »
-
Sabtu, 26/05/2012 14:45 WIB
Main Videogames Bisa Bikin Anak Balita Mimpi Buruk
-
Kamis, 24/05/2012 17:12 WIB
Sepekan, Diablo III Laku 6,3 Juta Kopi
-
Kamis, 24/05/2012 08:48 WIB
Jagoan Avengers Pamer Kebolehan di Trailer Game Marvel
-
Rabu, 23/05/2012 13:07 WIB
7 Pilihan Game untuk Ponsel Low End
-
Selasa, 22/05/2012 11:32 WIB
16 Game iPhone yang Wajib Dimainkan
-
Senin, 21/05/2012 17:30 WIB
Ini Dia Bocoran Kontroler Wii U yang Baru
-
Kamis, 17/05/2012 14:35 WIB
Bos Tak Suka Karyawan Main Angry Birds
-
Rabu, 16/05/2012 15:11 WIB
5 Game Android dengan Grafis Berkualitas
- Sabtu, 26/05/2012 17:54 WIB
Tablet Google Dipamerkan Bulan Depan
- Sabtu, 26/05/2012 12:48 WIB
Karyawan Yahoo Ramai-ramai Puji Axis di App Store
- Sabtu, 26/05/2012 10:27 WIB
Sensor 16 MP OmniVision Mampu Rekam Video 4K
- Jumat, 25/05/2012 10:51 WIB
Nasib BlackBerry Messenger Suram?
- Sabtu, 26/05/2012 13:19 WIB
Siri Dibenamkan di OS X Mountain Lion?
- Jumat, 25/05/2012 16:07 WIB
6 Ponsel Nokia Terpopuler
- Sabtu, 26/05/2012 15:36 WIB
Rumor: FIFA 2013 'Kick-off' September 2012
- Jumat, 25/05/2012 09:03 WIB
Lucu! Pencuri iPhone Kirim Foto Dirinya ke Facebook Korban
- Jumat, 25/05/2012 10:19 WIB
Tips Mengubah Kontak di BlackBerry Menjadi Excel
-
222 Komentar
-
84 Komentar
-
80 Komentar
-
64 Komentar
-
63 Komentar
-
57 Komentar
-
57 Komentar
-
54 Komentar
-
48 Komentar
Pro Kontra
Index »
Galaxy S III Smartphone Terbaik Saat Ini?
Pro
Kontra
- detikNews · Berita · Internasional · Kolom · Wawancara · Lapsus · Tokoh · Pro Kontra · Profil · Indeks
- detikSport · Basket · MotoGP · F1 · Raket · Sepakbola · Sport Lain · Galeri · Profil · Fans Area · Indeks
- Sepakbola · Italia · Inggris · Spanyol · Jerman · Indonesia · Uefa · Bola Dunia · Fans Area · Indeks
- detikOto · Mobil · Motor · Modifikasi · Tips & Trik · Konsultasi · Komunitas · OtoTest · Galeri · Video · Forum · Indeks
- detikHot · Celebs · Music · Movie · Art · Gallery · Profile · KPOP · Forum · Indeks
- detikInet · News · Gadget · Games · Fotostop · Klinik IT · Ngopi · Produk Pilihan · Forum · Indeks
- detikFinance · Ekonomi Bisnis · Finansial · Properti · Energi · Industri · Sosok · Peluang Usaha · Pajak · Konsultasi · Foto · TV · Indeks
- detikHealth · Hidup Sehat · Obat & Penyakit · Ibu & Anak · Berita · Konsultasi · Bank Nama Bayi · Forum · Indeks
- detikTravel · ACI · Happy Holiday · Stories · Destination · Photos · d'Travelers · d'Trips · Hotels ·Flights · Deals · Directories · Index
- Wolipop · Fashion · Photos · Beauty · Love & Sex · Home & Family · Wedding · Entertainment · Sale & Shop · Hot Guide · d'Lounge · Indeks
- detikFood · Resep · Tempat Makan · Kabar Kuliner · Halal · Komunitas · Forum · Konsultasi · Galeri · Indeks
- detikSurabaya · Berita · Bisnis · Society · Foto · TV · Indeks
- detikBandung · News · Sosok · Info · Pengalaman Anda · Lifestyle · Iklan Baris · Foto · TV · Info Iklan · Forum · Indeks
Iklan Baris · Blog · Forum · Kolom Kita · adPoint · Seremonia · Sindikasi · Info Iklan · Suara Pembaca · Surat dari Buncit · detikTV · Cari Alamat
Copyright © 2012 detikcom, All Rights Reserved · Redaksi · Karir · Kotak Pos · Info Iklan · Disclaimer





Sending your message



.jpg)

