detikinet

Pornografi Anak Online Meledak di Jepang

Fino Yurio Kristo - detikinet
Kamis, 18/02/2010 17:17 WIB

Ilustrasi (afp)

Tokyo - Peredaran pornografi anak online bikin pusing sejumlah negara, tak terkecuali Jepang. Bahkan di negara berjuluk Matahari Terbit ini, telah terjadi lonjakan signifikan kasus pornografi anak.

Polisi di Tokyo memaparkan, mereka telah melakukan tindakan terhadap 935 kasus pornografi anak pada tahun 2009. Jumlah itu berarti peningkatan sebesar 38 persen dari tahun sebelumnya.

Melihat statistik yang ditunjukkan kepolisian Jepang, memang tampak kegandrungan pada konten terlarang itu kian besar. Sebanyak 411 anak di sana jadi korban kebiadaban para penjahat seks.

Total ada 650 tersangka yang diproses di pengadilan. Parahnya, belasan dari mereka adalah para orang tua yang tega mengeksploitasi anaknya sendiri.

Tentu saja hal itu memicu keprihatinan tersendiri mengingat Jepang termasuk negara dengan tingkat kejahatan terendah di dunia. Namun memang soal pornografi anak, negara ini kerap dikritik.

Di negara Sakura itu, sah-sah saja bagi orang untuk memiliki konten pornografi anak meski produksi atau distribusinya dilarang. Jepang juga sering dituding jadi pemasok konten semacam itu.

Dilansir AFP dan dikutip detikINET, Kamis (18/2/2010), pemerintah setempat pun mengambil langkah sigap. Mereka sedang mengolah rancangan peraturan untuk meminimalisir kasus pornografi anak.
( fyk / faw )

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Share:

Komentar (0 Komentar)


    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login


    Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    Pro Kontra Index »

    Galaxy S III Smartphone Terbaik Saat Ini?

    Performa Galaxy S III terbilang menjanjikan. Ia mengusung quadcore, layar Gorilla Glass 2, serta fitur melimpah. Tak pelak, Samsung mengklaim Galaxy S III sebagai smartphone terbaik saat ini. Anda setuju?
    Pro
    50%
    Kontra
    50%