detikinet

Operator Ponsel Diminta Berantas Nomor Prostitusi

Fino Yurio Kristo - detikinet
Selasa, 18/08/2009 11:05 WIB

sex phone (ist)

London - Perusahaan operator ponsel di Inggris diminta untuk memblokir nomor telepon para pelaku prostitusi. Ini terkait upaya Inggris untuk menekan perdagangan wanita jelang Olimpiade 2012 di London.

Iklan-iklan seks berikut nomor telepon memang bertebaran di berbagai tempat di negeri ratu Elizabeth itu. Rupanya, para geng kriminal mengeruk keuntungan dengan menjebak para wanita dari mancanegara agar datang ke Inggris, namun ujung-ujungnya dijadikan budak seks.

"Walikota ingin adanya kesepakatan antara operator mobile dengan polisi agar nomor-nomor itu diblokir secepatnya, untuk memotong sumber pendapatan utama dari para geng tersebut," ungkap Kit Malhouse, pejabat di kantor walikota London.

Dikutip detikINET dari Guardian, Selasa (18/8/2009), riset menunjukkan bahwa perhelatan Olimpiade memang sering mendongkrak angka prostitusi tuan rumah. Misalnya di Olimpiade Athena 2004, jumlah perdagangan wanita di Yunani meningkat hampir 2 kali lipat daripada sebelumnya.

"Di tahun 2012, kami ingin kota kami jadi teladan dunia. Tapi kami memerlukan komitmen dari operator mobile untuk melawan pelecehan wanita. Kami ingin perusahaan seperti Vodafone, Orange, O2, Virgin, T-Mobile mempersulit para pelaku dengan memblokir nomor bisnis mereka," pungkas Malhouse.

( fyk / faw )

Tetap update informasi di manapun dengan http://m.detik.com dari browser ponsel anda!
Share:

Komentar (0 Komentar)


    Klik disini untuk berkomentar menggunakan account anda :

    Facebook Login Twitter Login detikID Login


    Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
    Informasi pemasangan iklan
    hubungi : sales[at]detik.com
    Pro Kontra Index »

    Galaxy S III Smartphone Terbaik Saat Ini?

    Performa Galaxy S III terbilang menjanjikan. Ia mengusung quadcore, layar Gorilla Glass 2, serta fitur melimpah. Tak pelak, Samsung mengklaim Galaxy S III sebagai smartphone terbaik saat ini. Anda setuju?
    Pro
    51%
    Kontra
    49%